Kutipan dan Penjelasan: Jihad

Jihad: Berjuang untuk Tuhan

Jihad di dalam Al-Quran berarti “berjuang atau bekerja keras” dan menyediakan diri untuk menjalankan kehendak Allah, untuk menjalankan kehidupan yang baik.

Ayat Al-Quran pertama, berkenaan dengan hak keterlibatan dalam suatu jihad, yaitu dalam “membela diri”, atau berjuang, turun tak lama setelah hijrah Nabi Muhammad Saw. dan para pengikutnya ke Madinah, melarikan diri dari penganiayaan di Makkah. Pada saat  mereka terpaksa berperang demi mempertahankan hidup, Nabi mendapat wahyu: Diizinkan (berperang)bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu, yaitu orang-orang yag diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah” (QS Al-Hajj [22]: 39-40). Sifat dasar jihad adalah pembelaan diri, yang dengan jelas ditekankan dalam QS Al-Baqarah (2): 190: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Pada saat-saat genting sepanjang tahun-tahun itu, Rasulullah menerima wahyu Allah yang memberikan panduan berjihad.

Seiring dengan tumbuhnya komunitas Muslim, segera timbul pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku yang pantas  selama perang. Al-Quran memberikan tuntunan dan aturan terperinci berkenaan dengan etika perang: siapa yang harus diperangi dan siapa yang dibebaskan (QS Al-Fath [48]: 17, QS Al-Taubah [9]: 91), kapan pertentang harus dihentikan (QS Al-Baqarah [2]: 192-193), dan bagaimana cara memeperlakukan tahanan (QS Muhamad [47]:4). Yang terpenting, seperti yang tercantum pada surah Al-Baqarah ayat 194, dalam situasi perang, respons terhadap kekerasan dan agresi haruslah seimbang: Barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu.

Akan tetapi, ayat-ayat Al-Quran juga menekankan bahwa perdamaianlah, bukannya kerasan dan peperangan, yang menjadi norma. Izin untuk memerangi musuh diseimbangkan dengan perintah yang kuat untuk membuat perdamaian: Tetatpi, jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui(QS Al-Anfal [8]: 61). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (dalam) menghadapi kamu, maka pastilah mereka memerangimu. Tetapi, jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu (menyerah), maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka (QS Al-Nisa [4]: 90). Sejak awal, kaum Muslim dilarang membunuh orang yang tidak bertempur di medan perang; begitu pula anak-anak, wanita, biarawan, dan rabi, yang dijanjikan diberikan imunitas kecuali jika mereka ikut serta dalam peperangan.

Tetapi, bagaimana dengan ayat-ayat, yang terkandung disebut pada “ayat-ayat pedang”, yang menyerukan untuk membunuh orang kafir, seperti: Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian (QS Al-Taubah [9]: 5)? Ini adalah salah satu ayat Al-Quran yang dikutip para kritikus untuk menunjukkan bahwa kekerasan tidak dapat dipisahkan dari sifat dasar Islam dan kitabnya. Ayat yang sama juga dengan selektif digunakan (atau disalahgunakan) oleh ekstremis agama untuk mengembangkan “teologi kebencian” dan toleransi demi mangesahkan peperangan yang dilakukan tanpa alasan untuk menyerang orang kafir.

Kenyataannya, makna serta tujuan ayat secara keseluruhan: Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui jadi hilang atau berubah karena ada bagian yang dihilangkan. Ayat ini diikuti dengan kalimat: Jika mereka bertobat dan melaksanakan shalat serta menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS Al-Taubah [9]: 5). Hal yang sama juga terjadi pada petikan ayat: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan kitab, yang sering dikutip tanpa mencantumkan lanjutannya, yaitu: hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (QS Al-Taubah [9]: 29).

            Sekarang ini jihad terus memiliki makna yang bermacam-macam. Ia digunakan untuk menggambarkan perjuangan hidup seseorang dengan mengerjakan kebajikan, memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga, membersihkan lingkungan tempat tinggal, melawan pemakaian obat-obatan terlarang, atau bekerja untuk kepentingan sosial. Jihad juga digunakan dalam peperangan untuk pembebasan dan perlawanan, demikian juga untuk menghadapi aksi teror. Kelompok ekstremis keagamaan telah membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1981; membunuh warga sipil yang tidak bersalah di Israel, Palestina, Irak, dan Afganistan; melakukan serangan 11 September; dan selanjutnya terlibat dalam tindakan terorisme global lainnya di negara-negara Muslim dan Eropa. Banyak ulama arus utama menegaskan bahwa kelompok radikal yang melakukan “jihad untuk menyerang orang kafir” telah salah menafsirkan Al-Quran.

