Strategi Pembelajaran Bahasa Berhubungan dengan Psikolinguistik

Bab I

Pendahuluan

Terkait akan psikologi, linguistik lazim diartikan sebagai ilmu yang mencoba mempelajari hakikat bahasa, struktur bahasa, bagaimana bahasa itu diperoleh, bagaimana bahasa itu bekerja, dan bagaimana bahasa itu berkembang. Dalam hal ini psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi pembelajaran yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan bahasa itu diperoleh oleh manusia.

Secara umum pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proes pemberian latihan atau  pengalaman terhadap seseorang atau sekelompok orang agar terjadi perubahan tingkah laku yang relatif ketat pada orang-orang itu. Pembelajaran ini dapat dilakukan pada suatu lembaga formal terstruktur maupun pada suatu lembaga incidental. Apabila dilaksanakan pada lembaga formal terstruktur maka pembelajarn ini dapat disebut sebagai suatu proses pembiasan atau pelaziman yang dilakukan untuk memperoleh suatu pola tingkah laku yang baru setelah mengikuti pembiasaan itu. Pembelajaran yang dilakukan secara incidental biasa disebut sebagai sebuah pelatihan yang juga dilakukan untuk memperoleh suatu tingkah laku baru.

Psikolinguistik sebagai ilmu yang mempelajari perilaku berbahasa manusia melihat bahwa bahasa memiliki sifat universal sehingga seseorang akan dapat mempelajari dan menguasai bahasa apapun yang disajikan kepadanya. Dalam pemerolehan bahasa tersebut, akan terjadi pembelajaran bahasa, yaitu seseorang yang tinggal dalam suatu komunitas dengan bahasa tertentu akan mempelajari dan memahami struktrur, kaidah, dan fitur-fitur yang terdapat dalam bahasa tersebut. Proses seseorang memahami bahasa tersebut merupakan proses pembelajaran bahasa.

Bab II

Pembahasan

Strategi Pembelajaran Bahasa Berhubungan dengan Psikolinguistik

A. Pembelajaran Bahasa

Dari segi ruang lingkupnya, sebagian ahli beranggapan bahwa strategi belajar hanya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan proses internalisasi sistem bahasa, namun ada juga yang beranggapan bahwa strategi belajar juga mencakup proses pemakaian bahasa untuk berkomunikasi.

Istilah pembelajaran bahasa digunakan untuk mengacu kepada penguasaan bahasa kedua baik yang dilakukan secara formal di dalam pendidikan formal, maupun secara informal di dalam masyarakat sekitar. Tampaknya pembelajaran bahasa ini lebih mengacu pada pendidikan formal.

Ellis (1986:215) menyebutkan ada dua tipe pembelajaran bahasa, yaitu tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Tipe naturalisitk bersifat alamiah, tanpa guru tanpa kesengajaan. Dalam masyarakat bilingual atau multilingual tipe naturalistik banyak dijumpai.

Belajar bahasa menurut tipe naturalistik ini sama prosesnya dengan pemerolehan bahasa pertama yang berlangsungnya secara alamiah dalam lingkungan keluarga atau lingkungan tempat tinggal. Adapun yang bersifat formal yang berlangsung di dalam kelas dengan guru, materi, dan alat-alat bantu belajar yang dipersiapkan.

B. Strategi Pembelajaran Bahasa

Subyanto dkk. (2004) mengungkapkan jenis-jenis utama strategi belajar dilihat dari karakteristik jenis-jenis utama strategi belajar dan dari karakteristik belajar setiap individu.

