Pendekatan Ekspresif “Rubaiyat Matahari” Jamal D. Rahman Ekspresi dan Apresiasi sastra

RUBAIYAT MATAHARI

Jamal D. Rahman

1

Dengan bismilah berdarah di rahim sunyi

Kueja namamu di rubaiyat matahari

Kau denggar aku menangis sepanjang hari

Karena dari November-desember selalu lahir januari

2

Engkaulah sepi di jemari hujan

Kabar semilir dari degup gelombang

Engkaulah api dijemari awan

Membakar  cintaku hingga degup bintang-gemintang

3

Atas sepi perahuku bercahaya

Membawa matahari kejantung Madura

Atas bara api cintaku menyala

Menantang matahari dilubuk semesta

4

Aku peras laut jadi garam

Mengasinkan hidupmu di lading-ladang sunyi

Aku bakar langit temaram

Bersiasat dengan bayangmu dalam kobaran api

5

Batu karam perahu karam

Tenggelam di rahang lautan

Darahku bergaram darahmu bergaram

Menyeduh asin doa di cangkir kehidupan

6

Karena laut menyimpan teka-teki

Di puncak suaramu kurenungi debur gelombang

Karena layar hanya selembar sepi

Di puncak doamu kukibarkan bintang-gemintang

7

Pohon cemara ikan cemara

Menggelombang biru di riak-riak senja

Antara pohon dan ikan kita adalah cemara

Mendekap cakrawala di dasar samudra

8

Di rahang rahasia rinduku abadi

Sampai runtuh seluruh sepi

Rinduku adalah ketabahan matahari

Menerima sepi di relung puisi

9

Di relung malam lambaianku menua

Juga pandanganmu di kaca jendela

Alangkah dalam makna senja

Menanggung berat perpisahan kita

10

Dari pintu ke pintu ketukanku kembali

Tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi

Dan rindu ke rindu aku pun mengaji

Tak tama-tamat membaca cinta di aliflamim puisi

BIOGRAFI

Jamal D. Rahman

Jamal D. Rahman adalah seorang penyair sekaligus pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Kini mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), dan kini mahasiswa S3 di FIB-UI.

Beliau menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Dan kerap diundang sebagai pembicara dalam acara-acara sastra di dalam dan luar negeri, antara lain Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara Bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers’ Meet) di Kuala Lumpur (2001), Kongres Bahasa Indonesia VIII di Jakarta (2003), festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004), Kongres Kebudayaan Madura di Sumenep, Madura (2007), Kongres Bahasa Madura di Pamekasan, Madura (2008), Lokakarya Bahasa dan Sastra Membangun Generasi Muda, di Yogyakarta (2009) .

Buku puisinya: Airmata Diam (1993), Reruntuhan Cahaya (2003), Garam-garam Hujan (2004), dan Burn Me with Your Letters (terjemahan Nikmah Sarjono, 2004). Di samping diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Portugal. Dimuat juga dalam beberapa antologi, di antaranya: Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), dari Fansuri ke Handayani: Sastra Indonesia dalam Program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (2001), Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi (2002) dan Hijan Kelon: Puisi Kompas 2002 (2002), Poetry on the Road (2004), Poetry and Sincerity (2006), 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 (2009).

Di samping itu, dia adalah kontributor beberapa buku, di antaranya: Islam dan Transformasi Sosial-Budaya (1993), Romo Mangun di Mata Para Sahabat (1997), Tarekat Nurcholishy (2001), Ulama Perempuan Indonesia (2002), Reinventing Indonesia (2008), dan Gus Mus: Satu Rumah Seribu Pintu (2009).

Jamal D. Rahman juga menjadi (ko)editor lebih dari 20 buku, di antaranya: Wacana Baru Fiqih Sosial: 70 Tahun KH Ali Yafie (Bandung: Mizan, 1997), dari Fansuri ke Handayani: Sastra Indonesia dalam Program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (Jakarta: Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia 1-4 (Jakarta: Horison, 2002), Kakilangit Sastra Pelajar (Jakarta: Horison, 2002), dan Horison Esai Indonesia 1-2 (Jakarta: Horison, 2003).

Beliau pernah menjadi redaktur jurnal pemikiran Islam Islamika (1993-1995), wartawan majalah Ummat (1995-1999), dan redaktur majalah sastra Horison (sejak 1993). Pernah pula menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakartan, dan kemudian Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta (DPH-DKJ [2003-2006]).

Sejak tahun 2000, aktif keliling Indonesia dalam rangka pelatihan sastra untuk guru-guru bahasa dan sastra Indonesia SD, SMP, dan SMA. Aktif pula keliling Indonesia dalam rangka mendorong minat baca, menulis, dan apresiasi sastra di kalangan siswa. Dia telah mengunjungi sekitar 200 sekolah di 160 kota di seluruh provinsi kecuali Maluku dan Papua, dalam rangka acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB).

PENDEKATAN EKSPRESIF “Rubaiyat Matahari”

Ukuran ekspresif berpegang pada prinsip kebenaran  dan kejujuran. Kritik sastra  yang menggunakan pendekatan ekspresif adalah menelaah aspek-aspek  kejiwaan , pemikiran, ide-ide, emosi, pandangan hidup, dan sebagainya dari pengarang. Pendekatan ekspresif menginterpretasi karya sastra dengan menitik beratkan hubungan karya sastra dengan pengarangnya.

