Jejakku: Pagi saat ini

21 April 2013

Kini aku melihat suasana yang sama, pagi, burung-burung kecil yang berterbangan, sepeda onthel yang berjajar tanpa nama pemiliknya, dan seorang nenek tua yang sedang membuang sampah.

Awan tampak berwarna jingga, walau bukan senja tapi sama indahnya. Begitupun suara ayam yang silih berganti, seolah saling menyaut dan berbalas informasi. Aku hanya terduduk di ats tikar berwarna hijau tua dan hitam bergaris. Tidak hangat tentunya, karena sangat tipis. Yang kupikirkan saat ini hanya menikmati pagi sambil menghirup udara segar di Pare, tepatnya di Pare-Dise, asrama yang kutempati. Hari ini tidak ada jadwal belajar untuk menghafal kata-kata atau idiom, karena hari minggu harinya untuk bersantai.

Tiba-tiba, aku mendengar pintu terbuka dan suara mungil teman satu campku. Tidak asing lagi, itu pasti Adin. Ternyata hari ini adalah jadwal Adin untuk piket, membersihkan halaman luar camp dan membuang sampah. Dengan kresek hitam yang ia balut di tangan kanannya, Adin cukup mampu membawa sekeranjang sampah yang besar dan berat sendiri. Alhasil, halaman camp jadi lebih bersih. Thanks Adin. ^^

Awan kini telah berubah warna menjadi lebih putih dan silver. Suara burung-burung pun tertindih dengan geraman kendaraan bermotor dan aktivitas orang-orang lainnya. Namun, kini aku lebih terusik oleh bunyi dentuman perutku sendiri, maklum yang kurasakan saat ini adalah lapar. Penjual bubur keliling itu belum juga datang. Heemm, aku lapar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s