SIKAP MENTAL & SOSIAL SEORANG AJIP DI TENGAH POLEMIK KELUARGA YANG BERANTAKAN AKIBAT PERCERAIAN DALAM KUMPULAN CERPEN DI TENGAH KELUARGA KARYA AJIP ROSIDI

 

SIKAP MENTAL & SOSIAL SEORANG AJIP DI TENGAH POLEMIK KELUARGA YANG BERANTAKAN AKIBAT PERCERAIAN DALAM KUMPULAN CERPEN DI TENGAH KELUARGA KARYA AJIP ROSIDI

Makalah ini ditujukan untuk tugas mata kulian “Kajian Sastra”

Dosen Pengampu:

Rosida Erowati, M.Hum

Novi Diah Haryanti, M.,Hum

Disusun oleh

Aof Apdillah

Muzzamilah Z.

Sihabul Huda

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Later Belakang Masalah

Kumpulan cerpen Di Tengah Keluarga lebih tepatnya disebut autobiografi seorang Ajip Rosidi. Mengangkat kisah kehidupan seorang Ajip dari kecil hingga beranjak remaja dengan segala permasalahan sosial yang timbul pada zaman pendudukan Jepang, pascakemerdekaan dan pada saat agresi militer Belanda. Pandangan-pandangan subjektif dari seorang Ajip Rosidi jelas tergambar dalam kumpulan cerpen ini, mengenai keluarga, kehidupan masyarakat desa dan kota, dan sekelumit masalah sosial yang terjadi pada masa itu.

Dalam kaitannya dengan pendekatan yang akan kami pakai, Di Tengah Keluarga akan kami analisis dengan menggunakan pendekatan ekpresif. Di mana pendekatan ekspresif berhubungan erat dengan kajian sastra sebagai karya yang dekat dengan sejarah, terutama sejarah yang berhubungan dengan kehidupan pengarangnya. Dalam kaitan ini maka dibahaslah latar belakang kehidupan pengarang, daerah kelahirannya, latar belakang sosial ekonomi, latar belakang pendidikannya, pengalaman-pengalaman penting yang pernah dilewatinya, dan lain-lain. Karya sastra dianggap sebagai pancaran kepribadian pengarang. Gerak jiwa, pengembaraan imajinasi dan fantasi pengarang yang terlukis dalam karyanya.

Kumpulan cerpen “Di Tengah Keluarga” menampilkan sekumpulan cerita dari sosok Ajip yang sedari kecil sudah di hadapkan pada masalah-masalah keluarga yang rumit akibat perceraian. Latar belakang sosial, ekonomi dan tempat kejadian cerita, secara teratur dan terangkum dalam cerpen ini. Sehingga tepat kiranya apabila “Di Tengah Keluarga” akan kami kaji dengan pendekatan ekpresif dengan mengungkap  sosok Ajip serta fakta-fakta sosial yang berkembang di masyarakat pada waktu itu.

1.2.Rumusan masalah

Rumusan masalah yang akan kami hadirkan dalam kajian ini adalah tentang bagaiman kepekaan seorang tokoh Ajip terhadap persoalan kehidupan sosial di sekitarnya.

1.3.Landasan Teori

Penelitian yang menggunakan pendekatan ekspresif, seperti dilontarkan oleh Abrams (1976), ialah penelitian karya sastra yang menekankan peranan penulis karya sastra sebagai penciptanya. Penelitian yang menggunakan teori ini perlu dikaji ulang dalam kaitannya dengan teori interpretasi. Abrams menjelaskan bahwa pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai pernyataan dunia batin pengarang yang bersangkutan. Jika dibayangkan bahwa segala gagasan, cita rasa, emosi, ide, dan angan-angan merupakan ‘dunia dalam’ pengarang, karya sastra merupakan ‘dunia luar’ yang bersesuaian dengan ‘dunia dalam’ itu; dengan cara pendekatan ini, penilaian karya sastra tertuju pada emosi atau keadaan jiwa pengarang. Karya sastra dianggap sebagai sarana untuk memahami keadaan jiwa pengarang, atau sebaliknya.

