Hanya Kata – kata

  • Arloji Tua Milik Kakekku.

Pada malam pukul 00:01 ku langkahkan kakiku menuju mimpi dan imaji, tepatnya di antariksa.
Aku pun menatap satu-satunya warisan dari keluargaku yaitu arloji tua milik kakekku.
Ya, arloji tua milik kakekku.
Dengan putaran angka satu sampai dua belas kini membawaku pada ketakutan, ketakutan akan adanya waktu, entah mengapa waktu terus mengaung dan menarikku, padahal aku tak sanggup mengejarnya, ya tak sanggup.
Pikirku saat itu waktu hanya membual akan kenyataan, tak ada kata konkrit sama sekali yang ia tawarkan, namun kini hanyalah kesemuan pandanganku pada arloji tua milik kakekku dan ruang putih penuh kain putih serta cat dan selimut putih.
Semakin lama langkahku makin cepat bak pesawat Z. Aku tahu aku terlalu berlebihan menyimak makna kehidupan,
mungkin,
apa karena aku seorang manusia yang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang aku inginkan?
Apa aku manusia lemah yang sulit menerima keadaan pahit?
Apa aku manusia pinggiran yang sok punya harga diri dan menggumbar kebahagian?
Arghh..!! untuk apa aku memikirkan kepalsuan hidup manusia. Lebih baik ku terus awasi waktu di depanku yang kini sudah mulai meninggalkanku sedikit agak jauh.
Malam.. Malam.. Malam..
Penuh dengan kesenyapan, kesunyian, diam, hampa, dan rasanya tak ada manusia selain aku.
Suara detak arloji tua milik kakekku yang kini setia menemaniku walau waktu sedikit memudarkan wujudnya.
Lagi dan lagi aku berlari, mengejar menuju mimpi dan imaji.
Namun, entah waktupun terus berlari, sulit ku mendampingi waktu yang kupikir tadinya akan membantuku, menuju mimpi dan imaji.

Fuch.. Mending ku hentikan langkah kaki dan memejamkan seluruh jiwa, raga, dan sukma.
Selamat tinggal arloji tua milik kakekku.
Mungkin ku takkan pernah sanggup raih kebahagian dengan kaki dan tangan tak berroh ini.

Kembali ku berimaji dan bermimpi.

  • Kisah Yang Aneh

Kisah yang aneh.. Yang terjadi pada setiap manusia. Mungkin?

>Aku tak mengerti dengan perasaanku kini padanya. Tapi, jika ia berada di hadapanku dan melintasi bayanganku, sekejap jantungku berdetak lebih dibatas kenormalan manusia biasa.
Aku pun tak mengerti mengapa begitu?

Berawal dari suatu kisah masa lalu yang tak henti-hentinya melekatkan diri dalam sukmaku, dan rasanya ingin sekali ku melepasnya.

Kini, cinta yang semu itu tersurat dalam balut ponsel, tak sengaja ku menuliskan namanya di ponselku, mengapa? namun, masih dan masih imaji mengkhayalkan rautnya.
Aku mohon, lenyaplah segera.

Tahukah kau? Kau adalah yang pertama dalam hidupku, mengalahkan segala rasa kebahagian yang ada dalam semesta ini. (sedikit agak lebai, perasaan yang berlebihan dan jangan ditiru)
Tidak!!
Aku tak seharusnya memikirkan ketidak nyataan itu, keabstrakan yang membuatku sulit menjalankan kisah indahku.
Dan tahukah kau, kala itu pedih rasanya ketika hatimu terus menyuarakan si dia, dia yang tak ku kenal sama sekali, dia yang tak lepas dari bibir manismu, dia yang menggantikan namaku di hatimu, ya dia..
Tapi, ya sudahlah. Ini salahku, mengapa ku tak bisa menjadi orang yang lebih berani. Dan mengungkapkan kebenaran itu.
Sekarang, maafkan aku..
Maafkan aku karena dulu, sekarang, ya.. selama ini ku tak bisa tampakan apa yang seharusnya ku ungkapkan secara langsung padamu, jujur.. Ku masih merindumu..

  • Aku Bingung (1)

Lagi dan lagi ku menatap layar ponselku, di malam yang tak senyap ini ku mulai berimaji tentang apa yang seharusnya aku lakukan kemarin, kini, besok, dan lusa.
Suara televisi, lika liku mereka yang tertidur pulas, omelan seseorang terhadap tugas yang tak bisa ia selesaikan dr kemarin lusa, gangguan nyanyian serangga-serangga kecil penghisap darah manusia, sapaan hembusan angin kipas angin, kini menjadi satu kesatuan dalam pikiranku.
Aku tak tahu apa yang seharusnya aku lamunkan, pelajarankah? Orangkah? Organisasikah? Sastrakah? Tugaskah? Janjikah? Dan apakah? Fuch… Aku bingung.
Kini ku tatap semua yang ada di kamarku, lemari pelastik, lemari kayu, kilauan lampu, bisunya dinding batu, ornamen kayu atap rumah yang mulai tak terlihat baru, helm pacar baru temanku, tas biru, buku, juga benda-benda sahabat mahasiswa lainnya.
Kembali aku bingung, apa yang aku pikirkan?
Ku buka lemari plastik berwarna hijau kelabu, dan melihat buku-buku, tak ada yang baru, tapi menarik tuk aku baca kembali.
Satu persatu, ku jelajahi judul dan sinopsisnya, tanpa ragu ku pilih buku karya mas Putu, hem.. Dan akhirnya ku tetidur tanpa ragu.
Kini,
Tak kupikirkan kebingungan yang sedari tadi menjelma dibayanganku.

