Resume Kepribadian Qur’ani

Resume Kepribadian Qur’ani

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Rif’at Syauqinawawi, MA.

Oleh : Muzzam.

  1. A. Tentang Kepribadian
  • Pengertian

“Pribadi/Person” yang artinya individu atau diri. “Kepribadian/Personality” yang pada mulanya dari bahasa latin “per” dan ”sonare”> yang kemudian dikembangkan menjadi kata “persona” yang berarti topeng. Definisi umum tentang kepribadian yaitu organisasi dinamis dalam diri individu sebgai sistem  psikofistik yang menentukan caranya yang khas (unik) dalam menyesuaikan diri dari lingkungannya. (GW. Allport, Personality: A Pschology Interpretation, 1973, h.48). Kepribadian selalu berkembang. Sebagai sistem psikofistik bahwa kepribadian bukanlah semata – mata faktor fisik, meliputi kerja jiwa dalam kesatuan yang utuh di antara fisik dan jiwa.

  • Pengembangan Kepribadian

Abraham Maslow menyebutkan bahwa seseorang dapat mengaktualisasikan dirinya jika mempunyai sarana untuk memberi kepuasan terhadap tuntutan esensial.

Karel Rogerz; pendiri sekolah psikis yang berorientasi pada pasien. Menjelaskan ciri – ciri umum kepribadian seimbang yang disimpulkan dari problem dan perjalananya dalam proses produksi yaitu:

  1. Bersikap terbuka
  2. Hidup secara eksistensialistik
  3. Dalam struktur keanggotaannya ia menemukan hal yang dipercaya untuk mencapai tingkah laku yang memberikan kepuasan dalam kondisi nyata

Erich Fromm membatasi lima klasifikasi kepribadian manusia, yaitu:

  1. Kepribadian yang selalu bersikap pasrah dan pasif.
  2. Kepribadian Vested Interest (selalu ragu, cemas, iri, cemburu, dan selalu meremehkan dan merendahkan orang lain)
  3. Kepribadian yang suka menyimpan yang bersifat lemah iman terhadap setiap perolehan sesuatu dari luar (umumnya teratur dan rapi, menjadwal waktu dengan ketat, dan tidak senang melihat sesuatu tidak pada tempatnya)
  4. Kepribadian berorientasi pasar
  5. Kepribadian produktif
  • Kepribadian yang kuat

Suatu sifat kepribadian didefinisikan sebagai suatu kualitas tingkah laku seseorang yang telah menjadi karakteristik atau sifat yag khas (unik) dalam seluruh kegiatan individu, dan sifat tersebut bersifat menetap (Robert M.Liebert dan Michael D. Spiegler, 1974, h.15).

Dalam perspektif psikologi, kepribadian manusia pada garis besarnya ada yang positif dan negatif. Termasuk pada kepribadian positif:

  1. Adventurous; sifat berani karena benar
  2. Energentic; bersemangat tinggi
  3. Consciention; Sifat jiwa yang mendorong untuk jujur dan bertindak sesuai kata hati
  4. Responsible; bertanggung jawab atas segala kepercayaan yang diberikan kepada dirinya
  5. Sociable; Supel dan pandai bergaul
  6. Ascendeant; memiliki kecenderungan memegang pimpinan
  7. Intelligent; cerdas, memiliki wawasan yang luas
  8. Generous; berjiwa pemurah, dermawan dan suka menolong
  9. Talkactive;ringan dan mudah berbicara

10.  Persistent; gigih dalam berusaha

11.  Tenderhearted; rendah hati dan tidak sombong

12.  Realible; dapat dipercaya

  • Kepribadian Manusia Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menjelaskan kepribadian manusia yang membedakan dengan makhluk lain. Dalam firmanNya (QS. Asy-Syams/91: 7-10) Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa , dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Pada dasarnya manusia diberi bekal kebaikan dan keburukan serta dapat membedakannya melalui bimbingan dan faktor lainnya. Selain bekal yang bersifat fitri, terdapat potensi yang mengarah pada esensi manusia dan kualitas jiwa. Mengembangkan potensi kebaikan dan mengalahkan keburukan  maka ia beruntung. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucika jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams/91: 9-10)

Kebenaran diketahui ketika manusia mencoba mempelajari alam dan menalar segala sesuatunya. Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh – sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS.Al-Insyiqaq/84:6)

Manusia telah bekerja untuk memperoleh harta benda, kita tidak mungkin mencapainya tanpa kesungguhan dan kerja keras. Hakikat kerja keras berada di sepanjang kehidupan manusia, sedang tujuan akhirnya mencapai keridhaan Allah.  – Dan bahwa seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwa Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis – (QS.An- Najm/53: 39-43). Ketika manusia merasa bahwa akhir dari segala sesuatu adalah Allah, maka ia akan menyadari tentang akhir kehidupannya.

