Seni Rupa Dua Dimensi Karya Siswa MAN 4 Bogor

Seni rupa dua dimensi karya siswa MAN 4 Bogor kelas X MIPA dan IPS.
Ide atau gagasan tentang lingkungan MAN 4 Bogor.

image

Akmal Fauzan X MIPA 2
Gagasan/ide: halaman depan kelas X MIPA

image

M.Ihsan X MIPA 2
Gagasan/ide: Buku yang tergeletak di lantai kelas

image

Niki Salma X MIPA 2
Gagasan/ide: Halaman depan kelas X MIPA

image

Raden Muhammad Reyzki X MIPA 3
Gagasan/ide: Taman MAN 4 Bogor

image

Abdul Kodir X IPS 2
Gagasan/ide: Ruang Waka dan kelas XII

image

M.Renaldi X MIPA 1
Gagasan/ide: Kelas X IPS dan halaman depan

Pemuda dalam Memaknai Kemerdekaan

Tanggal 17 Agustus menjadi tanggal yang paling bermakna bagi bangsa Indonesia. Di mana nama Indonesia diproklamirkan dengan gagah oleh presiden pertama kita, yaitu Ir.Soekarno. Memperingati hari kemerdekaan menjadi hal wajib bagi masyarakat Indonesia, tidak hanya mengikuti upacara kenaikan sang saka merah putih, namun juga berbagai lomba yang tidak luput untuk diikuti. Dari anak-anak hingga  mereka yang berusia lanjut ikut serta memeriahkan peringatan tersebut. Tentu saja sosial media akan dipenuhi ucapan-ucapan tentang kemerdekaan, dari facebook, twitter, path, instagam, youtube, dan media sosial lainnya. Namun, apakah makna kemerdekaan cukup dengan mengikuti upacara bendera, kegiatan perlombaan tujuh-belasan, atau mengucapkan kata “meredeka” di media sosial? dan Apakah arti kemerdekaan sebatas pada tanggal 17 Agustus saja? Bukankah sudah seharusnya kita merenung sejenak untuk memikirkan jawabannya.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kemerdekaan berati bebas. Lalu  makna apa yang bisa diambil dari kata kemerdekaan? Bisa saja kebebasan dalam hal berpendapat dan kebebasan dalam melakukan hal apa pun tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun. Kemerdekaan dihubungkan dengan penjajahan, jika masih ada penjajahan maka negara tersebut masih belum dikatakan merdeka. Lalu apakah negeri tercinta kita Indonesia dapat dikatan sebagai negeri yang bebas dari penjajahan? Sayangnya Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka. Secaa tertulis Indonesia memang sudah merdeka, namun secara tersirat kita masih dijajah oleh mereka yang mengeruk sumber daya negeri ini. Masih ingat berita penambangan emas di Papua, penambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit di kalimantan, penjualan pulau-pulau kecil untuk asing, dan baru-baru ini proyek reklamasi di Jakarta. Bukankah hal itu sudah menjadi bukti bahwa negeri ini masih terjajah oleh asing, hanya saja dengan metode yang berbeda. Imbas dari pengerukan sumber daya tersebut tentu rakyat Indonesia. Kerugian itu akan dinikmati oleh anak cucu kita, sehingga kemiskinan menjadi momok di masa depan nanti.

Sudah saatnya mengubah pola pikir dan kebiasaan, karena kemerdekaan bangsa inidonesia tidaklah diraih dengan mudah melainkan dengan perjuangan dan kerja keras. Apa jadinya jika tunas bangsa memiliki karakter pemalas, lebih memikirkan kesenangan dan gaya hidup yang serba instan. Umumnya pemuda saat ini lebih memilih duduk santai di depan laptop, ponsel,  play station demi kesenangan sesaat. Mereka lupa tentang arti kerja keras dan perjuangan yang sesungguhnya. Otak mereka seolah terbelenggu dengan kesenangan yang harus terpuaskan.  Berbeda dengan pemuda pada saat masa penjajahan.  Pemuda terdahulu membela tegaknya nama Indonesia dengan cara berkorban segenap jiwa raga mereka. Sayangnya pemuda saat ini belum mampu menjadikan sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pelopor untuk menjadi pemuda yang berkualitas. Kemerdekaan yang seharusnya dimaknai dengan semangat dan tekad yang kuat malah dinodai dengan tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Tampaknya saat ini kita membutuhan para pemuda yang berpikir ke depan demi kemjuan bangsa Indonesia. Para pelopor yang memiliki semangat juang dan tekad yang tinggi, terutama mereka yang kreatif dan inovatif.

