8-9 April 2013

-Pergi-

Kulangkahkan kakiku demi pergi menuju luar kota, tepatnya di Pare, biasa disebut dengan nama Kampung Inggris. Cemas pasti ada, namun aku tidak harus mundur karena rasa cemas yang hanya sebiji buah semangka. Malamnya tentu aku sudah mempersiapkan segalanya dengan rapi, dan pagi sebelum berangkat, aku membeli beberapa makanan ringan, persiapan di kereta jika perutku kosong tiba-tiba.

Tepat pukul 09.30 aku pun berangkat, meninggalkan rumah tercinta, mengumumkan secara tidak langsung  bahwa aku akan pergi jauh. Banyak yang melirik aneh saat aku membawa koper dan ransel mungil, bahkan nenekku yang sebelumnya sudah aku beritahukan, terus mengatakan hal-hal yang buatku tertawa.

“Nanti jangan malu untuk di bawa ke rumah, kenalkan pada keluarga.” Ya, itu yang nenekku katakan, aku benar-benar tak bisa menahan tawa, maklum saja nenekku sudah sangat tua, nenek sering lupa.

Sebelumnya aku sudah pamit pada Ibu dan Bapak, dengan restu dan doa mereka aku yakin aku akan baik-baik saja di sana, tentu dengan rahmat Allah Swt. Amin.

Cuaca tampak cerah, secerah hatiku saat itu. Sayang suasana yang amat haru campur bahagia itu harus terusik oleh kemacetan kota Bogor. Maklum Bogor menjadi kota yang sering macet. Padahal sudah pemilihan gubernur tapi masih sama saja. Okeh, lanjut pada perjalanan selanjutnya.

-Stasiun dan Cemasku-

Sesampai di stasiun Bogor, tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran bapak tukang becak, harganya cukup terjangkau hanya Rp. 8000 rupiah, tapi itu versi becak yag kunaiki, entah jika menaiki becak yang lain, bisa saja lebih murah atau lebih mahal.

Setelah sampai di depan stasiun aku membeli tiket dengan harga Rp 9000 menuju Stasiun Pasar Senen. Aku bertanya pada petugas yang berdiri dengan tidak gagah di depan kereta.

“Permisi Pak, kalau arah Pasar Senen yang mana yah?”

“Yang paling depan Mbak.” Ucap petugas dengan senyum yang cukup ramah menurutku.

Koper yang amat berat itu aku jinjing, aku seret, aku angkat, jinjing lagi, seret lagi, angkat lagi, demi melewati kereta-kereta yang lainnya. Mungkin jika ada tangga di tiap kereta itu pasti akan sangat membantu, tapi kesalnya jika tak ada tangga sama sekali. Hanya dengan bantuan tangan ala Herkules dan pijakan kecil aku pun mampu menaiki kereta, dengan sangat susah payah. Karena terburu-buru, aku sempat salah naik kereta,  saat itu aku duduk manis di kereta jurusan Jakarta Kota, melamun sebentar dengan ragu-ragu, untung saja keraguanku tak aku diamkan, aku pun bertanya pada wanita muda berbaju hitam coklat, hingga akhirnya aku benar-benar menaiki kereta yang benar, Bogor–Jatinegara.

Alhamdulillah aku langsung mendapatkan tempat duduk dan bertemu dengan Ibu muda yang katanya dia suka jalan-jalan, itu yang dia katakana padaku. Ibu muda yang belum sempat aku tahu namanya itu, nampaknya akan berhenti di Tanah Abang, karena sebelumnya ia bertanya dulu padaku. Dalam perjalanan kami saling berbincang-bincang, sampai-sampai tidak terasa sudah melewati stasiun Cikini dan aku pun yang tadinya ingin turun di Cikini harus menelan pil pahit karena Stasiun Cikini tak bisa aku diami, tanpa air mata bercucuran karena kecewa aku melanjutkan perbincanganku dengan Ibu muda yang belum juga memberitahukan namanya.

(Sebelumnya aku akan jelaskan kenapa aku harus turun di Stasiun Cikini dan tidak di Stasiun Pasar Senen, karena kereta jurusan Bogor menuju Stasiun Jatinegara tidak berhenti di Stasiun Pasar Senen, hanya lewat saja.)