  • Pola – pola Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an

Manusia adalah makhluk yang berkeyakinan; meyakini adanya benar dan salah. Ia dibekali kekuatan, ditandai dengan rasa takut, dan cinta. Ini merupakan sebab awal dan terpenting dari lahirnya kepercayaan; bahwa manusia tidak dapat merealisasikan kemanusiaannya dalam hidup kecuali dengan iman. Kepercayaan itulah yang memberi manusia posisi, maka dalam hal ini dikategorikan menjadi yang percaya terhadap sesuatu dan yang mengingkarinya. Al-Qur’an menjelaskan contoh manusia dari sisi dimensi aqidah yaitu Al-Mukmin (Orang – orang yang mukmin), Al-Kafirun (orang – orang kafir), Al-Munafiqun (orang – orang munafik) dan lain – lain.

  • Kepribadian Qur’ani

Kepribadian Qur’ani adalah kepribadian (personality) yang dibentuk dengan susunan sifat – sifat yang sengaja diambil dari nilai – nilai yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an.

  1. Jiwa Qur’ani

a)    Jiwa yang Beriman: Jiwa yang secara langsung memperoleh cahaya iman yang tertanam di dalam hati, jiwa yang mendorong secara kuat lahirnya perbuatan – perbuatan yang bermanfaat, baik untuk individu maupun masyarakat.

b)   Jiwa yang Tenang: Jiwa yang mempunyai kecenderungan semakin dekat dengan Tuhan.

c)    Jiwa yang Rela: Jiwa yang puas dalam menerima segala pembagian dan pemberian Tuhan sehingga merasa puas dan bahagia.

d)   Jiwa yang Sabar: Jiwa yang tekun dan sungguh – sungguh dalam mencapai cita-cita, dan diraih dengan kesabaran. Sesungguhnya Allah akan menyertai orang – orang yang sabar

e)    Jiwa yang Tawakal: Jiwa individu yang setiap kali melakukan dan memperjuangkan sesuatu perbuatan, dipasrahkannya perbuatan itu kepada Tuhan

f)     Jiwa yang Jujur: Jiwa yang mendorong tercetusnya penuturan atau perbuatan secara jujur, sesuai kata hati, tidak terbersit berbuat curang dan merugikan orang lain.

g)    Jiwa yang Amanah: Jiwa yang tidak hanya jujur, tetapi juga teguh dalam mengemban kepercayaan serta menyadari bahwa amanah yang diterimanya itu berasal dari Tuhan.

h)    Jiwa yang Syukur: Jiwa yang menjadi sumber pendorong untuk mengelola dan mentasaufkan segala yang dianugrahkan Tuhan sesuai tuntunannya demi memperoleh keridlaannya.

i)      Jiwa yang Cerdas: Jiwa manusia yang menjadi inspirator lahirnya tindakan – tindakan yang tepat untuk menyayangi dan mengasihi pihak/orang lain, serta menghindari implus yang meledak – ledak.

j)     Jiwa yang Berani: Jiwa yang mendorong sifat keberanian dan tidak adanya rasa takut, penuh rasa percaya diri, aman dan sukses.

k)   Jiwa yang Optimistis: Jiwa ynag melihat kehidupan ini penuh peluang dan harapan, sehingga melahirkan jiwa yang besar dan pikiran positif terhadap ke Maha Kuasaan Tuhan.

l)      Jiwa yang Pemurah: Jiwa yang mendorong untuk suka memberi,  dan menolong.

m)  Jiwa yang Tobat: Jiwa yang setiap kali terjadi tindakan salah menurut pandangan agama dan masyarakat, segera kembali kejalan kebenaran dengan menyesali tindakan salahnya, dan berencana melakukan kebaikan – kebaikan.

n)    Jiwa yang takwa: Jiwa individu yang berkomitmen untuk secara sunguh – sungguh menjauhkan diri  dari perbuatan – perbuatan buruk yang memang dilarang Tuhan dan melaksanakn hal-hal yang diperintahkan-Nya.