Para pelopor tidak terlahir dari sosok yang pemalas. Mereka memiliki karakter dan kebiasaan yang patut kita contoh, salah satunya kebiasaan membaca. Membaca adalah kegiatan yang dapat menambah ilmu dan informasi tentang segala hal. Membaca memberikan manfaat yang luar biasa, dengan membaca seseorang akan terhindar dari kebodohan dan bahkan akan memiliki intelektualitas yang tinggi. Presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno memiliki hobi membaca, tidak hanya membaca buku dalam negeri saja melainkan buku-buku luar yang memengaruhi pemikiran  Bung Karno dalam membuat kebijakan di pemerintahannya. Bung Karno mengaku, bahwa ia gemar membaca karena sumber semangat adalah ilmu pengetahuan. Ternyata tidak hanya sosok Soekarno yang menjadikan membaca sebagi kegemarannya, yaitu di antaranya Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan Tjokroaminoto. Bukankah sudah seharusnya kita mencontoh hal positif tersebut.  Dengan mengutip pesan Bung Karno bahwa, “sumber semangat adalah ilmu pengetahuan” maka kegiatan membaca menjadi sangat penting bagi generasi  bangsa, terutama semangat juang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bagaimana bisa negeri ini menjadi negeri yang maju dan sejahtera jika para pemuda lebih memilih duduk santai menikmati permainan teknologi yang membelenggu mereka. Apakah bisa seorang anak menjadi seorang presiden jika setiap lima jam sehari bermain play station atau game online? Apakah banyak dari para pengusaha yang sukses saat ini terlahir dari pola hidup yang santai dan dipenuhi cerita romantika kaula muda? Tanyakanlah pada mereka yang saat ini telah menjadi orang yang sukses karena membaca. Tanpa uang mereka mampu belajar di luar negeri dan bahkan menjadi orang ternama. Sudah saatnya kita mengubah pola pikir yang sederhana menjadi lebih kreatif dan inovatif. Tidak hanya menjadi penikmat teknologi melainkan yang membuat teknologi tersebut, tidak hanya menjadi pemuda yang tahu nama-nama artis dalam negeri dan luar negeri melainkan mereka yang mengenal para pahlawan yang sudah berjasa demi berdirinya negeri ini. Mulailah berpikir demi tanah air tercinta kita, demi anak cucu kita juga. Menjadi pelopor seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan para pahlawan lainnya.

Pelajar Malu dengan Nilai Pelajaran yang Kecil? Sudah Gak Zaman!

 

Selamat malam semua! Hari ini aku ingin berbagi curhatan lagi, kalau di lihat dari judulnya agak sedikit nyeleneh yah, soalnya kayak gak pernah malu aja. Tapi aku pikir pandangan kita harus diubah nih sob. Jangan takut dan malu dengan nilai kecil, kenapa? Karena kita harus menghargai yang namanya proses, asik..

Hasil itu tercipta karena proses. Berkaitan dengan hal itu sudah seharusnya kita menghargai  hasil yang kita peroleh, karena usaha kita patut kita apresiasi sob. Skor kecil itu nggak seharusnya dijadikan momok, melainkan motivasi untuk lebih baik lagi. Bahkan hal itu menjadi bahan pembelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dalam menyampaikan materi kepada siswa dan menerima materi yang disampaikan.

Kita ini harus paham, kalau nilai kecil itu bukan kesalahan siswa seluruhnya, melainkan beberapa pihak yang ikut memengaruhinya. Misal mtode mengajar  yang digunakan oleh guru, sikap dan pola asuh orang tua yang memengaruhi psikologis anak, hubungan siswa dengan teman kelasnya, jumlah tugas yang terlalu banyak, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, guru dituntut untuk peka dan memberikan perhatian khusus bagi mereka yang mendapatkan nilai di bawah kkm dan mereka yang memiliki sikap yang sudah di ambang batas kewajaran. Tapi, nggak cuman guru saja yang wajib memberikan perhatian, melainkan semua pihak yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap anak.