Kumpulan cerpen “Di Tengah Keluarga” (Balai Pustaka 1956) merupakan salah satu di antara empat buku kumpulan cerpen di awal karier kepengarangan Ajip Rosidi tahun 1950-1960-an. Menurut pandangan Jassin (1967:84) ‘Di Tengah Keluarga’ merupakan biografi pengarang sendiri dengan segala suka dukanya pada usia 17-an tahun. Maka wajar kata Jassin kalau di dalamnya masih terdapat kekenesan pengarang karena Ajip belum begitu berhasil mengangkat persoalan-persoalan pribadinya ketingkat semesta. Sementara itu, di mata Korrie Layun Rampan (2005:256) dalam Yudiono (2007:155), cerpen-cerpen Ajip memang berpotensi sebagai pendukung ketokohannya dalam jagat cerpen Indonesia.  Beberapa ciri yang diperlihatkan Korrie adalah (1) pandangan dunia kanak-kanak terhadap kehidupan, (2) sifat keakuan yang dijabarkan secara biografis, penggabungan berbagai unsur, seperti humor, romance, ironi dan tragedi dalam satu cerita, (3) penggunaan satir sebagai sarana mengkritik keadaan yang bobrok di dalam masyarakat, dan (4) karya sastra sebagai kesaksian hidup.

Menyimak pendapat dari beberapa pakar di atas, kiranya tepat sekali jika kami di sini mencoba mengkaji karya Ajip Rosidi ini dengan pendekatan ekpresif. Di mana pendekatan ekpresif lebih menitikberatkan pada latar belakang dan sosiokultural si pengarang.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sinopsis

“Di Tengah Keluarga” merupakan judul dan subjudul dalam kumpulan cerpen Ajip Rosidi yang terbit pada tahun 1956. Kumpulan cerpen setebal 147 halaman ini memuat kisah kehidupan seorang Ajip dari mulai kanak-kanak hingga mulai beranjak remaja yang penuh suka dan duka. Terdiri dari dua bagian, yang pertama berjudul Hari-Hari Punya Malam  terdiri dari enam cerpen, yang berisikan kedukaan hidup seorang Ajip Rosidi yang berada di antara dua keluarga yang berantakan akibat perceraian. Hingga jadilah Ajip seorang anak yang besar di antara kekacauan keluarga tersebut.

Menjadi putra sulung dan cucu sulung dari keluarga ayahnya, menjadikan Ajip punya tanggungan hidup lebih besar bahwa kelak dia harus sukses dan sanggup membahagiakan ibu dan kakek-neneknya karena ayah Ajip lebih perhatian terhadap istrinya, yaitu ibu tiri Ajip yang dikenal kejam dan tidak berperikemanusiaan sehingga benih-benih kebencian pun semakin tumbuh dalam diri seorang Ajip. Bagaimana tidak, ayah yang mempunyai pangkat sebagai seorang guru yang gajinya cukup untuk menghidupi 4 keluarga (sebagaimana diceritakan dalam cerpen) dengan tega menelantarkan anak dan orangtuanya sendiri sehingga wajar kalau nenek Ajip pernah berujar bahwa mungkin ayah Ajip telah terkena guna-guna oleh ibutirinya tersebut sehingga ayah Ajip sangat penurut sekali mengikuti segala kemauan sang istri (ibu tiri ajip)

Tjerita itu semua kudengar dari mulut kakek sendiri, jang selalu menjeloteh djika aku datang. Tjerita jang lebih merupakan protesan. Djeritan dari orangtua jang disia-siakan anaknja – anak jang dia sekolahkan mati-matian,… (Kutukan, 1956: 64)

Sudah sedjak dulu, djika aku sekali datang berkundjung kerumah kakek, mesti sadja mendengar laporan-laporan berupa keluhan atas kekedjahan [kekedjaman] ibutiriku, menantunja… (Kutukan, 1956: 67)

Bagian kedua kumpulan cerpen ini diberi judul Hari-Hari Punya Siang, yang berisikan empat cerpen. Dari judulnya sendiri kita mungkin sudah menerka-nerka ada apa dengan pemilihan judul yang terasa amat kontras. Di bagian pertama berjudul “Hari-hari Punja Malam” dan pada bagian kedua  berjudul “Hari-hari Punja Siang”.