  • o)   Jiwa yang Ihsan: Jiwa yang senantiasa mendorong peningkatan  amal-amal lebih baik ketimbang sebelumnya dan setiap amal  dikerjakan seolah – olah Allah menyaksikan kinerja yang dilakukan.

p)   Jiwa yang Istiqamah: Jiwa yang selalu merasa sadar untuk taat asas dan berpegang teguh pada apa yang diyakini, serta berpegangan pada  pedoman yang ada. Jika kebenaran  agama yang diyakini, maka agamalah yang menjadi rujukannya.

q)   Jiwa yang Bahagia: Jiwa yan merasakan suasana baik, menyenangkan, dan menggembirakan, di mana segala yang terjadi dan dirasakan dalam kehidupan sesuai dengan keinginan yang ada.

Menerapkan sifat-sifat tersebut menjadi pakaian jiwa, dan manusia yang memakainya maka akan tampil menjadi manusia yang indah, dan akan disenangi Tuhan dan manusia pada umumnya.

  1. C. Menghidupkan Hati
  • Menghidupkan Hati

Tidak semua orang yang beragama hatinya betul – betul hidup, di antara mereka ada yang hatinya mati, tidak memberi pengaruh positif terhadap tindakannya. Salah satu pertanda manusia hatinya mati ialah bahwa hatinya tidak mepunyai perasaan, tidak peka akan keadaan lingkungan. Agar hati tidak selalu mati harus ada upaya menghidupkannya yaitu dengan mendinamisasikan iman yang ada dalam hati, menghidupkan kembali kesadaran agama yang telah ditanamkan Tuhan.

  • Mengembangkan Hati dalam Cinta

Ada sesuatu yang masuk ke dalam hati, memenuhi relung hati berupa rasa senang, suka, bahkan rasa ingin memiliki, dengan kebaikan, keistimewaan, kelebihan yang telah menimbulkan rasa cinta.

Orang yang punya hati pasti memiliki cinta menurut Al-Quran dan hadits, seorang mukmin mestilah mengembangkan cintanya untuk Allah dan Rasulnya, Allah SWT berfirman: “Dan orang – orang yang beriman (tentunya) lebih besar cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah/2:165). Jatuh cinta kepada selain Allah, haruslah dilandaskan cinta kepada Allah karena kalau tidak, akan mendatangkan penyimpangan yang berbahaya. Dengan demikian, cinta kepada Allah dengan berbagai konsekuensinya merupakan sesuatu yang niscaya tidak boleh tidak, sehingga upaya pengebangan hati menuju cinta kepada Allah pastinya merupakan upaya terpuji dan mulia. Hasilnya berupa kualitas cinta dihati.

  • Membuka Hati Agar Dekat dengan Allah

Membuka hati untuk beriman merupakan syarat mutlak  untuk mendekatkan diri kepada Allah.

  • Menghilangkan Penyakit Hati

Hati yang bersih merupakan salah satu syarat masuk surga. Kewajiban mukmin ialah menjaga hati dan iman agar produktif menghasilkan amal-amal salih, mukmin wajib menghilangkan penyakit – penyakit hatinya yaitu syirik, sikap ragu, sombong, iri, dengki, merasa diri besar, pengecut, nifaq, dan lain – lain. Yang mengindikasikan lemahnya iman.  Kepribadian yang kuat menurut psikologis adalah kepribadian yang secara jelas memilki sifat – sifat kepribadian yang positif, sifat – sifat tersebut yaitu, berani, bersemangat, jujur, bertanggung jawab, cerdas, murah hati, dan lain-lain. Demikian sifat – sifat yang positif ini yang seyogianya upaya menghilangkan penyakit-penyakit hati.

  • Menjaga Hati dari Gangguan Setan

Menjaga hati yakni menjaga/memelihara apa yang bertahta di dalamnya yakni iman. Iman berfungsi sebagai bengkel penangkal setiap gangguan, baik gangguan internal (hawa nafsu) maupun eksternal (setan). Setan senang membisiki mukmin agar cenderung tidak mentaati apa- apa  yang menjadi kata hatinya. Al-Quran berkenan dengan menjaga hati. Menjaga hati dari hal-hal yang dapat mengotori berarti kita berupaya memaksimalkan untuk menjauhkan diri dari tindakan maksiat dan segala perbuatan yang jahat. Sabda Nabi saw: “Jauhilah perbuatan yang zhalim, karena perbuatan zhalim itu merupakan kegelapan pada hari kiamat.” (Hadits dari Jabir bin Abdullah. Riwayat )

  • Membersihkan Hati dengan Zikrullah

Pembersihan hati atau pembersihan diri harus dilakukan untuk menghilangkan bekasan – bekasan negatif.  Dalam rangka menjaga kestabilan fungsinya tersebut hati harus selalu dalam proses pembersihan agar dalam keadaan salim selalu.