  • Gadis Kecil Di Bawah Pohon Rindang

Di bawah pohon rindang, gadis kecil menatap jalan kota. Tanpa kata.

Ia berlutut menatap jalan kota. Tanpa kata, hampa, haru, bingung, mengapa?, kenapa?, seandainya?; penuh dalam benak si gadis kecil.

“Mama.. Bapak.. Kaka.. Tante.. Om.. Kakek.. Nenek.. Teman.. Sahabat.. Cinta.., di mana kalian berada, ku memanggil, dan mengapa tak bersua.. ” bisik si gadis kecil, tanpa suara.
terus dan terus menatap hiruk pikuk jalan kota.
Kesibukan yang kini dipikirkannya, kesibukan orang-orang yang membuatnya bingung akan makna kehidupan.
Apa yang mereka kejar?
Apa yang mereka cari?
Uangkah?
Nasikah?
Kebahagiankah?
Kepopularitasankah?
Apa?
Lalu, mengapa aku diacuhkan? Apa aku bukan bagian dari mereka? Akukan manusia!. Apa aku hanya butiran debu penumpuk sampah kota. Apakah aku manusia yang terbuang dan tak berguna, menjijikankah diriku yang bisu ini? Aku butuh mereka, tolong aku… Aku hanya gadis kecil tak berdaya.
Tenang saja! aku tak akan memakan uang anda, aku hanya butuh uraian tangan anda, tak mungkin ku mengambil hak yang bukan resmi milikku.
“Tolong aku!” jerit si gadis kecil.
Tubuhnya merangkak tanpa kaki dan tangan yang sempurna, terus menjerit, teriak, walau kata penuh dengan kesenyapan yang nyata, ya, dia tak bisa berbicara.. Berkata tanpa suara dan nada..

Di bawah pohon rindang, gadis kecil menatap jalan kota. Tanpa kata.

  • Aku Bingung (2)

Apa yang ingin aku tulis? Aku bingung!, kata-kata apa lagi yang harus aku umbar kini? aku bingung!..
Oya… Jujur pada lubuk hati, aku malu.. Aku malu.. Aku malu..
Tersirat ku membayangkan, siapa yang membuat kedamaian ini? siapa yang membuat kebebasan ini? siapa yang membuat rasa nyaman ini?. Tanpa ada permusuhan, kekuasaan, perebutan tahta, kasta, dan banyak lagi keburukan manusia.. (walau tak bisa dipungkiri ketika manusia dalam setiap detiknya slalu menjalin pesahabatan dengan syetan) kadang keburukan akan slalu ada dan sulit mengelupas pada diri jiwa manusia.
Inikah khayalku ini?
Inikah lamunanku ini?
Inikah ketidak sadaranku ini?
Apakah hadir karena rasa bahagia dan susah yg terkadang menghampiriku sesuka hatinya sendiri.
Apakah terlahir karena kata-kata yg tak sengaja menyapa otak kanan dan otak kiriku?.
Atau, apakah karena malas yg tiba2 menyeruak masuk pada fikirku?

Aku lupa pada mereka. Mereka yang memperjuangkan jiwa raga untuk kediaman kita sekarang ini, akan kebebasan kita, akan kedamaian kita, akan kebahagiaan kita.
Tapi aku malu… Aku malu… Aku malu… Aku lupa mereka! Siapa? Kapan? Di mana? Apa? Bagaimana? Mengapa? Aku lupa… Aku lupa… Aku lupa…
Dengan darah demi kita, dengan raga demi kita, dengan pemikiran demi kita, tapi kita? Apa yg kita lakukan? Hanya makan, tidur, nonton, menggosip, ricuh, dan lain-lain.

Maafkan aku.. Maaf..
Ketika mega hanya bisa menatap debu-debu pasir namun tak mampu menyentuhnya, ketika langit tak lagi memberi keteduhan pada lapis bumi yang mulai meledakkan dirinya, ketika manusia mulai selalu mengkambing hitamkan rekan mereka. Dan… Inikah makna dan hasil perjuangan yg kami lakukan??? Mengecewakan mu dan sahabat-sahabatmu, dengan perpecahan yg terjadi saat ini..
Maafkan aku..
Walau kau kau terkubur dalm raga itu, tapi juang dan semangat slalu menyelimuti bumi dan sejarah ini. Walau sejarah tak terjamah, entah nasib kita pada masa yang akan datang…
Tetaplah mencintai negerimu, seperti mereka yg mempertahankan kesatuan negiranya.

By: Muzzamilah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s