Kita tahu bahwa malam identik dengan gelap, siang identik dengan terang dan cerah. Ya, kiranya begitulah perumpamaan yang hendak disampaikan oleh seorang Ajip dalam “Di Tengah Keluarga.” Pada bagian kedua ini berisikan kumpulan kisah masa kanak-kanak Ajip yang disusun secara sederhana sehingga ketika membacanya, pembaca akan dibawa kembali ke masa kanak-kanak. Namun pengisahan tidak luput dari kondisi dan permasalahan sosial pada masa itu.  Ajip mengilustrasikan suasana desa yang digambarkan apa adanya, beserta panorama kampung Cibolerang kewedanaan Jatiwangi Majalengka-Cirebon pada masa itu.

Dalam kumpulan cerpen ini, Ajip dengan cermat menyelipkan beberapa guyonan yang membuat pembaca cukup terhibur (cengar-cengir sendiri). Lihat saja bagaimana Ajip menceritakan ketika dia meminum air yang menggenang di selokan sawah yang terasa hambar. Selidik punya selidik ternyata air itu ada bubuk tainya.

Hangat dan hambar rasanja air itu. Tapi kerongkonganku tak lagi kering kini. Aku minum puas sekali. Sehabis minum kupandangi air yang tinggal, tak banjak lagi. Tjuma setinggi djari tengah. Sambil bermain-main kupermainkan kakiku dalam air jang sudah hangat itu. Karena kukatjau, naiklah semua yang mengendap di dasar air. (Hari Ini aku Punja, 1956: 145)

2.2. Biografi Singkat Pengarang

Ajip Rosidi lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, tanggal 31 Januari 1938. Ajip Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950), Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953), Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat). Ajip Rosidi termasuk salah satu sastrawan Indonesia yang komplit. Ia berkarya dalam bentuk novel, cerpen, puisi, esai, dan drama. Ajip mulai menulis karya-karyanya sejak usia 15 tahun. Dan pada usia tersebut ia sudah menjadi redaktur Suluh Pelajar (1953-1955), Prosa (1955), redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956), majalah Sunda (1965-1967), dan Budaya Jaya (1968-1979). Ajip Rosidi sangat mencintai sastra daerah. Kecintaanny itu diwujudkan dengan menceritakan kembali mitos atau legenda Sunda serta Jawa dalam bahasa Indonesia modern. Aktivitasnya sangat beragam, antara lain redaktur majalah, redaktur penerbit, ketua organisasi pengarang, dosen, peneliti sastra, dan ketua IKAPI.

2.3. Analisis Unsur Intrinsik Kumpulan Cerpen “Di Tengah Keluarga”

Pada bagian pertama kumpulan cerpen ini diberi judul Kekajaanku. Maksud dari Kekayaanku di sini bukan dalam  arti bergelimang harta dengan segala kemewahannya, tapi tiada lain adalah bahwa Ajip mempunyai keluarga yang banyak. Kekayaan dalam ibu tiri, ayah tiri, dan saudara tiri

Ajah kawin lagi dua kali sedjak bertjerai dengan ibu-sedang ibu tiga kali. Dari kedua perkawinannja itu, ajah senantiasa dikaruniai anak. Tapi ibu tidak. Dari ketiga perkawinanja itu, tak seorangpun ia mendapatkan anak. (Di tengah keluarga, 1956:14)

Dan berbanggalah aku kini dengan kekajaan tiriku, karena sekarang aku unja sseorang ibutiri, seorang ajah tiri, beberapa orang saudara tiri, dan seorang kakektiri (suami bunda ibu), dan eorang lagi nenek tiri (istri ayh bapak). Bukankah itu kekajaan yang bukan main? (Kekajaanku, 1956:)

