WATAK/KARAKTER PARA TOKOH PEREMPUAN TERKAIT ADAT DAN TRADISI NILAI KASTA DALAM NOVEL TARIAN BUMI KARYA OKKA RUSMINI (Kajian Sastra: Muzzamilah “PBSI”)

WATAK/KARAKTER PARA  TOKOH PEREMPUAN TERKAIT ADAT DAN TRADISI NILAI KASTA

 DALAM NOVEL TARIAN BUMI KARYA OKKA RUSMINI

  Pembahasan: Watak/Karakter Para Tokoh Perempuan dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini

Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini menceritakan para tokoh perempuan Bali yang tinggal dalam lingkungan masyarakat patriarki. Para tokoh perempuan itu adalah Ida Ayu Sagra Pidada, Luh Sekar (Jero Kenanga), Ida Ayu Telaga Pidada, Luh Dalem, Luh Kambren. Luh Dampar, Luh Sadri, dan Luh Kenten.

Luh sekar adalah salah satu tokoh perempuan dalam novel Tarian Bumi. Dialah awal dari permasalahan yang ada. Luh Sekar seorang sudra yang memiliki ambisi yang sangat besar terhadap kebangsawanan. Ia sangat tidak menginginkan menjadi seorang sudra yang miskin. Karena itu demi menggapai impiannya itu ia rela menikah dengan seorang Ida Bagus Ngurah Pidada, seorang keturunan brahmana dengan prilaku yang buruk. Jero Kenanga pun membiarkan suaminya melakukan hal-hal yang buruk sesukanya, ia kurang perduli dengan hal itu, yang ia pikirkan hanyalah aturan-aturan kebangsawanan Jero Kenanga pun membiarkan suaminya melakukan hal-hal yang buruk sesukanya, ia kurang perduli dengan hal itu, yang ia pikirkan hanyalah aturan-aturan kebangsawanan ang harus ia jalani.

Luh Sekar bangga diangkat sebagai keluarga besar griya. Dia merasa dengan menjadi keluarga besar griya derajatnya lebih tinggi disbanding perempuan-perempuan sudra yang lain. Hlm. 26

        “Apa pun yang akan terjadi dengan hidupku, aku harus jadi seorang rabi, seorang istri bangsawan. Kalau aku tak menemukan laki-laki itu, aku tak akan pernah menikah” Suara Luh Sekar terdengan penuh keseriusan. Hlm. 26

 

            Ternyata kalangan brahmana tidak sebaik kalangan sudra. Seperti yang terjadi pada Ida Agus Ngurah Pidada, ia memang terlahir sebagai seorang bangsawan dan dididik dalam lingkungan griya, tapi moral dan karakternya sungguh sangat buruk, ia selalu berfoya-foya dan bermalas-malasan bahkan kerjanya hanya mabuk dan bersenang-senang saja.

Kalau Ayah pulang dalam kondisi mabuk atau luka parah habis dikeroyok, Nenek selalu memasng wajah keras dan sangat tidak bersahabat pada Ibu. Hlm. 16

Laki-laki yang memiliki Ibu adalah laki-laki paling aneh. Dia bisa berbulan-bulan tidak pulang. Kalau di rumah, kerjanya hanya metajen, adu ayam, atau duduk-duduk dekat perempatan bersama para berandalan minum tuak, minuman keras. Laki-laki itu juga sering membuat ulah yang sangat memalukan Nenek, ibunya sendiri. Hlm.15

 

Dalam hal ini, Ida Ayu Sagra Pidada-lah yang sangat menghawatirkan kondisi anaknya, Ida Bagus Ngurah Pidada. Walaupun anaknya bersikap buruk tapi ia tetap saja tidak menyalahkannya melainkan menyalahkan Jero Kenanga.

