Trees Dreaming

Poetry

Trees Dreaming
By Muzzamilah

The leaves have aged
Looks scratched and wrinkled
Tree name.

Ask a child, “What happened”
“It’s okay, he concluded.”
They stood up again
trying to be sturdy and brave
like old roots waiting to die

The tree that has become the top
To ignore everything

Tuesday, September 19, 2017

Iklan

A Long Night

Poetry

A long night
By Muzzamilah

Looking at the colorless sky
in the warmth of a memory
I’m waiting for a word from someone
who will hold this finger along with flowers

my imagination stopped
when the moon seemed to glance at me
I’m at the end of the wait
hope you hurry back

I want to hug
hope it all manifested
will it happen?
I want to be like a rosy rose
not just staring at the colorless sky

Tuesday, September 19, 2017

 

KABUR Yuk!

rohis

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Ada yang seru nih besok, hari Sabtu tanggal 16 September 2017 di Aula MAN 4 Bogor. Bakalan ada KABUR. Temanya “Kacamata Dunia Terhadap Islamopobia”.

Wah! temanya seru kan ukhty akhi. Ayo jangan ragu ragu ya buat ikut KABUR (Kajian Bulanan Rohis). Ada Ka Syahid dari Q-Gen yang jadi pementornya loh. Kakak, Adik, Ibu, Bapak, Akhi, Ukhti, dan semua, jangan lupa dateng yah. InsyaAllah banyak ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan.

Bakalan ada penampilan dari Nasyid dan Tari Saman juga loh.

Yuk ikut KABUR besok, pasti gak nyesel dan gak dapet point, apalagi hukuman.

Ini nih yang namanya KABUR bermanfaat.

“Memang, KABUR yang bermanfaat kayak gimana?” dari pada penasaran, yuk join bareng kita. Ditunggu ya kedatangannya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabbaraktuh

#RohisKece
#SaveRohis
#rohisMan4bogor
#KaburBermanfaat

Dipenuhi dengan Cerita

Sudah lama tidak menulis. Fuhhh! sepertinya tahun ini dipenuhi dengan helaan nafas. Penuh dengan cerita. Ingin sekali memuntahkan semuanya ke dalam diksi-diksi. Sayang, aku tak sekuat itu sekarang. Sepertinya, sudah harus kembali pada jalan yang benar. Jalan di mana aku terus bermain dengan kata, frasa, klausa, dan tentu saja imaji. Tahukah kalian, ceritaku telah berakhir sekarang. Tepat di tanggal ini. Aku harus menemukan inspirasi baru. Senjaku telah memilih lembayung, dan aku mulai merasakan sedih yang mendalam. Tidak sedalam hingga ke inti bumi, tapi sedikit menumpahkan tetesan air mata. itulah hidup, dipenuhi dengan beribu rahasia dan kejutan dariNya. Awalnya aku optimis saja, aku pikir dia yang akan menggenggam jemariku ini, karena ratusan tanda telah Allah berikan, tapi sudahlah. Rasanya cukup membuatku terbawa suasana dan perasaan. Aku putuskan untuk terus berjalan dan berlari. Karena hidup tidak sebatas imaji dan mimpi, tapi langkah dalam mewujudkan mimpi tersebut. Mulai sok bijak lagi, hehe.

InsyaAllah bulan November buku kumpulan puisiku terbit, semoga di lancarkan dan dimudahkan, amiin. Memang sih tidak terbit di penerbit mayor, tapi setidaknya aku berhasil mengumpulkan beberapa puisi untuk aku bukukan. Kalau terasa aneh, abstrak, membosankan, lebai, dan sebagainya, harap dimaklum, karena itulah aku. Aku bukan seorang penyair handal yang jenius memainkan kata-kata. Aku hanya penikmat kata yang senang bermain dengan kata.