Sedikitnya informasi mengenai Stasiun Pasar Senen membuatku bingung dan cemas, saking cemasnya aku terus mengikuti laju kereta hingga Stasiun Jatinegara.  Aku pikir itu pilihan teraneh yang seharusnya tidak aku pilih, tapi aku memakluminya karena pada saat itu, aku sedang lapar, koperku cukup berat hingga aku cukup lelah, aku pun masih asing dengan namanya kereta api, dan tentu saja aku terlalu khawatir dengan diriku sendiri. Alhamdulillahnya ada seorang pria yang memberitahukanku untuk tetap menaiki kereta yang saat ini sedang kunaiki, karena akan berhenti di Stasiun Pasar Senen, Dia bilang seharusnya aku berhenti di stasiun setelah stasiun pasar senen, aku lupa nama stasiunnya, intinya berhenti di stasiun setelah stasiun pasar senen. Kami pun mengobrol, aku tidak banyak bertanya tapi cukup banyak menjawab karena orang itu terus bertanya padaku, sempat sedikit risih dan takut karena aku tidak sama sekali mengenal orang itu, bahkan ia sempat menawari dirinya untuk membawakan koperku tapi lekas kutolak dengan baik-baik, pastinya tak lupa memasang senyum sebagai tanda menghormati orang itu. Padahal dalam hati aku benar-benar cemas.

-Stasiun Pasar Senen-

Alhamdulillah, aku sudah menginjak Stasiun Pasar Senen dengan sebenar-benarnya. Aku tak sempat melirik jam, saat itu yang kupikirkan hanyalah mushola. Syukurku aku bisa menemukan mushola dengan mudah, dengan menoleh ke kiri dan mushola terlihat dengan jelas. Di sana aku bertemu dengan dua orang tua berwajah ramah, baik hati, dan tidak sombong. Kupasang senyuman terindahku dan bertanya, “Pak, boleh tidak saya titip koper saya di sini.” Aku pun meletakkan koperku di samping barang-barang kedua orang tua itu. “Iya boleh.” Jawabnya ramah.

Air wudu memang obat mujarab untuk melepas lelah, dan akhirnya aku pun bisa solat zuhur dengan tenang, sedikit menyesal karena aku lalai dalam solatku (karena kereta pastinya T.T). 10 menit kemudian tibalah adzan yang menandakan solat ashar.

-Tiket-

Lagi-lagi aku tabu tentang tiket, kursi tunggu, koridor, anak tangga, dan semua fasilitas stasiun kereta api. Namun, keraguanku kini terkalahkan dengan lelahku, lelah itu tak selamanya membuatku lesu dan tidak bertenaga, melainkan membuatku terus maju untuk mencari tempat duduk dan sebotol air mineral.

Bertanya dalam situasi tidak tahu dan ragu adalah pilihan yang tepat untuk meluruskan tekadku saat itu. Kembali kuucapkan rasa syukur, karena meminum sebotol air mineral dengan nyaman di kursi duduk berwarna coklat. Aku terus melirik jam di layar ponselku, nampaknya temanku yang dari Tangerang belum juga sampai. Aku terdiam sebentar, melihat-lihat suasana stasiun Pasar Senen. Dua kereta api lainnya telah berjajar akan berangkat, namun kereta Brantas yang akan kunaiki belum juga datang. Tiba-tiba ponselku berbunyi, dan itu dari Monik, temanku. Akhirnya kami pun bisa tersenyum lega karena bisa bertemu. Beberapa menit kemudian, kereta menuju Kediri pun datang. Sambil berdesak-desakkan denga penumpang lain kami bisa menemukan kursi yang akan kami tempati.

-Kereta dan Imsomnia-

Aku tidak bisa tidur, karena tempat duduknya tidak nyaman. Seindah apa pun posisiku, tetap saja mataku sulit terpejam dengan lelap. Tidak hanya itu, bunyi kereta api yang terus bergemuruh di tambah orang-orang yang tidak berhenti berbicara, semakin membuatku tak bentah lama-lama di kereta. Padahal, perjalanan menuju Kediri amat lama, sekitar 17 jam. Untuk mengurangi ketidaknyamananku, aku mulai mencoba mengobrol dengan Monik, berbincang-bincang dengan dua orang tua yang duduk di depanku, makan cemilan, mendengarkan music, dan menulis sebuah cerita di buku catatan. Sayangnya, aku terlalu cepat bosan. Saat ini yang aku butuhkan hanyalah tidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam, dan aku masih belum bisa tidur.

