Sekolah dan Pers dalam Masa Pertumbuhan Sastra

-Sekolah dan Pers dalam Masa Pertumbuhan Sastra-

Gambaran umum kehidupan sastra Indonesai tahun 1900-1945 sudah ditulis oleh Bakri Siregar (1964), Zuber Usman (1964), Teeuw (1952; 1979; 1980), Ajip Rosidi (1969), dan Jakob Sumardjo (1992) dengan pandanga masing-masing. Semua yang mereka tulis tentu perlu kita baca, namun permasalahannya ada pada bahan bacaan itu sendiri. Terkadang belum tentu buku-buku itu ada di perpustakaan-perpustakaan dan toko buku, karena ada beberapa buku yang dibekukan atau dilarang pada tahun 1966, terkait para penulisnya sebagai tokoh Lekra.

Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta. Adalah salah satu pusat perpustakaan sastra terkemuka di Indonesia. Ada banyak ragam buku, artikel, Koran, majalah, dan kliping sastra yang sudah berpuluh-puluh tahun usianya. Para peneliti atau pun pemerhati dan penikmat sastra dapat langsung membaca dan memfotokopinya.
Buku-buku tersebut tentu saja telah menguak dan mengungkapkan gejala pertumbuhan sastra Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang tak terpisahkan dari pertumbuhan sekolah dan pers sebagai penanda perubahan budaya masyarakat Nusantara dari tradisional ke modern.

Masyarakat Nusantara mengenal pendidikan tradisional pesantren sejak abad ke-16 dan lembaga sekolah yang didirikan kelompok Misi dan Zending sejalan dengan syiar agama Kristen. Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa perkembangan atau dinamika pesantren selama tiga abad (dari abad ke-16 hingga abada ke-19) sangat terbatas karena terkungkung oleh kekuasaan penjajah Belanda. Kontak masyarakat Islam dengan dunia luar memang dibatasi oleh penjajah Belanda, kecuali dengan ibadah haji. Sehingga selama tiga abad pesantren sebagai lembaga pendidikan pribumi hanya mengajarkan ilmu agama (Islam), sedangkan pengetahuan umumnya sangat lemah. Berbeda dengan masyarkat Islam di Semenanjung India yang lebih leluasa berkontak dengan dunia luar karena terdukung oleh kebijakan pemerintah kolonial Inggris, yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan Ilmu.

Pengaruh Islam di Nusantara sangatlah penting, saat itu sudah tampak pada tumbuhnya tradisi penulisan sastra keislaman pada abad ke-17 yang mendesak jejak pengaruh Hindu dan Buddha yang sebelumnya telah berkembang. Sastra Islam kebanyak ditulis dengan huruf Arab-Melayu atu huruf Jawi, isinya berupa kisah tentang para nabi, hikayat tentang Nabi Muhammad Saw dan keluarganya, hikayat pahlawan-pahlawan Islam, cerita tentang ajaran dan kepercayaan Islam, cerita fiktif, cerita mistik, dan tasawuf. Sastra keislaman termasuk sastra Nusantara atau sastra klasik Indonesia yang meupakan khazanah budaya masyarakat pemangkunya, dan dengan sendirinya sekarang harus disebut sebagai khazanah budaya Indonesia. Di dalamnya tersimpan buah pikiran, cita-cita, harapan, pandangan hidup atau filsafat masyarakat yng mencerminkan semangat kemanusiaan pada zamannya.

Koleksi naskah sastra klasik jumlahnya ribuan, tetapi hanya sebagian kecil yang digarap secara ilmiah dan diterbitkan dalam bentuk buku. Isinya berupa dongeng, hikayat, babad, kakawin, kidung, syair, dan lain-lain.
Sekolah umum atau negeri didirikan sebagai realisasi kebijakan pemerintahan Belanda terhadap desakan kaum sosialis yang melancarkan semangat politik etika atau politik balas budi. Kaum sosialis memandang kemewahan yang dimiliki Belanda adalah hasil dari jajahan Hindia-Belanda. Sehingga mereka berpendapat seharusnya diberikan balas budi kepada rakyat jajahan dengan memberikan pendidikan. Namun, penyelenggaraan sekolah negeri atau sekolah rakyat bumi putra di Indonesia ternyata bukan semata-mata mencerdaskan rakyat, tetapi masih saja dikaitkan dengan pemerintahan kolonial.

Apa pun keadaanya, setelah tersebar sekolah-seklah terjadilah perubahan sosial, masyarakat Nusantara dihadapakan pada dunia luar. Tentu saja perubahan itu hanya bisa dinikmati oleh beberapa kalangan saja, sedangkan masih banyak rakyat yang terbelakang. Perubahan yang terbatas itu membuat Belanda khawatir, merasa terancam akan kemapanannya. Terlebih setelah muncul surat kabar atau pers pribumi peranakan Cina yang ternyata besar pengaruhnya terhadap berkembangnya nasionalisme dan sastra modern.
Menurut Yuliati (2000: 56-60), sejarah pers di Indonesia bermula ketika VOC memerlukan media cetak untuk keperluan administrasinya.

Gambaran kehidupan sastra Melayu Rendah pada awal abad ke-20 ditulis oleh Jakob Sumardjo (2004) menegaskan besarnya kontribusi sekolah dan pers terhadap pertumbuhan sastra modern sebagai “dunia baru” yang semangatnya sudah berbeda dengan tradisi sastra klasik yang secara perlahan terdesak ke “dunia lama” masyarakat pribumi. Dapat dibayangkan pada zaman itu sebagian besar khazanah sastra klasik sudah tersisih dari perhatian masyarakat terpelajar yang mulai membaca berbagai cerita disurat kabar dan buku-buku. Terlepas dari unsur bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan Belanda; terlepas juga dari asal-usul pengarang, mutu dan kualitasnya, jelaslah bahwa maraknya penulisan cerita di surat kabar dan penerbitan buku swasta itu mencerminkan kebutuhan masyarakat akan bacaan yang bersemangat baru.

Semua isi dalam bahasan di atas 95% dikutip dalam buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia yang ditulis oleh Yudiono K.S.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s