Amat sangat disayangkan ketika siswa merasa malu dengan skor kecil yang didapatnya, kecewa pasti ada, itu manusiawi tapi untuk apa malu? Toh kita mendapatkan nilai itu dengan jujur, murni hasil sendiri tanpa menyontek. Bahkan yang harusnya malu itu yah mereka yang mendapatkan nilai besar namun hasil dari menyontek, contohnya yah kayak koruptor lah. Yang harus kalian tumbuhkan adalah berpikir positif pada diri sendiri, jangan malunya yang dibesarkan, itu gak bakalan bikin kita maju. Tahu pribahasa, “Malu bertanya sesat di jalan”, gak ada hubungannya sih, tapi intinya jangan malu deh, introspeksi aja dan nyatakan bahwa kita bisa, kita jujur, dan kita adalah generasi optimis dan percaya diri.

Sudah nggak zaman malu karena nilai pelajaran kecil, yang seharusnya kita anggap malu adalah ketika kita bangga dengan menurunnya nilai moral dan akhlak kita. Banyak dari kita menganggap memposting hal-hal yang jauh dari nilai moral itu adalah sesuatu yang wajar, gak percaya? nih misalnya memposting gaya berpacaran (pegangan tangan lah, peluk-pelukanlah, sender-senderan lah, padahal belum halal, hem), merokok di tempat tongkrongan, meminum-minuman keras, tauran, cacian, dan lain sebagainya. Itu yang seharusnya kita anggap malu sob. Jadi, jangan malu sama nilai kecil yah, masih ada yang namanya remidial, banyak juga guru yang mampu membantu kalian menjadi anak yang berprestasi, yang penting ada kemauan untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Mari kita menjadi makhluk Allah yang taat dan beriman kepada-Nya.

Mari kita menjadi remaja cerdas, optimis, jujur, dan percaya diri.

Mari kita menjadi manusia-manusia yang selalu berpikir positif terhadap apa pun.

Mari kita menjadi orang yang malu di hadapan Rabbnya, malu melakukan hal-hal yang Allah larang.

Aku dan waktu yang berjalan

Kini usiaku bertambah satu, tepat ditanggal ini 19 Februari 2016. Aku sadar bahwa selama ini jejakku tak sepenuhnya baik. Masalah itu datang silih berganti. Namun, kupahami itulah cara Allah mebimbingku menuju indahnya memilih hal yang baik, menjadikanku orang yang kuat, dan lebih baik lagi.

Ya Rabb, terima kasih Engkau telah menjadikanku seorang yang beruntung. Beruntung mendapatkan kedua orang tua yang amat sangat menyayangiku, keluarga yang menjadikanku hingga seperti ini, dan alur yang Engaku tuliskan begitu indah, alhamdulillah..

Ya Rohman Ya Rohim, alhamdulillah

Lukisan Kamis “Lafaz Allah”

Kamis, 14 Januari 2016

Allah

Tiba-tiba beberapa guru dan siswa dikejutkan dengan lukisan alam yang bertuliskan lafaz Allah. Aku pun lekas keluar, berlari sambil menggenggam kamera ponsel untuk mempotret lukisan awan itu. MasyaAllah tampak indah, langit biru dan pagi yang cerah itu buat bulu kudukku berdiri, amat indah. Sesekali aku mengucap syukur karena melihat keindahan itu, sesekali terdiam dan termenung, ada apa, apa yang akan Allah sampaikan pada kami, apakah itu adalah tanda darinya agar kami selalu mengingat namanya? Entahlah, yang kupahami adalah Ia hadir membawa keindahan.

Pembukaan PPKT di SMP Islamiyah Serua

Catatan yang belum sempat di poskan..

Jumat, 3 Pebruari 2012. Pembukaan PPKT di SMP Islamiyah Serua akhirnya telah terlaksanakan dengan lancar. Kebetulan aku MCnya, sempat nervous karena ini pertama kalinya aku memandu acara seperti itu. Tapi, Alhamdulillah acara berjalan lancar. Sebenarnya sih awalnya bukan aku yang jadi MC, tapi Rum. Sayang sekali dia tiba-tiba saja sakit, memang sejak awal dia bilang belum sarapan dan akhirnya dia kena mag. Rum pun tidak mengikuti pembukaan PPKT.