Perempuan senior itu tak habis-habisnya memaki Ibu. Kata-kata kasar dan sumpah serapah yang tidak jelas maknanya selalu meluncur teratur dari bibir tuanya yang selalu terlihat merah. Sebagai perempuan yunior, Ibu hanya bisa emunduk . Ibu tidak pernah melawan Nenek. PAdahal sering kali kata-kata Nenek menghancurkan harga diri Ibu sebagai perempuan. Hlm. 16

Ida Ayu Sagra memang memiliki alasan tertentu mengapa ia sangat membenci Jero Kenanga. Seorang lelaki yang ia cintai ternyata telah berselingkuh dengan seorang perempuan sagra, lelaki itu adalah Ida Bagus Tugur, suaminya sendiri. Dan sialnya lagi anak sematawayangnya pun telah memperrsunting seorang perempuan sagra, yaitu Jero Kenanga.

Nenek, perempuan yang luar biasa keras. Dia adalah seorang puri bagsawan kaya. Sejak kecil Nenek selalu bahagia. Apapun yang dimintanya selalu terpenuhi. Ayah Nenek seorang pendeta yang memiliki banyak sisia, orang-orang yang settia dan hormat pada griya. Otomatis, sejak masa mudanya Nenek punya kedudukan yang lebih tinggi dan terhormat disbanding perempuan-perempuan lain di griya. Hlm. 17

        Ida Bagus Tugur nama laki-laki itu. Dia seorang laki-laki yang sangat terpelajar. Ambisinya memperoleh jabatan tinggi dalam pemerintahan. Tidak seorang perempuan pun pernah masuk dalam hidupnya. Dengan pertimbangan itulah Nenek dinikahkan dengan Ida Bagus Tugur. LAki-laki itu tetap dingin, sampai akhirnya Raja Denpasar mengangkat laki-laki itu menjadi Lurah. Hlm. 17

        … Kakek memiliki simpanan seorang penari yang sangat cantik. Yang membuat Nenek semakin mendidih, perempuan itu bukanperempuan Brahmana. Melainkan seorang sudra, janda dengan dua anak. Kekecewaan Nenek semakin sempurna ketika anak laki-laki semata wayangnya justru terpikat pada Ibu, Luh Sekar, perempuan sudra. Hlm. 19-20

        Kata orang-orang griya, dulu nenek adalah perempuan tercantik di desa. Tutur bahasa Nenek lembut dan penuh penghargaan pada sesame. Dia tidak sombong. Banyak laki-laki di griya yang diam-diam mencintai Nenek. Sayang, Nenek tidak tertarik dengan laki-laki yang masih kerabatnya… hlm. 22

        “Sayang sekali, laki-laki itu tidak tepat untuknya. Tuniang-mu adalah perempuan paling lugu. Baginya cinta itu sangat sacral. Dia juga sangat mengagungkan nilai-nilai kebangsawanan. Memang, dari luar dia terlihat sopan pada orang-orang di luar griya. Tetapi Tuniang-mu sangat tidak bisa menerima apabila ada laki-laki griya menikah dengan perempuan biasa. Tuniang-mu sangat kukuh. Kebangsawanan harus tetap dipertahankan sesuai dengan tradisi yang diwarisi dari orang-orang tua kita. Itu kata-kata yang selalu dia katakana pada sesama perempuan… hlm. 23

Keberhasilannya masuk ke dalam lingkungan brahmana tidak luput dari upaya Luh Kenten sebagai sahabat yang sangat mencintai Luh Sekar. Kedekatannya dengan Sekar membuatnya diisukan sebagai penjalin cinta antar wanita. Luh Kenten adalah seorang perempuan sagra yang tercipta dengan wajah yang cantik dan tubuh yang kuat, bahkan ia salah satu perempuan sagra yang menjadi bahan gunjingan kaum laki-laki. Dalam hal ini, ia sangat membenci kaum laki-laki. Ia memandang bahwa laki-laki hanya seorang pemalas yang tidak bisa menghargai kaum perempuan. Bisanya hanya menikmati tubuh perempuan namun tidak memiliki tanggung jawab untuk melindunginya. Dari dalam lubuk hati Kenten sesungguhnya ia sangat mencintai Sekar dan ingin sekali memilikinya, walaupun hal itu harus ia pendam.

