Cermin: Sesalku, Maafkan Aku Buah Hatiku

Oleh Muzzamilah

 

            Aku seorang ibu, tapi apa aku pantas? Rasanya aku pun tak bisa disebut manusia. Aku terlalu bodoh dan tolol. Aku menyesalinya.

            Dia sudah dewasa, bahkan seharusnya dia bisa memakai seragam dan pergi belajar. Apakah ini semua karena aku, membiarkan ia terjun dalam duniaku, dunia yang tak mengenal rasa malu. Aku memang pengemis dan sempat menjadikan ia pengemis pula, tapi aku menyesal, tak sanggup rasanya melihat buah hati yang seharusnya bisa mengubah nasibnya sendiri malah kini harus memiliki nasib yang sama denganku. Ini bukan salah Tuhan, bukan salah pejabat-pejabat yang terus melakukan korupsi, bukan pula kesalahan anakku sendiri, tapi semuanya kesalahanku, karena pilihanku.

            Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang bisa membantuku? Aku tak bisa meminta pada Tuhan, karena aku sudah tak sanggup meminta padaNya, aku malu. Dosaku seolah seperti tumpukan sampah yang telah menggunung, aku bahkan hina sehina anjing yang menggigit tuannya.

            Aku tak bisa mengecap bagaimana rasanya tidur di atas keramik yang bersih, mandi dengan air bening, bermimpi tanpa resah esok harus makan apa, dan tentunya aku tak bisa mengajak buah hatiku mengenal apa itu kata.

            Kata mereka untuk kita, dari kita, dan akan kembali lagi untuk kita. Nyatanya dari kita untuk mereka, bukan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s