Dalam usianya yang masih kecil Ajip dihadapkan pada persoalan-persoalan yang sangat rumit sehingga membentuk pola perilaku Ajip kedepannya. Dalam cerpen ini juga disebutkan bagaimana ibu tiri Ajip yang sangat pelit dan kejam, yang tidak memperhatikan mertuanya sehingga hidup dalam kesusahan dan tentunya Ajip sendiri sebagai anak tiri dari ayah. Sikap Ajip yang tadinya biasa-biasa saja pada ibu tirinya tersebut berubah menjadi benih-benih kebencian yang semakin hari semakin tumbuh subur. Ditambah lagi mendengar cerita-cerita yang berkembang di masyarakat tentang kejahatan ibu tiri yang suka menggodok anaknya sehingga pandangan Ajip kepada sosok ibu tiri pun secara tidak langsung berubah karena adanya stigma negatif melalui cerita yang berkembang di masyarakat.

Mungkin karena sekarang aku sudah bisa berpikir lebih banjak dari pada dulu, kini aku mempunjai sikap lain terhadap ibu tiri jang baru ini. Tumbuh sadja bentjiku kepadanja…(hlm. 17)

…Mungkin karena sudah banjak buku kubatja dan banjak dongeng kudengar tentang perilaku seorang ibutiri. Ibutiri selalu ditjeritakan suka menggodok anaktirinja, selalu berbuat tak adil terhadap anaktirinja… (Kekajaanku, 1956: 17)

Cerpen kedua diberi judul “di tengah keluarga”. Kiranya judul ini mewakili cerita keseluruhan dari kumpulan cerpen ini di mana ajip memang benar-benar hidup di antara keluarga ayah dan ibu ajip yang sudah berpisah sehingga hidup ajip kadang terlunta-lunta dan tak cukup diperhatikan oleh keduanya. Jadilah ajip mendapatkan perhatian lebih dari sang nenek yang selalu memanjakannya dengan makanan-makanan yang enak terlebih ketika ajip sekolah di kota dan jarang pulang. Seperti terlihat dalam kalimat berikut “aku anak mandja, ini kukemukakan, karena aku menjadari hal itu benar-benar. Dan nenek selalu datang dengan makanan di tangan” (hlm.26)

Keruwetan keluarga Ajip semakin bertambah manakala kakek Ajip (kakek tiri dari ayah tiri Ajip) kawin lagi dengan bibi Ajip. Dengan kondisi yang demikian, semakin komplekslah masalah yang dihadapi Ajip. Di usianya yang masih belia Ajip sudah dihadapkan dengan keadaan keluarga yang boleh dibilang carut marut dan kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya terutama ayahnya. Sikap saling salah menyalahkan antar keduanya (ibu dan ayah kandung Ajip) membuat Ajip berada dalam ketidakpastian dan kebingungan dalam memilih keduanya.

Tentu sadja bisa diduga, bahwa dalam tjerita-tjerita itu ajah kebanjakan  mempersalahkan ibu. Ibu tak mau kawin lagi dengan ajah, walau ajah pernah memintanja. Dulu ketika keduanja masih sama-sama mendjanda: ibu djanda dan ajah duda. Kalau ketika itu ibu tak menolak permintaan ajah tentu keadaan tak akan seperti sekarang. Tentu aku tidak akan punja ibu tiri lagi, tentu keadaan tidak begini…(hlm.31)

Dalam kutipan di atas jelas sekali pandangan subjektif seorang Ajip dalam hal itu dia merasa menjadi korban ketidak adilan karena keegoisan kedua orangtua Ajip. Ibu dengan memilih untuk tidak rujuk kembali dengan ayahnya. Sehingga ada perasaan sakit hati dalam diri si ayah terhadap ibu Ajip yang mengakibatkan penelantaran Ajip.

Hal yang berbeda ketika unek-unek itu diungkapkan kepada ibu Ajip. Ibu Ajip cenderung menyalahkan ayahnya yang tidak bertanggung jawab terhadap Ajip. Di mana Ajip hidup dan dibiayai oleh ibunya. Hal ini diakui sendiri oleh Ajip (hlm.31). Jadilah Ajip seorang yang tidak peduli dan kadang kelihatan egois dan ambisius (lihat di tengah keluarga hlm. 32).