Semua orang di desa ini tahu. Luh Kenten perempuan keras kepala. Perempuan yang memiliki tenaga sepuluh laki-laki. Tubuhnya sangat kuat dn tegap. Tak ada seorang pun yng berani berkata-kata kasar dan tidak pantas padanya. Orang-orang sangat menghormati perempuan itu. Dia memiliki kecantikan yang khas, kecantikan seorang perempuan sudra. Kulitnya hitam, matanya tajam, tubuhnya sangat kuat. Dia juga memiliki rambut yang sangat panjang. Rambut itu sering digulung seadanya. Itulah yang membuat orang-orang mengagumi kecantikannya. Dia benar-benar berwjah perempuan desa, hlm. 36

        “Tubuh perempuan muda itu sangat luar biasa. Begitu kuat. Lihat dadanya. Setia mengangkat kayu, dadanya membusung indah. Kalau saja aku bis mengintip sedikit, gumpalan daging itu pasti sangat indah. Perempuan itu benar-benar perempuan teraneh yang pernah kulihat. Sesungguhnya dia sangat cantik, tapi dingin sekali.” Kenten hanya diam mendengar ocehan para lelaki di warung. Hlm. 38.

        “Tidak. Aku hanya tidak senang gunjingan laki-laki yang duduk santai di kedai kopi setiap pagi. Sementara aku harus kerja keras, kaki mereka terangkat di kursi. Tubuh mereka hanya tertutup kain yang begitu lusuh. Para laki-laki itu, aku yakin belum mandi. Aneh sekali tingkah mereka. Setiap hari dari pagi sampai siang hanya duduk dan mengobrol. Mata mereka begitu liar serta sering menggodaku. Rasanya, aku ingin melempar kayu bakar ke mata mereka.” Hlm. 38-39.

        Kenten juga tahu persis, orang-orang di luar mulai ramai membicarakan hubungannya dengan Luh Sekar. Entah mengapa, bagi Kenten, Sekar memiliki keindahan yang luar biasa. Dia belum pernah merasakan keintiman yang begitu dalam berperang dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling rahasia. Tubuh yang melambangkan wujud keperempuanan itu selalu berair setiap kulit Kenten menyentuh ku;it Sekar. Hlm. 44.

        Kenten menatap mata Sekar tajam. Perempuan ini adalah perempuan yang paling cantik di desa ini. Di tidak hanya memiliki tubuh yang indah, tapi juga punya ambisi seperti dirinya. Ambisi untuk mengalahkan hidup. Rasa cinta Kenten makin meninggi. Bisakah dia memiliki perempuan ini? Menyentuh kulitnya, dan selalu tahu keinginan-keinginannya. Hlm. 46-47.

Begitu banyak permasalahan yang dihadapi Sekar. Latar belakangnya sebagai sagra hingga akhirnya menjadi seorang bangsawan membuat kedua adiknya Kerta dan Kerti semakin membuatnya kesal. Dari dulu kedua adiknya memang selalu membuatnya susah, bahkan setelah ia menikah dengan seorang bangsawan. Tanpa malu kedua adiknya rela menjadi wanit simpanan dari Ida Bagus Ngurah Pidada.

Sayangnya, makin dewasa Kerti dan Kerta makin sering membuat ulah. Terlebih ketika mereka tahu bahwa kelahiran mereka tak diinginkan. Ada-ada saja kelakuan Kerti dan Kerta yang menyusahkan Sekar. Mencuri perhiasannya, atau meminjam baju-bajunya tanpa izin. Menjengkelkan sekali! Sekar malas rebut-ribut, kasihan ibunya. Tetapi perempuan buta itu selalu tahu perasaan hatinya. Hlm. 65.