  1. Strategi mengulang
  2. Strategi elaborasi
  3. Strtegi organisasi
  4. Strategi metakognitif

Oxford (dalam Huda, 1999) mengajukan struktur strategi belajar yang agak berbeda walaupun masih membedaan strategi langsung dengan strategi tidak langsun. Kedua jenis strategi ini saling mendukung dan membantu. Strategi langsung secara langsung berhubungan dengan bahasa dalam berbagai tugas dan situasi. Strategi ini adalah “pelaku” dalam kegiatan belajar dan mengembangkan kemampuan bahasa. Strategi langsung terdiri atas, (1) strategi ingatan yang bertugas untuk menyimpan dan memanggil informasi dari otak, (2) strategi kognitif yang bertugas memahami dan memproduksi bahasa, dan (3) strategi kompensasi yang bertugas menggunakan bahasa karena khasanah pengetahuan berada dalam otak.

Kelompok kedua adalah strategi tidak langsung yang secara umum bertugas mengatur jalannya kegiatan belajar dalam otak. Terdiri atas (1) strategi metakognitif yang bertugas mengkoordinasi proses belajar (2) strategi afektif yang bertugas mengatur emosi, (3) strategi sosial yang bertugas untuk membina kerjasama dengan orang lain dalam proses belajar.

Adapula pengklasifikasian yang sistematis pada aspek fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif, metakognitif, dan afetif. Misalnya, seperti berikut.

Strategi langsung

  1. Strategi ingatan
    1. Menciptakan hubungan mental
    2. Menerapkan kesan dan suara
    3. Mengulang dengan tuntas
    4. Menggunakan tindakan
  2. Strategi kognitif
    1. Mempraktikkan
    2. Menerima dan mengirim pesan
    3. Melakukan analisis dan argumentasi
    4. Menciptakan struktur untuk input dan output
  3. Strategi kompensasi
    1. Menerka secara cerdas
    2. Mengatasi keterbatasan dalam berbicara dan mengarang

Strategi tidak langsung

  1. Strategi Metakognitif
    1. Memprioritaskan kegiatan belajar
    2. Mengatur dan merencanakan kegiatan belajar
    3. Melakukan evaluasi
  2. Strategi Afektif
    1. Mengurangi kecemasan
    2. Mendorong diri sendiri
    3. Mengontrol ketegangan emosi
  3. Strategi Sosial
    1. Bertanya
    2. Bekerjasama dengan orang lain
    3. Memahami masalah orang lain (empati)

Keterangan: Struktur Strategi Belajar menurut Oxford (dalam Huda, 1999)

C. Faktor-faktor Penentu Dalam Pembelajaran B2

  1. Faktor Motivasi

Menyatakan bahwa orang yang ada di dalam dirinya ada keinginan, dorongan, atau tujuan yang ingin dicapai dalam belajar bahasa kedua cenderung akan lebih berhasil. Jadi motivasi pembelajarna bahasa berupa dorongan yang datang dari dalam diri pembelajar yang menyebabkan pembelajar memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajari suatu bahasa kedua.

Faktor Usia

Hasil penelitian mengenai factor usia dalam pembelajaran bahasa kedua ini menunjukan hal berikut:

  1. Dalam hal urutan pemerolehan tampaknya factor usia tidak terlalu berperan sebab urutan pemerolehan oleh kanak-kanak dan orang dewasa tampaknya sama saja
  2. Dalam hal kecepatan dan kecepatan belajar bahasa kedua, dapat disimpulkan: (1) anak-anak lebih berhasil daripada orang dewasa dalam pemerolehan system fonologi atau pelafalan. (2) orang dewasa lebih cepat daripada anak-anak dalam bidang morfologi dan sintaksis. (3) anak-anak lebih berhasil daripada orang dewasa, tetapi tidak selalu lebih cepat.

Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa factor umur, yang tidak dipisahkan dari factor lain, adalah faktor yang berpengaruh dalam pembelajaran bahasa kedua. Perbedaan umur mempengaruhi kecepatan dan keberhasilan belajar bahasa kedua. Tetapi tidak berpengaruh dalam pemerolehannya.