Mereka mengacu pada ayat yang mengajarkan bahwa Allah Yang Mahakuasa tentu saja dapat membinasakan orang kafir apabila Dia berkehendak. Karena itu, bukanlah tugas kaum Muslim untuk membinasakan mereka dengan cara kekerasan:

            Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan (-Nya). Dan Kami tidak menjadikan engkau penjaga mereka; dan engkau bukan pula pemelihara mereka. (QS Al-An’am [6]: 107)

            Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakana, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. (QS Qaf [50]: 45)

            Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Muhammad)… dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, oleh sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh. (QS Al-An’am [6]: 35)

            Al-Quran menggambarkan bahwa Allah tidak memerlukan bantuan siapa pun, dan oleh karena itu melarang penggunaan kekerasan untuk menambah penganut:

            Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar. Tidak ada paksaan dalam menganut agama (Islam) … (QS Al-Baqarah [2]: 255-256)

            Keragaman makna jihad tertangkap dalam jejak pendapat yang dilakukan Gallup pada 2001. Dalam jajak pendapat ini, 10.004 orang dewasa di Negara berpenduduk mayoritas Muslim diberi pernyataan terbuka: “Apa makna jihad bagi Anda, dalam satu kata (atau beberapa kata).”

            Di empat negara Arab (Lebanon, Kuwait, Yordania, dan Maroko), jawaban paling sering dalam menggambarkan jihad adalah “kewajiban kepada Allah”, “Tugas Suci”, atau “ibadah kepada Allah” – tanpa ada yang menyebutkan peperangan. Akan tetapi, ada tiga Negara non-Arab (Pakistan, Iran, dan Turki), sejumlah kecil responden yang cukup signifikan menyebutkan, “mengorbankan nyawa sendiri demi kepentigan Islam/Allah/keadilan” atau “perang melawan musuh Islam”. Mayoritas warga Indonesia non-Arab spontan memberikan jawaban seperti ini.

            Selain tanggapan dalam dua kategori besar ini, juga ada pendefinisian pribadi:

  • “tekad untuk bekerja keras” dan “mencapai tujuan hidup”
  • “berjuang mencapai tujuan mulia”
  • “menebarkan perdamaian, keselarasan, atau kerja sama dan membantu sesame”
  • “menjalankan ajaran Islam”

Dua makna yang luas dari jihad, kekerasan dan bukan kekerasan, terangkum dalam sebuah hadis terkenal Nabi yang meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad Saw kembali dari pertempuran, beliau memberi tahu para pengikutnya, “Kita telah pulang dari jihad yang kecil (peperangan) untuk menghadapi jihad yang lebih besar.” Jihad yang lebih besar ini adalah perjuangan melawan kesombongan, mementingkan diri sendiri, ketamakan, dan kejahatan. Namun, penting diingat bahwa bagi umat Islam, jihad berarti perjuangan dengan jiwa maupun dengan menggunakan pedang – keduanya adalah perjuangan yang adil dan bermoral. Kata jihad hanya memiliki makna yang positif. Ini berarti bahwa menyebut tindakan terorisme sebagai Jihad tidak hanya menyinggung perasaan banyak umat Islam, tetapi juga secara ceroboh telah member kaum radikal keuntungan moral yang sangat mereka inginkan.

Dilihat dari penjelasan Jihad dalam buku Saatnya Islam Bicara! Dapat dipahami bahwa jihad bukanlah hal yang negatif. Banyak yang menilai jihad dari beberapa sudut pandang. Tapi, saya tegaskan bahwa kekerasan yang selalu dielu-elukan suatu kelompok tertentu, bukanlah jihad. Sesungguhnya manusia tidak bisa memaksakan kehendak manusia lainnya, khususnya dalam beragama. Seperti halbya agama Islam, bukanlah agama yang harus dipaksakan. Islam memiliki pesonanya tersendiri yang memancarkan keindahan dan ketentraman jiwa bagi yang memahaminya dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s