        Ternyata, dua orang adik kembarnya mau dijadikan peliharaan suami Kenanga. Dua orang perempuan itu bahkan tanpa malu-malu membisikkan kehebatan laki-laki itu di tempat tidur. Hlm.104

Keluhan itu pun hadir oleh anak dari Jero Kenanga yaitu Telaga. Ia memikirkan Ibunya, betapa penderitaan menjadi seorang perempuan tidak pernah padam. Telaga adalah anak hasil perkawinannya dengan Ida Bagus Ngurah Pidada. Ia terlahir dengan sangat amat cantik bahkan menjadi seorang penari yang sangat disegani dan mempesona. Kecantikan dan keluesannya menari membuat laki-laki sangat menginginkannya. Namun, ia hanya tertarik dengan Wayan, seorang lelaki sudra yang merubah segala gaya hidupnya, dan karenanya ia rela melepas atribut kebangsawanannya.

Ibunya memang bukan seorang bangsawan. Ibu Telaga adalah perempuan sudra, perempuan kebanyakan yang disunting oleh laki-laki yang dalam darahnya mengalir nilai-nilai kebangsawanan, keangungan, kebesaran, sekaligus keangkuhan. Hlm. 12         

        Nama yang diberikan sesepuh griya untuk Luh Sekar memang cocok. Telaga sering berpikir sendiri, nama baru yang disandang Ibu sesuai dengan beban hidupnya. Makin hari beban hidup perempuan itu makin bertambah saja. Masalah Ayah, masalah Nenek, juga masalah Kakek.  Betapa beratnya menjadi seorang perempuan. Teramat menyakitkan! Hlm. 77-78.

… Hampir semua perempuan di griya tertarik pada laki-laki itu. Termasuk dirinya. Sakit sekali mendengar perempuan-perempuan itu bercerita tentang pengalamannya menyentuh tubuh Wayan. Laki-laki yang dicintainya sejak umur sepuluh tahun! Sampai hari ini, cinta itu tidak berkurang satu senti pun… hlm.164.

        Perkawinan itu berlangsung. Hidup jadi berubah total. Bangun pagi-pagi tidak ada pelayan yang menyiapkan segelas susu dan roti bakar…185

Luh Kambren adalah guru tari Telaga, ia seorang sudra. Dia memutuskan untuk hidup sendiri karena memiliki masa lalu yang membuatnya enggan untuk hidup bersama. Teringat akan temannya Luh Dambren yang menikah dengan pelukis asal Jerman, yang ternyata laki-laki itu hanya memanfaatkkannya saja. Ia menjadikan tubuh istrinya sebagai objek lukisan telanjangnya yang bisa dinikmati oleh teman-temannya. Luh Dambren disiksa oleh suaminya sendiri. Dan lelaki yang ia cinta, Jean Paupiere seorang lelaki asal Perancis itu telah bercinta dengan suami dari Luh Dambren.

Orang-orang bercerita bahwa Luh Kambren adalah perempuan sudra yang banyak tingkah. Dulu, seorang raja pernah melamarnya untuk dijadikan selir. Kambren menolak mentah-mentah… hlm. 118

        “Kau ingat Luh Dampar, perempuan binal yang merasa tubuhnya paling indah di antara kita semua? Nasibnya sangat buruk. Dia terjebak dalam kehidupan yang mengerikan. Laki-laki Jerman yang selalu dipujanya ternyata memanfaatkan dirinya untuk objek lukisan. Kau tahu laki-laki itu juga tidak segan-segan menelanjangi istrinya di muka teman-teman pelukisnya.” Hlm. 122

        Pelukis itu memnag gila. Dan yang membuat Kambren lebih bergidik lagi, ada rekaman video yang mempertontonkan adegan Jean Paupiere tengah bercinta dengan laki-laki Jerman itu secara rakus dan liar. Hlm. 129

Keseluruhan kisah perempuan-perempuan Bali ini tidak lepas dari permasalahan status social terkait nilai adat dan tradisi kasta atau strata kasta. Hidup mereka tampak tidak baik malah berakibat buruk.