Cerpen selanjutnya yakni ‘Djati Tak Berbunga’. Pada awalnya cerpen ini mendeskripsikan tentang asal-usul Jatiwangi, kenapa sampai dinamakan Jatiwangi? Keadaan sosiokultural masyarakat di sana yang beragam (ada Jawa dan Sunda). Bahkan Ajip sendiri merupakan keturunan dari ayah Sunda dan ibu Jawa. Ajip lebih kerasan dengan bahasa Sunda karena pada waktu itu bahasa Sunda banyak diajarkan di sekolah-sekolah dan juga banyak sekali buku-buku bahasa Sunda yang beredar di perpustakaan.

Namun tidak kalah penting juga bahwa di dalam cerpen ini berkisah tentang buyut Ajip dari keluarga ibunya yang setiap pulang liburan disarankannya Ajip untuk berkunjung ke rumah buyutnya. Di sinilah ketidakpedulian seorang Ajip mulai terlihat. Sampai pada suatu ketika didapatinya buyutnya sudah tiada. Tak sedikitpun Ajip mengeluarkan air mata. Karena menganggapnya sudah biasa.

..Dan ketika aku di Djakarta, datanglah berita: bujut sudah pergi. Aku tertunduk, tapi tak djuga aku menangis-aku tak tahu lagi bagaimana memulai tangis. Aku menganggap itu suatu jang wadjar, lebih dari sewadjarnya malah…(hlm. 43)

Meninggalnya bujut Ajip tak membuatnya sedih ataupun menangis. Bahkan Ajip lebih mengatakan bahwa itu adalah hal yang biasa. Maksud biasa disini adalah karena Ajip sudah jenuh dengan keluhan-keluhan yang ia dapatkan dari sana sini sehingga tiada tempat baginya untuk mencurahkan keluh-kesahnya sendiri.

Pada kumpulan cerpen bagian kedua yang berjudul “Hari-hari Punja Siang” terdapat empat pengisahan, yaitu Seorang Djepang, Temanku Pergi Beladjar, Kodja, dan Hari Ini Aku Punja.

Anak-anak yang digambarkan oleh Ajip dalam kumpulan cerpen bagian kedua ini penuh dengan keriangan, kesedihan, canda, dan kepedulaian seorang anak terhadap teman bermain yang sangat jelas Ajip kisahkan dalam cerpen-cerpen tersebut. Dapat dilihat dalam cerpen Temanku Pergi Beladjar bahwa walaupun kehidupan si teman begitu sulit tapi ia tetap bisa tertawa dan bercanda bersama Ajip, bahkan justru sebaliknya Ajip selalu ia hibur manakala sakit ataupun bersedih ketika diperolokkan.

Aku selalu senang mendengar tjerita-tjeritanja. Dan ia tahu benar memilih tjerita jang bisa menggembirakan. (Temanku Pergi Beladjar, 1956: 101)

Dan muka temanku makin sedih mendengar omongan ibunja itu. Dan ia pun menambahkan beberapa kalimat; ia terpaksa keluar sekolah. (Temanku Pergi Beladjar, 1956: 101)

Bukan sekali sadja aku mentjuri dendeng atau daging buat Minta. (Hari Ini Aku Punja, 1956: 138)

Cerpen ini menekankan kepada tokoh Teman dan tokoh Aku (Ajip) yang dengan jelas digambarkan dengan sosok yang berbeda. Ajip tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga yang mampu, ketimbang tokoh Teman yang tumbuh dalam keluarga miskin. Hal tersebut tentu mempengaruhi kondisi psikis maupun psikologis tokoh.