Pendekatan ekspresif ini memanfaatkan data sekunder , data yang di angkat melalui aktifitas pengarang  sebagai subjek pencipta . Pendekatan ekspresih mencakup wilayah diri penyair, pikiran, perasaan, dan ciptaanya.

Puisi Rubaiyat Matahari adalah puisi yang kesekian yang ditulis oleh Jamal D. Rahman. Ke khasan pengarang yang dapat saya singgung yaitu pada kerelijiusitasan pengarang yang tak lepas mungkin mendasar pada pengalamannya sebagai redaktur jurnal pemikiran Islam Islamika (1993-1995), wartawan majalah Ummat (1995-1999) juga kini mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tiap bait juga tidak luput dari metafor-metafor, puisi yang dibuatnya kadang tidak jauh dari pengalamannya di tanah Madura, tanah kelahirannya akan rasa dan kegelisahan pengarang terhadap apa yang dialaminya.

Dalam puisinya beliau memposisikan penyair sebagai tokoh utamnya (aku lirik). Puisi ini di awali dengan pembukaan yang mengesankan, begitu Tuhan memiliki peranan yang sangat besar. Pada bait pertama, yang tampak pada larik pertama adalah kata bismilah yang mencerminkan penyair sebagai tokoh relijius yang tak pernah lupa akan doa di awal segala apa yang akan dilakuaknya. Dengan bismilah berdarah di rahim sunyi juga kata rahim yang memilki makna kasih sayang. Sangat imajinatif. Kata bismilah pun dapat saya maknai dengan arti doa, semua yang kita jalani dan lakukan tidak akan lepas dari kata bismilah yang merupakan awal kita melakukan sesuatu hal. Dan disegala doanya tak lepas nama tempat yang menjadi kehidupannya untuk tetap terus memberikan kehangatan dan cahaya.

Penyair mengungkapkan pengalaman nalar dan indrawi.  Menyatakan kegelisahan terhadapa apa yang dialaminya. Segala keresahan tetap ia curahkan kepada Tuhan dalam doanya. Ketika hujan menjadi hal yang merugikan dan matahari sesuatu yang menguntungkan dan membahagiaka. Tampak pada bait ke dua. Engkaulah sepi di jemari hujan/…/Engkaulah api dijemari awan/

Penyair  sangat memperhatikan kohesi dan koherensi puisi, /Aku bakar langit temaram/ jika dig anti dengan /Aku bakar mega temaram/ maka tidak begitu indah mengucapkannya. Terlihat di setiap  larik dalam bait puisi, puisi yang mengabungkan pantun, syiir, dan rubaiyat ini, tampak lebih indah dibaca serta membuat nalar para pembaca tergugah untuk menggunakan kemampuan mata hatinya untuk berimajinasi dan menalar semua yang tertuliskan dalm bait puisi, melihat benda-benda, warna, mendengar deru ombak, suasana senja, malam, lautan,  teriknya matahari yang membanggakan, hujan yang membuat gelisah juga kekhusyuan dalam berdoa.

Puisinya tak terikat akan kaidah pantun, syiir, maupun rubaiyat itu sendiri. Mungkin itu karena beliau lebih dulu membuat puisi-puisi bebas yang tentu saja tak lepas dari ruang lingkup  Madura yang bahkan tampak pada puisi ini.  Atas sepi perahuku bercahaya/Membawa matahari kejantung Madura/Atas bara api cintaku menyala/Menantang matahari dilubuk semesta

“Rubaiyat Matahari” menggambarkan kegelisahan pengarang terhadap apa yang dialaminya. Dan hal tersebut tentu saja menyangkut pengalaman pribadi baik yang terlihat pada  pengalaman indria dan perasaan.

Citraan yang diambil berbeda-beda di setiap lariknya dan menggabungkannya menjadi satu. Pertama citraan bersumber dari pengalaman pribadi atau pengalamn penyair sendiri dan bersumber keagamaan. Beliau menuangkan citraan tersebut dilihat dari kata-kata yang tampak. Citraan yang bersumber dari pengalaman pribadi atau pengalaman penyair sendiri ditunjukkan dalam naskah puisi tersebut, dengan menuliskan Dengan bismilah berdarah di rahim sunyi/Kueja namamu di rubaiyat matahari/Kau denggar aku menangis sepanjang hari/Karena dari November-desember selalu lahir januari/Dari pintu ke pintu ketukanku kembali/Tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi/Dan rindu ke rindu aku pun mengaji/Tak tama-tamat membaca cinta di aliflamim puisi

Dari puisi-puisinya Beliau  memposisikan pengarang sebagai tokoh utama (aku-lirik). Puisi-puisinya sepert Rubaiyat Matahari, Rubaiyat Februari, Rubaiyat Nopember, Rubaiyat Januari, Dekaplah waktu, Dekaplah Aku 1, Dekaplah Waktu, dan Dekaplah Aku 2  dan lain-lain. Jamal D. Rahman, kiprahnya kini di dunia sastra luar biasa dan kini dengan puisi Rubaiyatnya, beliau memberikan warna baru terhadap sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s