Luh Sekar, ia terobsesi akan kebangsawanan dan menaikan taraf hidupnya dengan menikahi seorang lelaki keturunan brahmana yang berprilaku buruk. Hal itu dikarenakan ia sudah tidak menginginkan hidup miskin dan menjadi orang terhina yang selalu menderita. Bahkan karena sudra dan kemiskinan yang dialaminya ibunya Luh Dalem harus mengalami hal yang buruk, diperkosa dan dirampok. Sehingga karakternya menjadi keras dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsawanan.

Ida Ayu Telaga Pidada, ia terlahir dengan kasta brahmana, dalam lingkungan griya. Namun ia terbelenggu dan tertekanakan didikan ibunya. Jero Kenga terus saja menjodohkannya dengan lelaki brahmana yang memiliki prilaku buruk. Keninginannya untuk menikah dengan Wayan (sudra) pun tetap mendapatkan pertentangan walaupun pada akhirnya ia tetap menikah dan harus menanggalkan kebangsawanannya dan meningglakan keluarganya. Tetapi wataknya yang sabar, penyayang, dan tidak memandang derajat kasta untuk menilai seseorang ia tetap tabah dalam menjalani hidupnya.

Ida Ayu Sagra Pidada adalah seorang wanita brahmana yang kental akan nilai kebangsawanannya ia sangat diktator dalam keluarganya. Walaupun ia selalu menghormati semua kalangan  manusia tapi ia tidak bisa menerima kasta sagra untuk masuk ke dalam dunianya. Ia sangat membenci perempuan sagra, karen alelaki yang ia cintai harus menikah dengan perempuan sudra, perempuan yang dianggap paling rendah. Ia merasa terkalahkan oleh perempuan sudra. Sehingga ia memiliki watak yang sangat keras.

Luh Kenten, ia seorang perempuan sudra yang cantik namun ia tidak menyukai seorang laki-laki karena cintanya hanya untuk Sekar. Ia memandang laki-laki hanya bisa mempermainkan perempuan. Sehingga ia memandang rendah laki-laki dan lebih mencintai perempuan.

Luh Kembren, ia seorang perempuan sudra yang sangat berpengalaman dalam dunia seniman. Ia bergaul dengan orang-orang asing. Pergaulannya bersama warga asing membuat Luh Dampar iri sehingga ia berusaha untuk memiliki seorang lelaki asing. Namun, nasib Luh Dampar sngat buruk ia mati bunuh diri karena selalu disiksa oleh suaminya lelaki berkebangsaan Jerman itu, bahkan ia harus menjadi model telanjang lukisannya. Dan Kembren tidak mungkin memiliki Jean, lelaki yang ia cintai karena telah terbukti lelaki itu telah bercinta dengan suami Luh Dampar.

Luh Sari adalah anak Telaga yang membuat Telaga untuk tetap melanjutkan hidupnya, ia anak yang cerdas dan menjadi penyejuk hati Telaga.

Luh Sadri adalah adik dari Wayan, adik ipar Telaga. Sifatnya yang iri terhadap Telaga membuat ia tidak pernah bahagia. Lagi-lagi karena kesudraanya itu ia memiliki sifat iri.

Demikianlah watak/karakter para tokoh yang ikut dalam konflik social yang ada terkait adat dan tradisi nilai kasta. Dapat diambil kesimpulan bahwa, sifat iri dan ambisi tampak pada sifat dan karakter tokoh Luh Sekar, Luh Sadri, Luh Dampar. Sedangkan sifat untuk melepaskan nilai kasta itu sendiri terdapat pada Ida Ayu Telaga Pidada dan Ida Ayu Sagra Pidada. Dan Sifat yang tumbuh akan traumatic tersendiri terhadap laki-laki dan lingkungan pergaulan tampak pada Luh Kembren dan Luh Kenten.

 

Unsur Intrinsik Novel Tarian Bumi

 1.      Tema

            Tema dalam analisis ini adalah watak/karakter para tokoh perempuan Bali terkait adat dan tradisi nilai kasta.