Ajip menceritakan kisah-kisang manis dengan memberitakan apa yang ia senangi berupa bahan nostalgianya ketika masih kanak-kanak. Pada cerpen pertama Seorang Jepang, mengenai kedatangan seorang Jepang ke tengah-tengah keluarga Ajip. Yang pada awalanya Ajip menyukai kedatangan orang Jepang tersebut karena dengan bangga rumah kakeknya selalu dikunjungi, di tambah ia dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan, karena pemberian dari orang Jepang itu, walaupun sebenarnya dalam lubuk hati Ajip ia sulit menerima kedekatan ibunya dengan Mitsu (orang Jepang). Itulah salah satu karakter anak yang dipaparkan oleh Ajip, dengan keluguan semasa kecilnya. Namun tidak luput dari histori yang berkaitan dengan lingkungan sosialnya, seperti adanya Jepang dan keadaan masyarakat pada masa tersebut.

Dalam kisah bagian kedua persoalan-persoalan tidak terpaparkan secara kompleks. Hal ini dipengaruhi oleh gaya penceritaan yang sederhana. Penggambaran kehidupan kota kecil dan pedesan terilustrasikan secara realistis dan tersaji dengan gaya penceritaan yang biasa.  Cerpen ini juga melukiskan latar secara  intim mengenai kebun tebu, sawah, sungai dan keadaan masyarakat yang ada pada lingkungan Ajip.

Panas masing memanggang. Kami berdjalan diatas petakan sawah jang bengkah-bengkah karena tak ada air jang menjiramnja, tanah jang kering, jang tjuma di tumbuhi rumput, jang juga rupanja mau mati: sudah kekuningan dan layu. (Hari Ini Aku Punja, 1956: 143)

Kebun tebu. Dan batang-batang tebu. Dan lorong-lorong jang memandjng mengandjur kegelap. Hitam. Aku djadi takut. (Kodja, 1956: 112)

Permasalahn-permasalahan yang timbul dalam kumpulan cerpen ini tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan sosial masyarakat pada waktu itu, terhadap prmasalahan anak-anak muda Indonesia, tidak lepas pula dalam kehidupan Ajip mengenai permasalahan dirinya dan nilai bahasa serta budaya yang berkaitan pada masa tersebut. Dan tema dari keseluruhan kumpulan cerpen ini, yaitu realitas sosial berkenaan dengan pandangan subjektif tokoh Ajip terhadap keadaan lingkungannya.

2.4. Analisis Ekpresif Kumpulan Cerpen “Di Tengah Keluarga”

Merujuk pada komentarnya Jassin bahwa di tengah keluarga merupakan kumpulan cerpen autobiografis seorang Ajip Rosidi dengan segala latar belakang keluarganya yang jelas di ungkapkan didalam kumpulan cerpennya tersebut, latar sosial dan budaya (Sunda dan Jawa),  latar tempat di mana kejadian itu berlangsung (Jatiwangi-Majalengka Cirebon dan Jakarta) serta latar waktu dan suasana kapan kejadian itu berlangsung yakni pada zaman pendudukan Jepang, Pascakemerdekaan, dan agresi militer Belanda.

Korrie Layun Rampan menambahkan bahwa “Di Tengah Keluarga” memperlihatkan (1) pandangan dunia kanak-kanak terhadap kehidupan. Pandangan kanak-kanak di sini bisa dilihat bagaimana penilaian seorang Ajip terhadap ibu tiri ketika kecil dan ketika dia sudah beranjak dewasa ketika kecil dia tidak berpikiran negatif terhadap ibu tiri, tetapi ketika dia sudah dewasa, rasa benci kepada ibu tiri itu muncul. Perasaan benci itu muncul diakibatkan pengaruh bacaan dan stigma negatif dari lingkungan sekitar (lihat kekayaanku hlm.17), juga pandangan seorang Ajip terhadap bangsa Jepang yang lebih mengolok-olokannya dengan cibiran-cibiran. Bangsa Jepang tidak digambarkan sebagai sosok yang menakutkan, tapi disana Ajip menampilkan sosok Jepang sebagai sosok yang lucu dan bahkan dijadikan bahan ledekan (lihat Seorang Djepang hlm.91-92). Pandangan Ajip mengenai kehidupan, mengenai masalah-masalah sosial dan sifat egois seorang Ajip yang disebabkan perceraian kedua orangtuanya.

