Cermin: Cinta Satu Malam

Oleh Muzzamilah

 

            Memajang beberapa gambar di jejaring sosial tampak menyenangkan, lalu kukembali melihat-lihat Kujang menjulang walau tidak bersinar. Cahya itu hanya milik lampu kendaraan yang berbaris yang saling bersusulan. Aku pun ikut meramaikan kota hujan dengan mata kamera yang kugenggam. Indah jika malam, tidak ada yang melihatku dengan seksama, hanya jangkrik dan burung malam yang mungkin memerhatikanku dari kejauhan. “Dunia ini indah, jika menikmatinya dengan bebas tanpa beban”.

            Seseorang tiba-tiba saja berada tepat di belakangku, menarik lenganku dan berkata, “Apa aku datang terlambat.” Akhirnya sang pangeran datang, walau waktu telah mengalahkannya tapi aku tetap senang dan bahagia. Sang pangeran pun menyodorkan Capuchino hangat padaku. Tentu saja aku menerimanya dengan senyum yang sedikit gugup. “Terima kasih”

            Dia meminjam kameraku dan mulai membidik gambar yang ia suka. Sesekali memotretku dengan tatapan menjengkelkan, seolah-olah aku tidak cukup cantik untuk dijadikan objeknya. Ya sudahlah, itulah dia. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s