2.      Tokoh

            Tokoh keturunan Brahmana digambarkan sebagai tokoh bangsawan yang berprilaku buruk, Mata keranjang, mempermainkan perempuan, dan tidak bertanggung jawab.

Tokoh laki-laki digambarkan memiliki prilaku yang buruk, di antaranya Ida Bagus Ngurah Pidada, Ida Bagus Tugur, Putu Sarma, Jean, dan lelaki asal Jerman. Kecuali Wayan yang digambarkan baik.

Tokoh wanita brahmana terlihat idealis dan memiliki keterikatan akan nilai adat serta selalu memegang nilai kebangsawanan

Tokoh wanita sudra tampil dengan kembisiusan terhadap apa yan ingin  ia dapatkan terkait kedudukan dan kesejahteraan hidup. Rasa iri terhadap kehidupan yang lebih baik membuat kaum sudra lebih mementingkan status, citra, dan pengakuan social ketimbang nasib buruk yang akan menimpanya kelak.

3.      Alur

            Novel ini menggunakan alur campuran. Penceritaan diawali dengan kisah masa kini Telaga bersama Luh Sari kemudian menyibak masa lalu yang teralami olehnya, Jero Kenanga, Ida Ayu Sagra Pidada, Luh Kenten, Luh kembren, dan lain-lain. Lalu diakhiri dengan kisah Telaga kembali saat ia harus menanggalkan atribut kebangsawanannya.

Novel ini memiliki alur yang bersifat kronologis dan sebab-akibat. Kronologis dapat dilihat dari urutan waktu penceritaan dari awal Telaga mengisahkan dirinya bersama Luh Sari, mengingatkan ia dengan keluarganya Luh Sekar, Ida Ayu Sagra Pidada, Ida Bagus Ngurah Pidada, dan Ida Bagus Tugur. Permasalahn tersebut berawal dari obsesi Luh Sekar untuk mendapatkan kebangsawanan, berubahnya kehidupan Luh Sekar, lalu Telaga teringat akan masa ia bertemu dengan Wayan hingga ia menikah selanjutnya kehudapan Telaga setelah pernikahan itu berlangsung dan berakhir pelepasan atribut kebangsawanannya.

Sebab-akibat dapat dilihat pada kehidupan telaga yang menderita tetapi ia masih bisa melanjutkan hidupnya karena Luh Sari, anaknya. Hal itu membuat Telaga teringat masa lalu sebagai penari oleg; keluarga brahmana; masa awal kegadisannya; pertemanannya dengan Wayan; lelaki sudra; pernikahannya dengan Wyan dan hal itulah yang membuat Telaga mengubah statusnya menjadi perempuan Sudra.

4.      Latar

            Latar tempat dan waktu digambarkan dengan sangat jelas walaupun tidak dipaparkan secara rinci dalam peristiwa. Latar tempat dalam novel ini berdominan di griya (kehidupan kraton brahmana di Bali), desa-desa di Bali, pasar, studio lukis, studio foto, dll. Sepertinya yang paling menonjol dalam novel ini adalah latar budaya yang mengedepankan kasta, seperti sudra dan brahmana. Latar waktu novel ini adalah masa kini, dapat dilihat dari kisah Luh Sari ketika mendapatkan hadiah di sekolah, Wayan yang pergi ke Jepang untuk pameran, dan kisah Kambren yang memiliki banyak teman orang asing.

5.      Nilai

Novel Tarian Bumi ini memiliki banyak nilai akan budaya, kritik sosial, dan nilai moral. Nulai budaya berada pada adat dan tradisi Bali. Kasta Sudra dan kasta brahmana yang mendominasi kisah dalam novel ini. Kehidupan keluarga Sekar, Luh Dalem, Wayan, Sadri, yang mewakili kasta sudra. Ida Ayu Sagra Pidada, Ida Bagus Ngurah Pidada, dan Telaga yang mewakili kasta brahmana.