Begitu banyak perintah dzikrullah (dzikrullah dalam arti selalu mengingat Allah, akan membuat hati bersih dan sehat) dalam Al-Quran dan hadits. Dzikrullah pada hakekatnya adalah keadaan hati yang selalu mengingat Allah. Pokoknya, media apa saja yang dapat menimbulkan suasana mengingat Allah dipandang sebagai dzikrullah.  Dzikrullah merupakan rem yang paling ampuh untuk tidak terjerumus ke dalam limbah nista, dan merupakan cara yang paling efektif dalam proses pembersihan hati/diri.

  • Hati yang Bersih dalam Sejarah

Hati yang bersih dalam pandangan Al-Quran  adalah sesuatu yang empiris.  Tidak hanya nabi Muhammad saw yang menjadi uswah hasanah bagi kehidupan umat islam tetapi, juga Nabi – Nabi yang lain, karena terdapat kisah – kisah tauladan yang baik.

  • Mewaspadai Bolak – baliknya Hati

Kondisi hati tidaklah tetap, tetapi selalu berubah/bolak – balik perlu memperoleh kewaspadaan  yang serius dalam memperoleh hasil akhir yang baik, karena itulah keimana senantiasa harus dijaga. Iman yang ada dalam hati seorang mukmin merupakan modal dalam menapaki jalan kehidupan yang penuh ujian, godaan, dan cobaan. Menjaga iman sama dengan menjaga hati. Dalam hal ini manusia memiliki perbedaan tingkatannya, satu hal yang perlu diketahui dan sadari bahwa amal manusia dilihat dari babak akhir kehidupan. Oleh karena itu, setiap mukmin wajib mewaspadai kondisi bolak – baliknya hati, tetaplah meneguhkan hati dalam mengikuti sistem kehidupan yang telah diberikanNya, yaitu sistem kehidupan Islam.

  • Hati yang Bersih akan Menerima Rahmat Allah

Yang menerima rahmat dan cintaNya tak hanya hatinya, tetapi manusia atau orang yang dalam kehidupan ini memiliki hati yang bersih, kondisi ini seharusnya dipersiapkan jauh waktu sebelumnya dalam menjalankan kehidupan dunia.

Agama Islam bersumber pada Al-Quran dan Al-Sunah yang memberikan petunjuk:

  1. Meraih Rahmat Allah

Untuk mendapatkan rahmat dan surga bukanlah hanya amal ibadat saja, tetapi juga kondisi hati yang bersih dan suci kemampuan nyata dalam menyebarkan rahmat dan kasih sayang kepada mahlukNya.

  1. Meraih Cinta Allah

Untuk meraih cinta Allah, kita mesti mengembangkan cinta kita kepada Allah.

  1. Pesan Membumikan Al-Qur’an
  • Al-Qur’an Hidayah Allah SWT

Al-Quran adalah kalam Allah yang berupa mukjizat  yang diturunkan olehNya kepada manusia melalui Jibril dengan perantaraan Rasul terakhir yaitu Muhammad saw, yang berfungsi utama sebagai petunjukNya bagi manusia sebagai mahluk psikofisik  yang bernilai ibadat membacanya tanpa petunjukNya manusia akan tersesat. Allah menurunkannya pada bulan Ramadhan yang berisi penjelasan – penjelasan mengenai petunjuk – petunjukNya itu.

Fungsi utama Al-Quran sebagai hidayah (petunjuk) bagi manusia dan mengelola hidupnya di dunia secara baik dan rahmat untuk alam semesta  lalu pembeda bagi yang hak dan batil serta etika – etika yang patut dipraktikan manusia dalam kehidupan mereka.

  • Al-Qur’an Suatu Kekayaan Sempurna

Al-Quran menggambarkan dirinya sebagai tibyan(an) li kulli syai (penjelasan bagi segala sesuatu) (QS. Al-Nahl/16:89). Al-Quran telah ada pokok- pokok agama, norma – norma, hukum – hukum dan tuntunan untuk masalah mental dan moral untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Yang akan dengan mudah memenuhi segala kebutuhan manusia, dahulu, sekarang, dan nanti.