Usiaku Bertambah

Sebenarnya tanggal kelahiranku itu 19 Februari, tapi kejutan itu datang di tanggal 23 Februari, hari di mana adik keduaku lahir. Lucu memang, tapi aku sangat berterima kasih kepada murid-muridku. Rasanya nano nano…

Terima kasih anak-anakku atas kue dan kadonya, di usia ke 26 ini aku berharap aku selalu diberikan rahmat olehNya, diberkahi, dan dicintai. Ya Rabb.. alhamdulillah.

image

Seni Rupa Dua Dimensi Karya Siswa MAN 4 Bogor

Seni rupa dua dimensi karya siswa MAN 4 Bogor kelas X MIPA dan IPS.
Ide atau gagasan tentang lingkungan MAN 4 Bogor.

image

Akmal Fauzan X MIPA 2
Gagasan/ide: halaman depan kelas X MIPA

image

M.Ihsan X MIPA 2
Gagasan/ide: Buku yang tergeletak di lantai kelas

image

Niki Salma X MIPA 2
Gagasan/ide: Halaman depan kelas X MIPA

image

Raden Muhammad Reyzki X MIPA 3
Gagasan/ide: Taman MAN 4 Bogor

image

Abdul Kodir X IPS 2
Gagasan/ide: Ruang Waka dan kelas XII

image

M.Renaldi X MIPA 1
Gagasan/ide: Kelas X IPS dan halaman depan

Pemuda dalam Memaknai Kemerdekaan

Tanggal 17 Agustus menjadi tanggal yang paling bermakna bagi bangsa Indonesia. Di mana nama Indonesia diproklamirkan dengan gagah oleh presiden pertama kita, yaitu Ir.Soekarno. Memperingati hari kemerdekaan menjadi hal wajib bagi masyarakat Indonesia, tidak hanya mengikuti upacara kenaikan sang saka merah putih, namun juga berbagai lomba yang tidak luput untuk diikuti. Dari anak-anak hingga  mereka yang berusia lanjut ikut serta memeriahkan peringatan tersebut. Tentu saja sosial media akan dipenuhi ucapan-ucapan tentang kemerdekaan, dari facebook, twitter, path, instagam, youtube, dan media sosial lainnya. Namun, apakah makna kemerdekaan cukup dengan mengikuti upacara bendera, kegiatan perlombaan tujuh-belasan, atau mengucapkan kata “meredeka” di media sosial? dan Apakah arti kemerdekaan sebatas pada tanggal 17 Agustus saja? Bukankah sudah seharusnya kita merenung sejenak untuk memikirkan jawabannya.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kemerdekaan berati bebas. Lalu  makna apa yang bisa diambil dari kata kemerdekaan? Bisa saja kebebasan dalam hal berpendapat dan kebebasan dalam melakukan hal apa pun tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun. Kemerdekaan dihubungkan dengan penjajahan, jika masih ada penjajahan maka negara tersebut masih belum dikatakan merdeka. Lalu apakah negeri tercinta kita Indonesia dapat dikatan sebagai negeri yang bebas dari penjajahan? Sayangnya Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka. Secaa tertulis Indonesia memang sudah merdeka, namun secara tersirat kita masih dijajah oleh mereka yang mengeruk sumber daya negeri ini. Masih ingat berita penambangan emas di Papua, penambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit di kalimantan, penjualan pulau-pulau kecil untuk asing, dan baru-baru ini proyek reklamasi di Jakarta. Bukankah hal itu sudah menjadi bukti bahwa negeri ini masih terjajah oleh asing, hanya saja dengan metode yang berbeda. Imbas dari pengerukan sumber daya tersebut tentu rakyat Indonesia. Kerugian itu akan dinikmati oleh anak cucu kita, sehingga kemiskinan menjadi momok di masa depan nanti.