Faktor Penyajian Formal

Pembelajaran atau penyajian pembelajaran secara formal memiliki pengaruh terhadap kecepatan dan keberhasilan dalam memperoleh B2 karena berbagai factor dan variable telah dipersiapkan dan diadakan dengan sengaja. Demikian juga keadaan lingkungan pembelajaran bahasa kedua secara formal, di dalam kelas, sangat berbeda dengan lingkungan pembelajaran bahasa kedua secara alami.

Faktor Bahasa Pertama

Pada umumnya bhasa pertama mempunyai pengaruh terhadap proses penguasaan bahasa kedua pembelajar. Bahasa pertama ini sudah lama dianggap menjadi pengganggu di dalam proses pembelajaran kedua. Berdasarkan beberapa teori atau hipotesis tentang factor bahasa gangguan bahasa pertama dalam proses pembelajaran bahasa kedua.

Faktor lingkungan

Dulay (1985:14) menerangkan bahwa kualitas lingkungan bahasa sangat penting bagi seorang pembelajar untuk dapat berhasil mempeajari bahasa baru (bahasa kedua) yang dimaksud lingkungan bahasa adalah segala hal yang didengar dan dilihat oleh pembelajar sehubungan bahasa kedua yang sedang dipelajari. Lingkungan bahasa ini dapat dibedakan atas (a) lingkungan formal seperti di kelas dalam peruses belajar mengajar, (b) lingkungan informal atau alamiah.

D. Model Belajar Bahasa

Menurut Stern (1983:337-341) ada lima variabel yang perlu diperhatikan kalau kita membicarakan model belajar bahasa. Kelima variabel itu, ialah (1) konteks sosial, (2) karakteristik si terdidik (3) kondisi belajar. (4) proses belajar. dan (5) hasil belajar.

Keadaan social mempengaruhi kondisi balajar dan karakteristik si terdidik. Keadaan sosial yang berhubungan dengan faktor-faktor ekonomi, budaya, dan bahasa, turut mempengarui proses belajar bahasa. Dapat dilihat apabila anak berasal dari status ekonomi baik penguasaan bahasanya akan lebih cepat dari pada anak yang tinggal dalam lingkungan kurang baik.

Variabel kedua yakni karakteristik si terdidik, yang berhubungan dengan karakteristik si terdidik adalah umur, karakteristik kognitif, karakteristik afektif dan karakteristik kepribadian. Berdasarkan karakteristik si terdidik adalah umur, hal ini bararti orang yang berumur lebih tua lebih mudah di beri pembelajaran dari pada orang yang lebih muda. Karakteristik kognitif berarti apabila orang yang mempunyai intelegensi tinggi biasanya lebih cepat menerima dan menyerap pembelajaran dari pada orang yang mempunyai intelejensi rendah. Karakteristik afektif ini berhubungan dengan faktor emosi yang turut menentukan faktor belajar, jadi apabila seorang anak mempunyai keberanian yang lebih maka dia akan berani menampakan diri dalam praktek berbahasa. Hal ini akan memunculkan karakteristik kepribadian mereka.

Variabel ketiga yang mempengaruhi model belajar bahasa adalah kondisi belajar. Apabila kondisi belajar mendukung maka proses belajar lebih mudah jika dibandingkan dengan kondisi belajar yang tidak mendukung.

Variabel keempat, yakni proses belajar. Proses belajar berkaitan dengan strategi, teknik dan pelaksanaannya. Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan, pengamatan sendiri menghadiri sesuatu membedakan, meniru, mengingat, melatih berbagai keterampilan, mengambil kesimpulan, menduga. membandingkan, membentuk hipotesis, memeriksa, membuat penilaian, dan membuat sendiri.

