Cermin: Kisah

Oleh Muzzamilah

 

Aku tak berharap sakit ini menggrogoti tubuhku, karenanya aku tak bisa bersamanya.  Jantungku terus berdetak tak stabil, aku takut, bahkan detik  ini tak sanggup buatku terus berkata.

Dia adalah cinta pertamaku, cinta yang awalnya meminta balasan akan kehadirannya dan bisa mengenggam jemariku saat ini, tapi hal itu telah hilang, karena takdir yang tak sanggup aku elakkan. Aku takut ketika ia menatapku dan tiba-tiba saja tersenyum padaku, suasana pasti tampak seperti bulan Desember di Seoul, membuatku kaku.

Pesta telah dimulai, menyenangkan sekali ketika melihat tawa dan canda yang telah lama hilang karena harus melepas seragam putih abu. Banyak cerita dan canda, aku tak ingin semua ini terhapus tiba-tiba.

            Ia menghampiriku di saat nada mulai berjalan lambat. Semua berdansa dan hanya aku yang terdiam di bawah pohon yang tak lagi lebat daunnya. Dengan kemeja biru bergaris ia berjalan dan duduk di sampingku. Ia hanya tersenyum. Jantungku terus menggebu, rasanya sangat lemas dan sulit bergerak, tentunya aku canggung. Namun, ini adalah moment terindah dalam hidupku. Musik kembali berubah menjadi lebih riang, dia sedikit menggerakkan kakinya dan kepalanya, jemarinya pun tak segan ikut mengetuk melodi yang didengarnya.

            “Kak mau?” Aku menawarinya coklat yang akan aku makan, hanya basa basi.

            “Oh terima kasih” Ucapnya santai dan tersenyum manis

            Di ujung sana sahabatku menatap dengan senyuman yang aneh, berusaha untuk tidak menambah kecanggunganku, mereka pun kembali menari mengikuti irama.

            “Kamu Kisah yah?”

            “Iya kak” Tidak menyangka jika ia ingat namaku. Dulu kami sempat berbincang-bincang di telephone karena hal yang aku sengaja. Aku pun mulai mengenalnya di telephone itu, berusaha untuk bisa berkomunikasi dengannya, tertawa dan berbagi cerita tapi, hal itu harus terhenti karena aku memutuskan untuk tak lagi berbicara dengannya.

            “Sudah lama yah.” Aku hanya bisa diam ketika ia mengucapkan kata-kata itu

            “Masih nulis?”

            “Masih ko Kak.”

            “Aku suka tulisan kamu, kalau novelnya sudah jadi, jangan lupa share yah.”

            “Iya Kak,”

            Rautku tak lagi bisa menggambarkan wajah cerah, air mataku ingin sekali aku tampakkan dan mengatakan “Aku cinta kamu” tapi, aku tak bisa. Dia terlalu sempurna bagiku, dia teramat istimewa dan aku tak bisa memilikinya, karena aku ingin melihat dia bahagia.

 

Aku melihat dia, di balik gerbang bersama teman-temannya. Entah apa yang ia bincangkan, ia terus mengukir senyum, sesekali terdiam mendengarkan orang lain berkata dan sesekali berkata membalas tanya dan cerita. Reuni ini tampak indah saat ia ada, ada di hadapku. Aku tak berharap ia menyapa atau menatapku, yang kuinginkan aku terus memandangnya dalam diam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s