Banyak hal yang aku dan teman-teman kelompokku alami. Tegang bercampur senang, sungguh perasaan yang luar biasa aneh datang menghampiri kami ketika acara sudah akan dimulai. Sedikit kecewa karena dosen pembimbingku tidak jadi hadir karena hujan lebat. Tapi, syukur saja ada pak Syamsul Arifin, dosen pembimbing Biah dan Ulfy datang dengan baju sedikit basah. Kedatangannya cukup mengejutkan karena tidak menyangka saja ada dosen semuda beliau, yah tampak mahasiswa S1.
Susunan acara sebetulnya sudah aku susun, tappi tiba-tiba saja pak Hidayat membawa susunan acara yang tidak jauh berbeda. Akhirnya aku menggabungkannya.
1. Sambutan Kepala Sekolah
2. Sambutan Dosen Pembimbing
3. Sambutan Perwakilan Mahasiswa PPKT
4. Tanya Jawab
5. Pembukaan PPKT, Secara Simbolis.
6. Doa/Penutup

Berbicara tentang konsumsi, ehm… tidak diragukan lagi. Mama Ulfy yang membuatnya, ada tahu jumbo, lontong isi sayur ayam, kue bolu, jeruk dan salak. Kami sangat senang ketika guru-guru di sana sangat menyukai makanan yang kami sajikan, terutama kue bolu yang benar-benar menggugah lidah para guru. Sampai-sampai mereka terus-terusan menanyakan alamat Ulfy, katanya mereka ingin sekali diajarkan untuk membuat kue bolu itu.

Bu Wardah, kepala SMP Islamiyah Serua. Beliau juga sangat ramah, dan aku senang sekali ketika dia memujiku. Menurut beliau aku sangat berbakat jadi MC *hihi sepertinya di pipiku ada strawberry, aku memang selalu berkhayal, eh tidak! Mungkin di pipiku ada banyak nyamuk, hehe. Semoga itu menjadi nilai tambahku. Kata pak Hidayat, wakil kepala sekolah, “sebenarnya kemampuan mahasiswa dapat dilihat dari pembukaan ini, karena jika acara pembukaannya saja baik insyaallah ke depannya juga baik.” Sepertinya beliau ingin mengutarakan bahwa pembukaan acara PPKT ini sangat baik. *Semoga saja, amin^^.
Setelah acara selesai, kami menghabiskan makanan yang tersisa. Ehm… sedapnya.
Terima kasih sebelumnya untuk kepala SMP Islamiyah Serua, Wakil Kepala Sekolah, bapak dan ibu guru, dosen pembimbing, dan khususnya teman-teman mahasiswa PPKT; Farhan, Ulfy, Biah, dan Rum.

Semoga PPKT ini berjalan dengan lancar, dan kita bisa mengabdikan diri sepenuhnya. Amin😀 Fighting!

Jejakku: PENGALAMAN YANG MENGUBAHKU

Pengalaman adalah hal yang luar biasa. Dulu aku adalah seorang yang introvert, tidak pintar berbicara, dan tidak berani tampil di depan banyak orang. Begitu pun ketika aku berada di rumah, keseharianku adalah berdiam diri di kamar, membaca, berimajinasi, dan menulis. Sahabat setiaku adalah jemariku sendiri. Bermain bersama tinta atau pensil merah yang sedang ngetren pada saat itu. Mungkin aku tak sepintar para penulis novel seperti Helvi Tiana Rosa, Asmanadia, dan Habiburrahman. Atau pun tak sejenius para sastrawan angkatan 20 hingga sastrawan zaman sekarang. Aku hanya penikmat imaji, sang pendiam yang menari bersama diksi.

Dulu apa yang aku lakukan adalah apa yang temanku lakukan. Maksudnya hanya ikut-ikutan saja. Jika temanku memilih A maka aku pun memilih A, begitu pun ketika temanku memilih B, aku pasti pilih B. Tapi itulah proses, namun kini aku bisa memilih mana saja yang aku mau.

Semua berawal dari yang namanya “sastra”. Tak sengaja aku masuk Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Awalnya aku lebih suka Biologi karena guru Biologiku ketika SMP amat sangat inspiratif dan memotivasiku untuk menyukai Biologi, sempat kecewa ketika pilihanku tak bisa aku raih, tapi aku tetap mengikuti arus yang sudah aku selami.