(2) Sifat keakuan yang dijabarkan secara biografis, penggabungan berbagai unsur, seperti humor, romance, ironi dan tragedi dalam satu cerita. Pandangan-pandangan subjektif Ajip di dalam kumpulan cerpen ini bisa dilihat pada salah satu kutipan

…ja, tapi bujutku sudah meninggal. Itu jang lain. Ja selama ini aku tak menganggap kehadiranja didunia ini. Aku selalu tak peduli. Seolah-olah banjak, terlalu banjak hal-hal jang lebih penting, jang sangat penting. Tapi ketika ia tiada lagi terasa ada jang hilang…(hlm.43)

Pada kutipan di atas kita analogikan bujut adalah rakyat kecil yang lemah dan tak punya apa-apa, sementara posisi Ajip disana adalah kaum terpelajar. Kenyataan waktu itu bahwa banyak orang-orang individualis, tidak peka terhadap lingkungan dan cenderung egoistis. Bahkan itu terjadi kepada Ajip dan ayah Ajip. Ajip menjadi sosok yang egois karena merasa tak mendapat perhatian dari orangtuanya. Sehingga Ajip beranggapan buat apa memperdulikan orang lain, sementara orang lain pun tak memperdulikan dia (hlm. 32). Dan demikian halnya terjadi kepada ayah Ajip yang pada waktu sekolah di sekolahkan habis-habisan oleh kakek Ajip, akan tetapi ketika dia sudah sukses, seolah-olah lupa sama sekali terhadap orangtuanya.

Tragedi terjadi ketika Ajip kecil tenggelam di sungai Cikeruh karena nekad mandi di sungai yang tau-taunya dalam sekali. Akhirnya Ajip terbawa aliran sungai dan untungnya masih bisa terselamatkan. (lihat Kodja hlm. 127-128). Dan  ketika ayah Ajip di jebloskan ke penjara karena ada hasutan dari temannya (hlm. 66) sedangkan ironi terjadi ketika peristiwa meninggalnya paman Ajip, bagaimana ketika Ajip meminta bantuan kepada ibu tirinya dengan hanya dikasih beras sebanyak tiga kati. Ajip juga menyelipkan humor-humor yang walaupun sedikit tapi mengena. Seperti pada kisah ketika Ajip menggembala kerbau terus dia kehausan lantas meminum air yang setelah diselidiki ternyata ada bubuk-bubuk tainya (lihat hari ini aku punja, hlm. 145)

(3) Penggunaan satir sebagai sarana mengkritik keadaan yang bobrok di dalam masyarakat. Kritikan yang Ajip utarakan dalam cerpen ini mengenai ketidak pedulian orang kota, ketidak pedulian orang-orang pintar yang dulu ketika sama-sama dijajah merasa senasib sepenanggungan, akan tetapi ketika penjajahan itu hilang, menguap pula rasa persatuannya. Banyak yang pada akhirnya hidupnya menjadi individualis dan oportunis. (hlm. 52)

Kritikan juga dilakukan ketika ayah Ajip meminta ikut berperang menggunakan bambu runcing. Dengan nada mengejek kakek Ajip mengatakan

…buat apa bambu runtjing? Apakah ia bisa menahan belanda? Apakah ia bisa membikin  kau tak mempan peluru…aku tidak melarang kau menghapus penjajahan dibumi kita, tak melarang kau melawan belanda, malah aku mengandjurkan, tapi aku melarang kau mempertjayai omongan-omongan kosong…(hlm.65)

(4) karya sastra sebagai kesaksian hidup. Lewat cerpen ini Ajip merangkum kisah hidupnya semasa kecil hingga ia remaja dengan segala suka duka yang ia alami. Sikap Ajip yang berubah menjadi sosok yang ambisius dan acuh tak acuh, tidak lepas dari pengalaman-pengamalan hidup yang ia jalani.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUPAN

3.1. Simpulan

Dari uraian yang telah kami bahas di atas, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai pembahasan kami tentang kumpulan cerpen di tengah keluarga. Cerpen di tengah keluarga merupakan cerpen biografis Ajip semasa kecil hingga remaja. Mengulas semua sisi kehidupan Ajip baik suka maupun duka.