Nabi saw bersabda: “Al-Quran adalah suatu kekayaan. Tak ada kefakiran setelah datang al-Quran dan tidak ada kekayaan selainnya.” (HR. Imam al-thabrani, dalam al-mu’jam al-kabir ,jil,l,h,255)

Al-Quran menawarkan segala hal; dibidang aqidah, bidang ritual, bidang akhlak/moralitas, bidang social, dan banyak lagi.

Yang dimaksud ungkapan “tak ada kefakiran (al-fakr) setelah datangnya Al-Quran” ialah semestinya umat Islam tidak lagi dalam kondisi fakir, sebab Al-Quran telah diberikan kepada mereka yang justru fungsi utamanya adalah petunjuk Tuhan (hudan li al-nas). Yang terbaik bagi umat islam adalah mengamalkan petunjuk Al-Quran.

  • Akhlak Nabi Muhammad SAW Al- Qur’an

Orang yang utama dan pertama mengamalkan Al-Quran hingga ajaran kitab ini menjadi akhlaknya adalah Muhammad saw. (QS. Al-Ahzab/33:21)

Islam yang di bawa Rasul, Al-Quran landasan utamanya, kesabaran, kecerdasan, keberanian, kedermawanan, kejujuran, optimisme, keluhuran budi, dan kemampuannya berorganisasi tak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Muhammad saw memproklamirkan kekuasaan Tuhan dan membebaskan manusia dari perbudakan, Muhammad-lah yang menggerakan pendidikan, beliau memberi teladan kepada dunia untuk diikuti. Seandainya bukan karena petunjuk Allah (Al-Quran) sesungguhnya Muhammad dalam kebingungan, seperti firmanNya; “Dan Dia  mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS. Ad-Duha/93:7)

Menurut Ibnu Taimiyah (w. 726H) “Umat Islam wajib meyakini Rasulullah pasti telah pernah menjelaskan (menafsirkan) maksud-maksud Al-Quran dan juga pasti telah mengamalkannya”. Pengamalan Al-Quran oleh Rasulullah pastinya terdapat dalam sunahnya, maka mempelajari dan mendalami Al-Quran dalam mengamalkan isinya, tidak boleh mengabaikan sunah karena itu pasti dan mutlak.

  • Kebahagiaan dan Kesengsaraan dalam Al-Qur’an

Kebahagiaan dan kesengsaraan menurut informasi Al-Quran, konsep kebahagiaan yang ditawarkan dikenal dengan konsep sa’aadah al-daarain (kebahagiaan di dunia alam) jalannya adalah dengan cara mengamalkan ajaran Al-Quran dan sunah Rasulullah saw.

Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)”. (QS. Haha/20:2-3). Bahkan dijelaskan misi kedatangan Rasul mengantarkan Al-Quran semata-mata merupakan rahmat bagi semua (QS. Al-anbiyah/21:107)

Konsep sa’aadat al-daarain

Konsep kebahagiaan (sa’aadah), menurut ajaran tersebut, kehidupan adalah sesuatu yang mulia dan sangat berharga. Ajaran Islam memperkenalkan dua jenis “kehidupan” pertama yaitu kehidupan manusia di bumi yang sangat terbatas ruang dan waktunya dikenal dengan kehidupan dunia (al-hayaat al-dun-yaa), bersifat tidak kekal. Kedua yaitu, kehidupan di alam akhirat yang mutunya lebih tinggi karena tidak terbatas dan sifatnya abadi. Alam akhirat (lazim disebut alam baqa) merupakan tempat dan saat perhitungan akhir.

Al-Quran sangat realistic membicarakan peri kehidupan manusia dan keberadaannya dalam realita alam dunia (alam al-syahaadah). Segala kebutuhan jasmani manusia diberinya tempat yang wajar  dan manusia diperluas wawasannya dan diarahkan pandangannya untuk mengenal suatu kehidupan yang berkualitas lebih inggi, yaitu alam baqa di akhirt. Wallahu a’lam.

  • Upaya Membumikan Al-Qur’an dalam Kehidupan Kesehariaan I

Dalam sejarahnya, pada zaman Nabi, umat Islam lebih banyak mengandalkan hafalan Al-Quran dibandingkan dengan penulisannya. Karena selain disebabkan penulis dan ala-alat tulis yang langka tetapi juga karena masyarakat Arab-hingga kini- lebih- lebih dulu sangat kuat dalam menghafal.

