PENDEKATAN EKSPRESIF MONOLOG “NYONYA DERMAWAN” AGUS R. SARJONO

Ukuran ekspresif berpegang pada prinsip kebenaran  dan kejujuran. Kritik sastra  yang menggunakan pendekatan ekspresif adalah menelaah aspek-aspek  kejiwaan , pemikiran, ide-ide, emosi, pandangan hidup, dan sebagainya dari pengarang. Pendekatan ekspresif menginterpretasi karya sastra dengan menitik beratkan hubungan karya sastra dengan pengarangnya.

Pendekatan ekspresif ini memanfaatkan data sekunder , data yang di angkat melalui aktifitas pengarang  sebagai subjek pencipta . Pendekatan ekspresih mencakup wilayah diri penyair, pikiran, perasaan, dan ciptaanya.

 

Monolog Nyonya Dermawan merupaka karya dari Agus R, Sarjono, monolog ini di muat di majalah Horison tahun 2008. Beliau lahir di Bandung, 27 Juli 1962. Penyair, cerpenis, dan esais ini menyelesaikan pendidikan formalnya di IKIP Bandung (S1) pada studi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya UI untuk S-2-nya.

 

Semasa mahasiswa beliau aktif di Unit Pers mahasiswa IKIP Bandung, menjabat sebagai ketua (1987-1989). Agus R. Sarjono kerap menuliskan  puisi, cerpen, esai dan drama. Karyanya dimuat berbagai koran, majalah, dan jurnal terkemuka di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Selain mengikuti workshop puisi seperti Asean Writers’ Conference/Workshop (Poetry) di Manila (1994); Beliau juga pernah menjadi tutor/pendamping penyair Indonesia dalam Bengkel Puisi Majelis Sastera Asia Tenggara di Jakarta (1997). Pria yang memiliki dua orang anak ini pernah diundang membacakan sajak-sajaknya di beberapa festival internasional di antaranya;

  1. Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta (1995)
  2. Festival Seni Ipoh ke-III di Negeri Perak, Malaysia (1998)
  3. Malam Puisi Indonesia-Belanda di Erasmus Huis (1998)
  4. Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999; 2003)
  5. Malam Indonesia, Paris (1999)
  6. Festival Internasional Poetry on the Road, Bremen (2001)
  7. Internasionales Literaturfestival, Berlin (2001)
  8. Puisi Internasional Indonesia di Makassar dan Bandung (2002).

Ia kerap diundang pula menjadi pemakalah di berbagai kegiatan sastra, antara lain:

  1. Mimbar Penyair Abad 21″, di TIM (1996);
  2. Pertemuan Sastrawan Nusantara IX/Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997 di Sumatera Barat;
  3. Pertemuan Sastrawan Nusantara X/Pertemuan Sastrawan Malaysia I”, di Johor Bahru (1999).

Agus R. Sujono menjadi editor sejumlah buku, antara lain:

  1. Saini KM: Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993);
  2. Catatan Seni (1996);
  3. Kapita Selekta Teater (1996);
  4. Pembebasan Budaya-budaya Kita (1999);
  5. Dari Fansuri ke Handayani (2001);
  6. Horison Sastra Indonesia (2002);
  7. Horison Esai (2003);
  8. Malam Sutera: Sitor Situmorang (2004);
  9. Teater Tanpa Masa Silam: Arifin C. Noer (2005);

10.  Poetry and Sincerity (2006);

11.  Agus R. Sarjono juga menulis beberapa cerita pendek.

 

Salah satu karyanya pernah dimuat dalam cerpen pilihan Kompas 2003. Karya esainya diterbitkan dalam buku, antara lain: Bahasa dan Bonafiditas Hatu (2001), dan Sastra dalam Empat Orba (2001). Adapun karya dramanya terbit dalam buku Atas Nama Cinta (2004). Puisi-puisinya terbit dalam berbagai antologi di Indonesia, bahkan di Manila (Filipina), Seoul (Korea Selatan), Bremen dan Berlin (Jerman). Selain itu, diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Serbia, Arab, Korea, dan China.

Kumpulan sajaknya adalah Kenduri Air Mata (1994; 1996); A Story from the Land of the Wind (1999, 2001); dan Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001; 2003). Buku puisinya yang terbit dalam edisi bahasa Jerman adalah Frische Knöckhen aus Banyuwangi (2002). Sementara, antologi puisi terbarunya adalah Diterbangkan Kata-kata (2006). Agus R. Sarjono juga menerjemahkan puisi. Karya terjemahannya yang telah terbit, antara lain “Kepada Urania” karya Joseph Brodsky (1998) dan “Impian Kecemburuan” karya Seamus Heaney (1998). Bersama Berthold Damshauser, ia menjadi editor Seri Puisi Jerman dan menerjemahkan beberapa puisi, antara lain: Zaman Buruk bagi Puisi, Berthold Brecht (2004); Candu dan Ingatan, Paul Celan (2005); Satu dan Segalanya, Johann Wolfgang von Goethe (2007). Dan kerap menulis monolog dan terbit di majalah Horison yang berjudul “Nyonya Dermawan” (2008) dan monolog ini sekaligus akan saya bahas dengan pendekatan ekspresif.

Agus adalah salah seorang Ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006. Sebelumnya ia adalah Ketua Komite Sastra DKJ periode 1998-2001. Kesehariannya ia bekerja sebagai pengajar pada Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, serta menjadi redaktur Majalah Sastra Horison.