Di susun dalam dua bagian. Bagian pertama diberi judul hari-hari punya malam dan bagian kedua diberi judul hari-hari punya siang. Hari-hari punya malam berisikan kedukaan dan kesukaran hidup keluarga Ajip, di mana pada waktu itu orang tuanya bercerai yang mengakibatkan ajip hidup diantara keluarga ayah dan ibu ajip.

Latar tempat dalam cerpen ini lebih banyak terjadi di tempat kelahiran Ajip, di desa Cibolerang, Jatiwangi-Majalengka Cirebon. Dengan latar sosial budaya Jawa dan Sunda. Ajip tumbuh sebagai sosok manusia yang heterokultural. Sejak kecil Ajip dikenalkan dengan dua kebudayaan yang berbeda.

Ajip menjadi sosok yang acuh terhadap lingkungan dan ambisisus, disebabkan karena Ajip merasa kurang diperhatikan oleh keluarganya yang mengakibatkan segala kebutuhan Ajip menjadi tidak terpenuhi.

Kumpulan cerpen ini mengulas kehidupan pengarang pada masa pendudukan Jepang yang sangat memperihatinkan, di mana hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan lah yang bisa hidup istimewa. Sementara rakyat jelata banyak hidup sengsara dan menderita. Kehidupan sosial dari zaman pendudukan Jepang, pasca kemerdekaan, dan agresi militer Belanda tersaji dengan gaya pengisahan yang sederhana.

3.2.  Saran

Kumpulan cerpen Di tengah keluarga merupakan kumpulan cerpen yang cukup menarik untuk dibahas. Menyajikan fakta-fakta sosial pada masa itu sehingga perlu penelusuran lebih jauh untuk mengungkap fakta lebih dalam.

Oleh karenanya, kami mengharapkan kepada para pembaca dan penelaah agar mengkaji berbagai referensi yang terkait dengan pembahasan cerpen ini, guna pendalaman materi sehingga dapat menghasilkan suatu gagasan baru mengenai kumpulan cerpen “Di Tengah Keluarga” ini.

PUSTAKA ACUAN

 

Rosidi, A. Di Tengah Keluarga. Jakarta: Dinas Penerbitan Balai Pustaka. 1956.

 

 

S. Yudiono, K. Pengantar Sejarah Sastra, Jakarta: Grasindo. 2007.

 

 

Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra.Jakarta: Grasindo.2008.

 

 

Sumarjo, Jakob. Ajip Rosidi “Di Tengah Keluarga”. Jakarta: Pikiran Rakyat, PDS no.78 tahun X, Rabu, 25 Juni 1975.

 

 

Soeroto, A. ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­_____________ . Pedoman. No. 1647 Thn. XXVI, Sabtu, 15 Desenber 1973, hlm.V

 

Teeuw, A. Sastra Indonesia Modern II. Bandung: PT Dunia Pustaka Jaya. 1989.

 

Wahyuningsih, Sri. dan Wijaya Heru Santosa. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pressindo. 2011.

 

3 pemikiran pada “SIKAP MENTAL & SOSIAL SEORANG AJIP DI TENGAH POLEMIK KELUARGA YANG BERANTAKAN AKIBAT PERCERAIAN DALAM KUMPULAN CERPEN DI TENGAH KELUARGA KARYA AJIP ROSIDI

  1. Ya cukup menarik tentang novel di tengah keluarga karya ajip rosidi.
    Seorang anak yg tdk pernah mendapatkan kasih sayang,perhatian kpd orang tuanya ia malah mendapatkan kasih sayang nenek .. .

    1. Terima kasih atas komentarnya. :D
      ya, memang menarik. Selain kita disuguhkan dengan pengisahan yang kental dengan konflik keluarga juga kita dapat melihat gambaran kondisi sosial saat itu. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s