Cermin: Pertemuan Kita dalam Bis Kota

 

Saat aku berharap akan kehadirannya, ia pun datang dalam tatapanku. Tanpa senyum dan kata dia terus berlalu, hanya matanya yang mampu menyapa. Aku terdiam, begitupun ia. Bersama deru mesin kami hanya memandang balik kaca yang bergoyang. Menyusuri imaji masing-masing. Dikeheningan itu jantungku terus berdebar dan gelisah, ingin rasanya berucap diksi dan tersenyum. Namun, harapku tak berujung seperti apa yang kunanti. Aku hanya bisa melihat pundak itu.

Dalam gelisahku, aku tak tahu apa yang aku lakukan saat ia sejajar dalam tempat yang sama. Bibirku membeku, pikirku tak lagi normal. Aku benar-benar gelisah bersamamu.

Jika ia tahu apa yang aku rasa, mungkinkah ia akan menyapa?

Kini aku benar-benar dimabuk cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s