-Pedagang Asongan-

Setiap pemberhentian, pasti pedagang asongan datang menawari barang dagangannya. Aku pikir mereka sangat gigih, bayangkan saja setiap malam bahkan sampai larut pagi mereka mendatangi banyak kereta api. Tidak hanya pria tapi juga wanita. Saat itu tepat pukul 12 malam, dan aku secara tidak sengaja mendengar suara pedagang asongan yang berteriak menjual mie dan kopi. Suaranya bermacam-macam, ada yang serak, parau, seksi, keras, bahkan suaranya seperti orang yanga baru bangun dari tidur. “Mie, mie, kopi, kopi, mie, mie, mie, kopi, teh, jahe, kopi…”. Nampaknya tawaran mereka sangat menggiurkan, aku pun luluh dengan tawaran pedagang-pedagang itu. Tak lama aku lekas memesan mie. Dengan kemayu, seorang wanita yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda itu duduk menghadap ke arah kami. Diberikannya dua gelas mie dengan senyum biasa-biasa saja. Aku pun cukup membayar 7000 rupiah untuk menikmati segelas mie hangat di malam hari. Malam yang membuatku tidak bisa tidur, karena bising dan tempat duduk yang tidak empuk.

-Pagi-

Pagi adalah hal yang amat aku dambakan, karena aku akan segera sampai. Cuaca amat cerah, dan kini mataku telah terhiasi oleh sawah-sawah yang terhampar luas bak lautan tak bertepi, hijau dan dingin. Anehnya aku tidak bisa menikmati dengan lega, sebab badanku sakit, pegal-pegal, dan lapar.

-Aku Tak Tega-

Akhirnya aku sampai, benar-benar sampai, dan menginjak Stasiun Kediri. Aku pun berjalan dengan koper yang setia menemaniku. Melangkah dengan lega, menyambut mentari dengan senyuman terindah, mengucapkan selamat tinggal pada kereta yang membosankan, tertawa dalam hati karena aku pun sampai, dan memasang mata memerhatikan orang-orang sekitar. Yang kulihat saat itu adalah beberapa pria tua memakai baju kuning dan menawari kami untuk mengangkat koper serta menaiki becak. Tentu saja aku langsung menerima dengan hati terbuka. Kusenderkan punggungku pada becak yang baru aku naiki, sedikit bertanya-tanya pada bapak tukang becak yang wajahnya amat tak berseri-seri. Aku pikir bapak tukang becak sedang banyak masalah (ehm, mungkin). Tiba-tiba becak berhenti, aku pikir ada apa, ternyata sudah sampai di Bayangkara. Kutanyakan berapa yang harus aku bayar? Bapak yang bermuka haru itu pun menjawab, “Dua puluh ribu”. Aku tahu jika bapak berbuka murung itu sedang berbohong, karena sebenarnya harganya hanya 10.000 saja, tapi aku kasihan dan tidak tega, mungkin saja dia belum membeli susu untuk anaknya atau dia belum bisa membayar uang sekolah anaknya. Aku pun memberikan 20.000 pada bapak itu, karena tawaranku sempat ditolak sebelumnya. Walaupun aku kecewa karena ketidakjujuran bapak itu, tapi ya sudahlah, yang penting hatiku ikhlas.

-Pare’dise dan Tidur Siang-

“Sampai juga ternyata.” Itu yang kupikirkan setelah menginjak gerbang Paredise, tempat camp kami. Seorang wanita muda tengah berdiri di depan pintu asrama dengan senyuman manisnya. Dia lekas mengajakku dan monik menuju kamar yang akan kami tempati. Pintu kamar pun telah terbuka, dan aku sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhku di kasur bergambar Chelsea itu. Namun sebelumnya aku tidak lupa untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu, hingga akhirnya mataku terpejam, aku pun bisa menikmati tidur dengan nyaman. Alhamdulillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s