Di kampus baruku, kampus Islam yang berada di Ciputat aku bertemu sahabat-sahabat yang hebat, mereka teman sekelasku, mereka pintar, rajin, dan luar biasa. Ada yang ahli dalam berdebat, ahli dalam menulis, ahli dalam memotivasi, ahli dalam mengemukakan ide, ahli dalam berkomunikasi, dan banyak lagi. Aku sempat tak percaya diri pasti, mereka terlihat hebat di mataku, sedangkan aku apa?

Kegalauanku membuatku terus berpikir, apa yang harus aku lakukan? Hingga terbersit dalam otakku, bahwa aku harus mencari apa yang aku mau, dan akhirnya aku memilih hal yang aku suka yaitu tarian. Aku bergabung menjadi anggota tari Saman di Fakultasku, yaitu di Pojok Seni Tarbiyah. Di sana aku bahagia, walaupun tetap dengan gaya pendiamku. Namun rasanya masih belum puas, aku pun ikut UKM Teater Syahid. Di situlah aku mulai belajar yang namanya percaya diri. Teater adalah tempatku mengenal siapa aku, mengenal apa yang aku mau, mengenal kata kerja keras, megenal kata kesederhanaan, mengenal  kata kebersamaan, dan mengenal kata persaudaraan, di sana aku banyak belajar.

Pertunjukan teater bukanlah hal yang main-main. Panggung pertunjukan menjadi hal yang sakral bagi para aktor.  Aku tahu itu karena aku sempat melalui proses menuju panggung pertunjukan. Sebenarnya semua pertunjukan, apapun itu bentuknya, baik teater, tarian, atau musik, semuanya harus melalui proses latihan. Proses latihan menjadi sangat penting dan memengaruhi keberhasilan sebuah pertunjukan.

*Sedikit mengulas ingatanku ketika latihan teater, saat itu aku seperti para penari yang menari-nari di atas langit ketujuh, bebas dan tak ada yang melarangku, berteriak sesukaku, berlakon sesuai apa yang aku inginkan, mengenali siapa aku dan jemariku, mengenal malam, merasakan segala hal, dan melantunkan kata-kata yang aku suka. Dunia imaji, ya dunia yang ingin selalu aku geluti. Ya, aku menikmati saat-saat itu, amat sangat menikmati.

Kini aku membuka Seni Teater di sekolah baruku. Ilmuku memang amat sangat sedikit tentang seni pertunjukan, namun aku tidak akan berhenti belajar, karena aku suka.

Apa yang aku tuliskan adalah pengalaman. Pengalaman yang membuatku keluar dari sangkar, mengenal segala rasa.

Rute Cigombong Menuju Pusat Bahasa Sentul (PPSDK)

image

Tadi siang saya mengikuti acara seminar di Pusat Bahasa yang ada di Sentul. Sempat bingung pastinya, saya tidak tahu angkutan apa saja yang harus saya naiki menuju Pusat Bahasa. Saya pun mencarinya di google, tapi informasinya tidak mendetail, hanya rute menuju mall Bellanova saja. Hanya karena saya tidak tahu lokasinya, saya sempat ragu untuk datang atau tidak ke acara tersebut. Yapi akhirnya saya datang juga.

Sila dibaca rute Cigombong/Ciawi/Terminal Baranangsiang menuju Pusat Bahasa di Hambalang Sentul.

Dari Cigombong naik angkot Cicurug-Sukasari menuju Ciawi (Rp5000)
Dari Ciawi naik angkot Baranangsiang-Ciawi (Rp3500) turun di depan gang halte Trans Pakuan.
Dari sana beli tiket menuju Bellanova (Rp6000) setelah itu naik ojek sampai gerbang jalan raya (saya tdk tahu namanya apa, bilang saja mau ke Hambalang, dan turun pas sudah di jalan raya), naik ojek bayar Rp10.000 rupiah saja. Lalu naik angkot warna biru yang bertuliskan “Sentul” berhenti di depan gang IPSC, kemudian naik ojek menuju Pusat Bahasa (perkiraan saya bayar Rp10.000/Rp15.000 rupiah saja). Pulang pergi rutenya tetap sama.