Kritik sosial mengenai seorang penari yang mengabdi terhadap daerahnya (bumi Bali) dengan memiliki banyak penghargaan ternyata tidak bisa hidup dengan layak, seperti yang terjadi pada Luh Kambren. Kritik pun ditujukan kepada para lelaki Bali yang pemalasa dan hany bisa bersenang-senang, Juga adanya pemberlakuan pelarangan pernikahan antar kasta yang akan menyebabkan kesialan. Dan kritik terhadap nilai tari itu sendiri, di mana kesakralan lebih diutamakan namun hal itu tidak lagi terjadi karen asebuah tarian lebih dijadikan sebagai hiburan atau tontonan saja.

“Tugeg, Tugeg harus catat kata-kata tiang ini. Bagi perempuan Bali bekerja adalah membuat sesaji, sembahyang dan menari untuk upacara. Itu yang membuat kesenian ini tetap bertahan. Orang-orang dulu tidak membedakan mana aktivitasnya sebagai dirinya dan mana aktivitasnya dalam berkesenian. Mereka menari karena ada upacara-pacara di pura. Sekarang? Tidak lagi. Tiang dilahirkan untuk tetap menjaga taksu tari. Taksa yang mulai dirusak oleh orang-orang yang makan sekolahan terlalu kenyang. Mereka tidak tahu seperti apa inspirasi itu kelyar dan mengganggu pikiran seorang pencipta tari. Mereka tinggal menjualnya, mempertontonkan kita di hadapan orang-orang asing. Mereka tidak beljar dari orang-orang luar, bagaimana harus menyelamatkan peninggalan peradaban yang sangat mahal ini. Peradaban yang tidak bisa dibeli dengan usia sekalipun.” Hlm116

 

Analisis Strukturalisme Genetik

Unsur struturalisme genetic yang menonjol dalam novel tarian Bumi ini adalah unsur budaya serta kehidupan social masyarakat Bali  yang mempengaruhi watak dan karakter para perempuan  Bali khususnya pengaruh nilai kasta. Sehingga prinsip kasta tersebut mempengaruhi watak tokoh yang mengakibatkan prilaku yang ekstrim.

Simpulan

Analisis ini menggunakan pendekatan objektif dengan memakai analisis structural dinamik. Analisis tidak hanya pada unsure intrinsic tetapi juga unsure ekstrinsik, tokoh, watak, alur, dan setting tetap berkaitan dengan kondisi social, budaya, dan di mana karya itu lahir.

Watak/karakter tokoh para perempuan Bali terkait adat dan tradisi nilai kasta dalam novel Tarian Bumi ini membentuk karakter-karakter yng ekstrim. Seperti sifat Iri, ambisi, penyimpangan jiwa, dan dengan rela melepaskan nilai kasta tersebut. Walaupun para perempun ini harus menghadapi rintangan hidup yang sangat sulit akibat nilai kasta dan strata sosial yang membuat mereka terdeskriminasikan, tetapi dengan tabah dan sesuatu hal yang harus ia pertanggung jawabkan mereka tetap bisa hidup, seperti yang dialami oleh Luh Sekar untuk Telaga, Ida Ayu Sagra Pidada untuk Ida Bagus Ngurah Pidada, dan Telaga untuk Luh Sari.

PUSTAKA ACUAN

Endaswara, Suwardi. Metodelogi Penelitian Sastra: Epistemologi, Moodel, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS. 2011.

Nurdiani, Anita. Dimensi Jender dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini: Tinjauan Sastra Feminis. Skripsi: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2010.

Rusmini, Oka. Tarian Bumi. Magelang: Indonesiatera. 2004.

Sundusiah, Suci. Perbandingan Struktur Naskah Sastra Lisan Klasik dan Modern (Analisis Struktur Pada Naskah Hikayat Raja Kerang dan Novel Tarian Bumi Oka Rusmini). Makalah. Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indoneisa. 2007.


[1] Suwardi Endraswara. Metodelogi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS. 2011. Hlm. 56.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s