Sudah saatnya mengubah pola pikir dan kebiasaan, karena kemerdekaan bangsa inidonesia tidaklah diraih dengan mudah melainkan dengan perjuangan dan kerja keras. Apa jadinya jika tunas bangsa memiliki karakter pemalas, lebih memikirkan kesenangan dan gaya hidup yang serba instan. Umumnya pemuda saat ini lebih memilih duduk santai di depan laptop, ponsel,  play station demi kesenangan sesaat. Mereka lupa tentang arti kerja keras dan perjuangan yang sesungguhnya. Otak mereka seolah terbelenggu dengan kesenangan yang harus terpuaskan.  Berbeda dengan pemuda pada saat masa penjajahan.  Pemuda terdahulu membela tegaknya nama Indonesia dengan cara berkorban segenap jiwa raga mereka. Sayangnya pemuda saat ini belum mampu menjadikan sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pelopor untuk menjadi pemuda yang berkualitas. Kemerdekaan yang seharusnya dimaknai dengan semangat dan tekad yang kuat malah dinodai dengan tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Tampaknya saat ini kita membutuhan para pemuda yang berpikir ke depan demi kemjuan bangsa Indonesia. Para pelopor yang memiliki semangat juang dan tekad yang tinggi, terutama mereka yang kreatif dan inovatif.

Para pelopor tidak terlahir dari sosok yang pemalas. Mereka memiliki karakter dan kebiasaan yang patut kita contoh, salah satunya kebiasaan membaca. Membaca adalah kegiatan yang dapat menambah ilmu dan informasi tentang segala hal. Membaca memberikan manfaat yang luar biasa, dengan membaca seseorang akan terhindar dari kebodohan dan bahkan akan memiliki intelektualitas yang tinggi. Presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno memiliki hobi membaca, tidak hanya membaca buku dalam negeri saja melainkan buku-buku luar yang memengaruhi pemikiran  Bung Karno dalam membuat kebijakan di pemerintahannya. Bung Karno mengaku, bahwa ia gemar membaca karena sumber semangat adalah ilmu pengetahuan. Ternyata tidak hanya sosok Soekarno yang menjadikan membaca sebagi kegemarannya, yaitu di antaranya Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan Tjokroaminoto. Bukankah sudah seharusnya kita mencontoh hal positif tersebut.  Dengan mengutip pesan Bung Karno bahwa, “sumber semangat adalah ilmu pengetahuan” maka kegiatan membaca menjadi sangat penting bagi generasi  bangsa, terutama semangat juang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bagaimana bisa negeri ini menjadi negeri yang maju dan sejahtera jika para pemuda lebih memilih duduk santai menikmati permainan teknologi yang membelenggu mereka. Apakah bisa seorang anak menjadi seorang presiden jika setiap lima jam sehari bermain play station atau game online? Apakah banyak dari para pengusaha yang sukses saat ini terlahir dari pola hidup yang santai dan dipenuhi cerita romantika kaula muda? Tanyakanlah pada mereka yang saat ini telah menjadi orang yang sukses karena membaca. Tanpa uang mereka mampu belajar di luar negeri dan bahkan menjadi orang ternama. Sudah saatnya kita mengubah pola pikir yang sederhana menjadi lebih kreatif dan inovatif. Tidak hanya menjadi penikmat teknologi melainkan yang membuat teknologi tersebut, tidak hanya menjadi pemuda yang tahu nama-nama artis dalam negeri dan luar negeri melainkan mereka yang mengenal para pahlawan yang sudah berjasa demi berdirinya negeri ini. Mulailah berpikir demi tanah air tercinta kita, demi anak cucu kita juga. Menjadi pelopor seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan para pahlawan lainnya.

Pelajar Malu dengan Nilai Pelajaran yang Kecil? Sudah Gak Zaman!

 

Selamat malam semua! Hari ini aku ingin berbagi curhatan lagi, kalau di lihat dari judulnya agak sedikit nyeleneh yah, soalnya kayak gak pernah malu aja. Tapi aku pikir pandangan kita harus diubah nih sob. Jangan takut dan malu dengan nilai kecil, kenapa? Karena kita harus menghargai yang namanya proses, asik..