Variabel terakhir, yakni hasil belajar. Hasil belajar berhubungan dengan kompetensi dan performansi. Kompetensi berhubungan dengan kematangan si terdidik menguasai kaidah bahasa yang dipelajari. Kaidah bahasa ini akan tampak pada performansi terdidik, Performansi berkaitan dengan kecakapan dan ketuntasan menggunakan kaidah bahasa sehingga penggunaan bahasa sesuai dengan situasi dan kaidah yang benar, kalau si terdidik belajar bahasa Indonesia, maka hasil belajarnya adalah kemantapannya dalam penggunaan kaidah bahasa ketika Ia berkomunikasi secara resmi.

E. Pendekatan Psikolinguistik dan Metodologi Pembelajaran Bahasa

Semi (1993) menguraikan bahwa pendekatan ini bertumpu pada pemikiran tentang bagaimana proses yang terjadi dalam benak anak ketika mulai belajar bahasa, serta bagaimana pula perkembangannya.

Menurutnya proses penguasaan bahasa terdapat teori empirisme yang pada akhirnya sejalan dengan paham behaviorsme. Teori ini beranggapan bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat ditekankan oleh faktor luar/ faktor eksternal. Skinner seorang tokoh behaviorisme, mengemukakan bahwa proses belajar bahasa sama saja dengan mempelajarai sesuatu yang nonbahasa, yaitu melalui mekanisme stimulus respons dan ditambah dengan penguatan.

Pengaruh teori Skinner terasa dalam metodologi pengajaran bahasa, antara lain melalui program belajar yang disusun dalam tahapan yang baik, dari satu jenjang ke jenjang yang lain. Mereka dapat mempelajari sendiri, mengerjakan tugas sendiri, dan mengecek sendiri dengan memanfaatkan kunci yang tersedia. Kesalahan yang ditemukan mengajarkan mereka menjadi lebih baik pada masa berikutnya. Penguatan harus segera diberikan, diberikan setelah terjadinya suatu keberhasilan.

Bab III

Penutup

Simpulan

  • Istilah pembelajaran bahasa digunakan untuk mengacu kepada penguasaan bahasa kedua Ellis (1986:215) menyebutkan ada dua tipe pembelajaran bahasa, yaitu tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas.
  • Subyanto dkk. (2004) mengungkapkan jenis-jenis utama strategi belajar dilihat dari karakteristik jenis-jenis utama strategi belajar dan dari karakteristik belajar setiap individu.
  1. Strategi mengulang
  2. Strategi elaborasi
  3. Strtegi organisasi
  4. Strategi metakognitif

Oxford (dalam Huda, 1999) mengajukan struktur strategi belajar, yaitu strategi langsung dan strategi tidak langsung.

  • Faktor-faktor Penentu Dalam Pembelajaran B2
  1. Faktor Motivasi
  2. Faktor Usia
  3. Faktor Penyajian Formal
  4. Faktor Bahasa Pertama
  5. Faktor lingkungan
  • Stern (1983:337-341) menyatakan, ada lima variabel yang perlu diperhatikan jika membicarakan model belajar bahasa. Kelima variabel itu, yaitu

(1) konteks sosial,

(2) karakteristik si terdidik,

(3) kondisi belajar,

(4) proses belajar, dan

(5) hasil belajar.

  • Semi (1993) menguraikan bahwa pendekatan psikolinguistik bertumpu pada pemikiran tentang bagaimana proses yang terjadi dalam benak anak ketika mulai belajar bahasa, serta bagaimana pula perkembangannya.

Pustaka

Chaer, Abdul. 2003  Psikolinguistik . Jakarta ; PT Rineka Cipta.

Iskandarwassid; Dadang Suhendar.2008.Strategi Pembelajarn Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Zaman,Saefu. 2010. PENGUASAAN BAHASA – panduan praktis belajar bahasa indonesia,bahasa dan sastra Indonesia file:///C:/Documents%20and%20Settings/ Ukhuwah/Phone%20Browser/My%20Documents/Unduhan/penguasaan-bahasa.html.

 

 

*Keterangan: Makalah ini dibuat dari beberapa rangkuman dari buku-buku dan blog yang telah terterai dalam pustaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s