Balai Pustaka

L A P O R A N

BALAI PUSTAKA
Pamusuk Eneste, Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern
Bogor, 09 April 2009
Oleh : Muzzamilah Zamil

Dalam bukunya, Pamusuk Eneste yang berjudul “ Ikhtisar Kesuastraan Indonesia Modern” berpendapat tentang Balai Pustaka yaitu kesusastraan modern tidak bisa dilepaskan dari Balai Pustaka dan Balai Pustaka tidak dapat lepas dari pemerintah kolonial Belanda Tempo Hari.

Dalam Sejarahnya awal mula Balai Pustaka terbentuk ketika pemerintahaan Kolonial mendirikan komisi untuk bacaan sekolah pribumi dan bacaan rakyat Commissie voor de inlandsche school en volkslectuur di ketuai oleh Dr.G.A.J. Hazeu dan Hal ini dimaksudkan untuk memerangi bacaan liar serta penyebaran ideologi tertentu.
Namun tugas Komisi terlalu banyak sehingga pada tahun 1917 pemerintahan Kolonial Belanda mendirikan Kantoor voor de volkslectuur atau Kantor Bacaan Rakyat yaitu Balai Pustaka.

Saat itu buku – buku terbitan Balai Pustaka dapat di bagi tiga. Pertama, buku untuk anak – anak. Kedua, buku hiburan dan penambah pengetahuan dalam bahasa daerah. Ketiga, buku hiburan dan penambahan pengetahuan dalam bahasa melayu dan kemudian menjadi bahasa Indonesia.

Pada awal pertumbuhannya Balai Pustaka banyak berperan. Buku – buku awal sastra Indonesia diterbitkan oleh Balai Pustaka. Pada saat itu banyak buku sastra yang di terbitkan oleh Balai Pustaka sehingga muncul istilah “Angkatan Balai Pustaka”. Novel – novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka antara lain adalah novel Merari Siregar; Ajab dan Sengsara (1920), Marah Rusli; Siti Nurbaya (1922), Abdul Muis; Salah Asuhan (1928), dan lain –lain.

Ketika tentara Jepang masuk pada awal tahun 40-an Balai Pustaka tidak banyak menerbitkan buku karena pada saat itu Balai Pustaka menjadi organ pemerintahan Jepang.
Zaman keemasan Balai Pustaka sekitar tahun 1948 hingga pertengahan tahun 50-an ketika dipimin oleh K.St.Pamoentjak. Dan mendominasi penerbitan buku – buku sastra dan sejumlah pengarang Indonesia bermunculan seperti H.B.Jassin, Idrus, M.Taslim Ali, dan lain – lain.

Sesudah pertengahan tahun 50-an sampai tahun 70-an, peranan Balai Pustaka tidak begitu menonjol dalam penerbitan buku Sastra, hal ini disebabkan karena sejak pertengahan tahun 50-an status Balai Pustaka selalu berubah – ubah , sesuai dengan kebijakaan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang sedang memegang jabatan.

Sejak pertengahan tahun 50-an, 70-an, dan sampai tahun 80-an, Balai Pustaja yang berada di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI hanya melakukan cetak ulang buku – buku yang sudah di terbitkan, mencetak buku – buku pelajaran dan soal ujian.

Masuknya Subagio sastrowardoyo ke Balai Pustaka sejak awal tahun 80-an, Balai Pustaka mulai aktif dalam penerbitan buku sastra, di samping itu terus menerbitkan buku – buku pelajaran. Di tahun 80-an Balai Pustaka tidak besar peranannya di bandingkan tahun 20-an, tahun 30-an, atau tahun 1948 hingga pertengahan tahun 50-an. Sebab tahun 80-an sudah banyak penerbit – penerbit swasta yang muncul yang aktif menerbitkan buku sastra seperti Pustaka Jaya, Djambatan, Gunung Agung, Sinar Harapan, Gramedia, dan lain – lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s