Sejak Februari hingga Oktober 2001, Agus tinggal di Leiden, Belanda sebagai writer in residence atas undangan Poets of All Nations serta peneliti tamu pada International Institute for Asian Studies (IIAS), Universitas Leiden.

Ia juga pernah diundang sebagai penyair tamu di Heinrich Böll Haus, Langenbroich, Jerman sejak Desember 2002 hingga Maret 2003.

Dalam masa itu ia diundang berdiskusi dan membacakan puisi-puisinya di berbagai universitas terkemuka dan pusat-pusat kesenian di Jerman. Sejak 6 tahun yang lalu ia adalah salah seorang instruktur sastra bagi para guru se-Indonesia.

Kesibukannya yang lain adalah sebagai anggota Majelis Sastra Asia Tenggara yang disponsori oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional..

Semasa kuliahnya di IKIP Bandung, Agus terlibat aktif dalam kelompok diskusi Lingkar yang mendiskusikan berbagai isu sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada masa Orde Baru. Pada tahun 1987 Agus terlibat dalam pendirian Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sekaligus menjadi Ketua Umum hingga tahun 1989 dan kini Agus R. Sarjono bersama istri dan dua anaknya kini tinggal di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Agus R. Sarjono menulis sebuah monolog yang berjudul Nyonya Dermawan, sesuai dengan pengalamannya sebagai ketua di Unit Pers mahasiswa IKIP Bandung sehingga di dalam monolognya terdapat beberapa bentuk wawancara ataupun dialog yang mengakibatkan atau yang melibatkan nyonya dermawan sendiri dengan persepsinya. Dalam tulisan  monolog nyonya dermawan ini selalu terdapat sebuah pertanyaan yang diajukkan oleh nyonya dermawan kepada ibu-ibu dan dirinya sendiri, dan dijawab pula olehnya menurut persepsinya sendiri.

Lho belum dimulai ya arisannya?

Belum diundi siapa pemenangnya?

Bagaimana kalau lukisan-lukisan itu kena cakar?

Bagaimana kalau burung itu lepas?

Apa dia memang tidak serius mencintai saya?

Bayangkan, dalam satu puisi ada beberapa kata? Kalau satu kata satu sekala richter, satu puisi berapa coba? Maka, setiap dia membacakan puisi, gempa puluhan skala richter melanda kalbu saya.

 

Bisa saja karena Agus terlibat aktif dalam kelompok diskusi Lingkar yang mendiskusikan berbagai isu sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada masa Orde Baru. Tidak luput pula dalam monolog ini beliau memberikan keprihatinannya terhadap kondisi dan cara pandang masyarakat kini.

“…Bayangkan seperti apa mutunya para rakyat jelata itu. Padahal, meskipun tidak saya sekolahkan, kalau dia memang punya kemauan dan kemampuan pasti dia bisa baca tulis”

“Mangkanya saya heran artis-artis itu kok sebentar-bentar kawin-cerai”

Dapat kita sangkut pautkan dengan karya-karya lainnya seperti sajak, puisi, cerpen dan drama. Agus R. Sarjono yang melibatkan rasa cinta (hal.25-26 Monolog nyonya dermawan, majalah Horison ;2008),  air mata, kesedihan, kekecewaan, dan harapan. Kita hubungkan dengan isi monolog nyonya dermawan yang melibatkan perasaan tokoh yang penuh dengan kekecewaan dan kesedihan.;

 

“Ayah saya, ibu saya, paman-paman, pendeknya keluarga besar saya, tidak setuju dengan hubungan kami…, hati saya jeng, hati saya ibu-ibu, seperti cermin murah yang jatuh dari tebing yang tinggi…, waktu tu saya putus asa,…Saya sadar, mati sia-sia bukanlah pertanda keagungan cinta” hal. 26

Tercermin dari pengalamannya yang luas, membuat monolog ini menjadi kaya akan bahasa, baik bahasa yang ada dalam bahasa Indonesia, daerah, maupun bahasa asing. serta penggunaan nama-nama tokoh yang menggunakan nama dari sebuah karangan-karangan fiksi, dongeng, dan sejarah. Dan dapat diketahui bahwa pengarang memiliki cakupan pengetahuan yang sangat luas. Terbukti pula bahwa beliau menjadi pemakalah di berbagai kegiatan sastra dan juga karya-karya yang telah dihasilkannya.

 

Ke-khasan pengarang yang dapat kita singgung dalam monolog “Nyonya Dermawan” yaitu,

  • Pernyataan berlebihan yang tampak pada karakter nyonya dermawan yang narsistis atau pelebih-lebihan fakta yang telah menimbulkan efek tertentu, dan hal tersebut merupakan dominan yang mewarnai bahasa Agus R Sarjono.

 

 

 

  • Tidak luput dari penggunaan metafor pada penulisan monolog nyonya dermawan ini, mungkin karena dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai penyair.

 

 

 

  • Teknik-teknik jurnalistik yang melekat pada dirinya membuat monolog ini terlihat hidup dan adanya beberapa bentuk wawancara, yang sepertinya di manfaatkan dengan baik.

 

Satu pemikiran pada “PENDEKATAN EKSPRESIF MONOLOG “NYONYA DERMAWAN” AGUS R. SARJONO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s