Ketika Nabi wafat, atas usul sahabat Nabi  Sayyidina Umar ra, maka sayyidina Abu Bakar ra memerintah agar naskah – naskah yang ditulis  dihadapkan Nabi  saw itu dikumpulkan kembali. Al-Quran sangat terjaga otensititasnya bagi umat Islam dan juga adanya jaminan pemeliharaan Allah, sesuai firmanNya: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya”(QS. Al-Hijr/15:9), jaminan pemeliharaan tersebut yakni;

  1. Pemilihan waktu, tempat, dan sosok manusia yang menerimanya (QS. Al-An’am/6:124)
  2. Pemeliharaan saat penyampaiannya (QS. Al-Jin/72:26-27)
  3. Pemudahan penghafalan dan penarikan makna-maknanya (QS. Al-Qamar/54:17)

Keluwesan Al-Quran dan kekenyalan AL-Quran. Keluwesan/fleksibelitas ajarannya itulah yang mampu menjadikannya sesuai dengan perkembangan positif masyarakat, karena:

1. Al-Quran memperkenalkan dua macam nilai ajarannya, yang pertama mendasar bersifat unifersal, dan abadi karena itu dinamai juga Ats-Tsawabit. Kedua, praksis, local dan temporal, ia dinamai Al-Mutagayyirt yakni yang berubah (QS. Ali Imron/3:104)

a. alkhair; nilai universal yang menyangkut ketentuan yang berkaitan dengan keperluan – keperluan manusia yang tidak dapat berubah dan terdapat dalam Al-Quran dan sunah.

b. al-ma’ruf; sesuatu yang baik menurut pandangan umum satu masyarakat selama tak bertentangan  dengan alkhair ma’ruf adalah hak/kebenaran yang diakui tidak dapat diukur dengan waktu karena terus berubah dan berkembang.

2. Al-Quran tidak menekankan bentuk formal menyangkut perkembangan ilmu dan teknologi. Al-Quran dan sunah lebih pada sisi substansi dan jiwa ajaran

3. Al-Quran memperkenalkan Ijtihad, yakni upaya sungguh – sungguh untuk menemukan hokum atau tuntunan agama melalui dalil-dalil Al-Quran dan sunah

4. Al-Quran dan sunah memperkenalkan “Hak Veto” yaitu kendati telah ada ketetapan – ketapan hukum yang pasti, tetapi bila lahi dari pelaksanaannya mudarat/kesulitan, maka ketetapan hokum tersebut dapat di veto, sehingga berganti/ berubah menjadi lebih ringan bahkan batl secara hokum.

Membumikan Al-Quran bukan saja melalui upaya memelihara otensitasnya, dengan hafalan, dan tulisan tetapi juga dengan memahami pesan – pesannya yang disesuaikan dengan perkembangan positif masyarakat tanpa menyimpang teks atau ushuludin (prinsip-prinsip pokok ajaran agama)

  • Upaya Membumikan Al-Qur’an dalam Kehidupan Kesehariaan II

Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang berisi nilai – nilai universal kemanusiaan. Al-Quran bukanlah kitab antic, karena anggapan ini dapat menciptakan jarak antara Al-Quran dengan realitas social. Makna “membumikan Al-Quran” yaitu melakukan upaya terarah dan sistematis di dalam masyarakat , pada masyarakt membutuhkan proses panjang. Dalam asas pembumian Al-Quran terdpat tiga prinsip yaitu meniadakan kesulitan, pembatasan beban, penetapan hokum secara berangsur – angsur.

  • Upaya Membumikan Al-Qur’an dalam Kehidupan Kesehariaan Umat Islam III

Membumikan Al-Quran yakni agar Al-Quran yang merupkan pesan dari langit, hidayah Allah SWT betul – betul dibuktikan oleh manusia  yang tinggal di buki sebagai pedoman hidupnya (way of life). Alangkah indah keadaan bumi yang memperoleh cahaya Tuhan ataupun cahaya dalam arti metafor sebagai cahaya Al-Quran.

Kesimpulan

Kepribadian selalu berkembang dan berubah, dapat diberi proses pembentukan sehingga menjadi kepribadian yang kuat. Al-Quran memandang sifat –sifat itu merupakan sifat – sifat yang positif  karena adanya dengan kesejalanan dengan kitab suci dan yang terpenting bagi makhluk multi-dimensi yaitu menangani hati selain mengurusi kepribadian dan jiwa. Pesan dalam mebumikan Al-Quran adalah mendorong kaum muslimin agar menerima Al-Quran sebagai pedoman hidup serta mengamalkan dan mengaplikasikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s