Cermin: Aku tak bisa memberikanmu kata, “selamat”.

 

Janur kuning telah terpajang di hulu gang. Dua kata yang kukenal ikut terpampang dengan tebal. Namanya menjadi pemberitahuan yang amat sakral.

Aku hanya bisa menatap dengan semu, dalam jejak yang tak berbekas. Kini aku melangkah perlahan. Awalnya tak bisa aku menghadapi segalanya sendiri, karena aku amat sakit. Yang aku bisa saat ini adalah memaksakan hati ikut bahagia. Tersenyum dan menyantap hidangan dengan ikhlas. Namun, sepertinya aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang aktris yang pintar bersandiwara, air mata itu kembali melanda, dalam diam aku menangis dan lekas membasuhnya kembali dengan jemariku.

Tujuh tahun tampaknya hanya menjadi  kisah yang berujung pilu dan sesal. Anehnya, aku menikmati sepiku kala menantinya, ini cinta yang tidak normal.

Setiaku hanya bisa berubah menjadi sebutir pasir.

Kini aku tak bisa memberikanmu sebuah kata.

 

“selamat”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s