Hasil itu tercipta karena proses. Berkaitan dengan hal itu sudah seharusnya kita menghargai  hasil yang kita peroleh, karena usaha kita patut kita apresiasi sob. Skor kecil itu nggak seharusnya dijadikan momok, melainkan motivasi untuk lebih baik lagi. Bahkan hal itu menjadi bahan pembelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dalam menyampaikan materi kepada siswa dan menerima materi yang disampaikan.

Kita ini harus paham, kalau nilai kecil itu bukan kesalahan siswa seluruhnya, melainkan beberapa pihak yang ikut memengaruhinya. Misal mtode mengajar  yang digunakan oleh guru, sikap dan pola asuh orang tua yang memengaruhi psikologis anak, hubungan siswa dengan teman kelasnya, jumlah tugas yang terlalu banyak, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk peka dan memberikan perhatian khusus bagi mereka yang mendapatkan nilai di bawah kkm dan mereka yang memiliki sikap yang sudah di ambang batas kewajaran. Tapi, nggak cuman guru saja yang wajib memberikan perhatian, melainkan semua pihak yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap anak.

Amat sangat disayangkan ketika siswa merasa malu dengan skor kecil yang didapatnya, kecewa pasti ada, itu manusiawi tapi untuk apa malu? Toh kita mendapatkan nilai itu dengan jujur, murni hasil sendiri tanpa menyontek. Bahkan yang harusnya malu itu yah mereka yang mendapatkan nilai besar namun hasil dari menyontek, contohnya yah kayak koruptor lah. Yang harus kalian tumbuhkan adalah berpikir positif pada diri sendiri, jangan malunya yang dibesarkan, itu gak bakalan bikin kita maju. Tahu pribahasa, “Malu bertanya sesat di jalan”, gak ada hubungannya sih, tapi intinya jangan malu deh, introspeksi aja dan nyatakan bahwa kita bisa, kita jujur, dan kita adalah generasi optimis dan percaya diri.

Sudah nggak zaman malu karena nilai pelajaran kecil, yang seharusnya kita anggap malu adalah ketika kita bangga dengan menurunnya nilai moral dan akhlak kita. Banyak dari kita menganggap memposting hal-hal yang jauh dari nilai moral itu adalah sesuatu yang wajar, gak percaya? nih misalnya memposting gaya berpacaran (pegangan tangan lah, peluk-pelukanlah, sender-senderan lah, padahal belum halal, hem), merokok di tempat tongkrongan, meminum-minuman keras, tauran, cacian, dan lain sebagainya. Itu yang seharusnya kita anggap malu sob. Jadi, jangan malu sama nilai kecil yah, masih ada yang namanya remidial, banyak juga guru yang mampu membantu kalian menjadi anak yang berprestasi, yang penting ada kemauan untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Mari kita menjadi makhluk Allah yang taat dan beriman kepada-Nya.

Mari kita menjadi remaja cerdas, optimis, jujur, dan percaya diri.

Mari kita menjadi manusia-manusia yang selalu berpikir positif terhadap apa pun.

Mari kita menjadi orang yang malu di hadapan Rabbnya, malu melakukan hal-hal yang Allah larang.

Aku dan waktu yang berjalan

Kini usiaku bertambah satu, tepat ditanggal ini 19 Februari 2016. Aku sadar bahwa selama ini jejakku tak sepenuhnya baik. Masalah itu datang silih berganti. Namun, kupahami itulah cara Allah mebimbingku menuju indahnya memilih hal yang baik, menjadikanku orang yang kuat, dan lebih baik lagi.

Ya Rabb, terima kasih Engkau telah menjadikanku seorang yang beruntung. Beruntung mendapatkan kedua orang tua yang amat sangat menyayangiku, keluarga yang menjadikanku hingga seperti ini, dan alur yang Engaku tuliskan begitu indah, alhamdulillah..

Ya Rohman Ya Rohim, alhamdulillah