Karena awalnya saya tidak tahu Pusat Bahasa Sentul itu di mana, akhirnya saya naik ojek dari Bellanova menuju Pusat Bahasa (lumayan jauh), ongkosnya Rp50.000, itu harga yang diminta pak Apip, salah satu tukang ojek yang ada di depan mall Bellanova. Sebenernya beliau menawarkan harga dari kisaran Rp60.000 atau Rp50.000, dan jelas saya pilih Rp50.000. Selama perjalanan pak Apip seperti pemandu wisata yang memberitahukan tempat-tempat khusus yang menjadi ikonnya Sentul.

Pulangnya saya ikut rombongan bis dari mahasiswa UIN, lalu turun di depan gang, dan melanjutkan perjalanan. Naik angkot-ojek-Trans Pakuan-angkot-dan angkot lagi. ^^)

Semoga tulisan ini bermanfaat.
Sebelumnyaa, terima kasih sudah membaca.

Judul Puisi: Waktu

Oleh Muzzamilah

Kulihat tugu tanpa hujan
Berkeliling bersama empat roda
Sambil berkata bak bianglala
Menanti tuju yang tak jua tiba

Terngiang subuh tadi
Kulihat kabar,
bendera kuning berkibar
Detik dan detak tak kembali

Semua cerita memiliki arti
Karena Sang Pencipta itu Maha
Jejak kita berlanjut kini
Demi masa kala waktu berhenti

Bersama roda
“Selamat tinggal”, ucap kita
Selepas pergi letih pun hampiri jua
Namun kutetap terngiang
Waktu yang ‘kan kita jumpa

#CeritaHariIni
#Puisiku
#Muzzamilah

Selamat Hari Guru

image

Tanggal 25 November bertepatan dengan hari guru nasional. Kita sebagai pendidik atau yang bernaung dalam dunia pendidikan sudah semestinya mengapresiasi hal itu. Tanpa guru maka siapa yang akan menjadikan tunas bangsa itu mengemban negeri di masa mendatang.

Guru tentu berperan penting dalam memajukan masa depan negeri ini, yaitu dengan menciptakan anak-anak yang berprestasi, kreatif, berakhlak, bermoral, dan terdidik. Guru tidak hanya sebuah profesi melainkan dedikasi tinggi demi mewujudkan tujuan pendidikan. Oleh karena itu, guru menjadi pilar penting untuk masa depan negeri.

Saat ini, banyak guru-guru yang tinggal ditempat yang tak layak dan mengajar di tempat seadanya karena kurangnya perhatian pemerintah. Seharusnya pemerintah peka terhadap kondisi pendidikan di negeri ini. Fasilitas sekolah harus di kedepankan, namun tidak mengenyampingkan kualitas si pendidik itu sendiri. Semua harus seimbang, sistem harus merata dan sesuai, serta pemerintah harus paham bahwa pendidikan yang akan menjadikan negeri ini lebih baik lagi.

Ada tanggung jawab besar di balik profesi guru. Banyak guru yang berstatus pegawai honorer dan kontrak. Namun para guru tetap semangat dalam mengajar dan memberikan dedikasi tinggi untuk dunia pendidikan.
Sayangnya status guru honorer telah dihapuskan padahal pendidikan saat ini belumlah merata sehingga dibutuhkan tenaga pengajar untuk daerah-daerah terpencil.

Butuh langkah tepat untuk penyebaran dan kualifikasi guru. Pemerintah di dorong untuk menyelesaikan masalah para guru saat ini.

“Semoga penghapusan status guru honorer dan langkah Kemendikbud untuk memberikan tunjangan kepada non PNS di tahun 2016 menjadi langkah pemerintah untuk membawa pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Dan itu bisa menunjang para guru untuk hidup lebih layak. (Semoga saja)”

Di hari guru ini, saya harap membuka mata dan hati para petinggi dan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahwa dedikasi itu amat sangat penting. Kini, bukan lagi berpikir berapa yang akan kita dapatkan melainkan apa saja yang sudah kita berikan. Karena guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Oleh Muzzamilah

#SelamatHariGuru
#MariWujudkanSiswaBerprestasi
#PendidikanAgamaAmatSangatPenting
#DemiSiswaBerakhlakBermoralBerprestasi
#GuruIndonesia
#MengajarUntukNegeri
#25November