Jejakku: Pare dan Kisah yang Takterlupakan

Oleh Muzzamilah

Jilbab coklat itu temaniku dalam senja. Melaju dengan cepat besama dzikir. Menatap atmosfir Pare yang belum tampak ramai, seolah-olah kendaraan yang lain mempersilahkanku untuk terus melaju tanpa gangguan sedikit pun. Lelah pasti ada, karena aku tak terbiasa menggoes sepeda. Namun, aku suka karena aku bisa merasakan hal yang berbeda, Alhamdulillah.

-Tiket

Aku dan temanku Ana akan pergi ke sekitar Alun-alun, di sana ada tempat pembelian tiket kereta Api. Sengaja aku menemani Ana yang akan membeli tiket kereta Api tujuan Solo. Sekalian saja, karena aku ingin membeli mukena dan mengunjungi mesjid An-Nur. Kami terus menggoes sepeda, tidak terlalu cepat juga tidak lambat. Sesampainya di Indomaret lekas Ana menanyakan harga tiket tujuan Solo, tapi sayang kami belum beruntung untuk bisa mendapatkan tiket, karena ada masalah dan tidak bisa membeli tiket. (Oya, karena di Indomaret tidak ada jadi kami putuskan untuk ke Alfamart, dan lagi-lagi tidak bisa) Dengan kecewa kami pun memutuskan hanya membeli makanan ringan saja untuk berbuka, kebetulan aku dan Ana berpuasa.

Waktu menunjukkan  pukul 5 sore, dan kita putuskan untuk pergi menuju masjid An-Nur. Masjid yang besar di Pare. Sebenarnya aku sudah lama ingin mengunjungi masjid itu, merasakan indahnya solat berjamaah di sana. Entah mengapa sejak aku melihat mesjid itu seolah-olah aku harus datang ke sana, nampaknya mesjid itu akan memberikanku kisah yang istimewa, padahal sama sekali aku tak mengenal mesjid itu. Kala dikejauhan, mesjid itu amat besar, seolah ingin menarikku untuk mengunjunginya.

-Mesjid An-Nur

Sebelum sampai, Adzan Magrib telah berkumandang, hingga kami pun menepi di pinggir jalan. Segera meminum seteguk air mineral, setelah bergantian kami lekas menuju An-Nur. Subhanallah, mesjidnya tampak luas dan megah, indah sekali. Ketika sampai di mesjid An-Nur dan meletakkan sepeda, aku melihat beberapa remaja yang memotret dan bersantai di sekitar masjid. Anehnya mengapa mereka tidak lekas pergi untuk mengambil wudhu (astagfirullah, maafkan hamba ya Allah). Kulangkahkan kakiku, segera menuju masjid, sempat terpukau dengan rancangan masjid yang unik, kami harus melewati tangga yang mirip sekali dengan tangga sebuah istana, lorong kecil yang memutar, menarik sekali. Nyatanya setelah sampai ada kekecewaan dalam benakku. Suasana masjid tak seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya, mengapa mesjid seindah dan semegah ini hanya memiliki sedikit jamaah. Aku berharap semoga masyarakat sekitar bisa mengelola mesjid ini dengan baik. Akhirnya aku pun tahu, mengapa aku harus mengunjungi mesjid ini. Ia merasa sepi, itu yang terbersit dalam pikirku. Ia ingin diperhatikan, ia ingin dirawat, ia ingin ramai dengan jamaah yang selalu menyebut nama-Mu ya Allah, ia merindukan itu. Tapi, aku amat bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk menikmati mesjid yang megah itu. Perasaanku saat itu adalah, aku bisa mendatangi rumah Allah, berharap Allah Swt menatapku dan memberikanku senyuman. Subhanallah, air mataku tak bisa aku tahan lagi seraya ucap syukur terungkap dalam hati (Alhamdulillah).

Setelah melaksanakan solat Magrib, kami menyantap makanan yang kami beli di Alun-alun. Alhamdulillah, rasanya nikmat sekali. Kerupuk Jamur dan Martabak Ketan itu menjadi teman dikala lapar menerpa (Alhamdulillah). Tapi, sepertinya perut kami tidak akan kenyang jika tidak memakan nasi, seperti orang-orang katakan, orang Indonesia jika tidak memakan nasi bukan makan namanya (Astagfirullahaladjim).

Aku hanya bisa melambaikan tangan pada mesjid An-Nur yang memesona itu, menandakan kepergianku dan mengungkapkan jika aku akan datang kembali. Kugoes kembali sepedaku, perlahan tapi pasti kami mulai mencari nasi bakar. Tidak terlalu kecewa ketika nasi bakar yang kami inginkan habis terjual. Kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya kami memilih untuk makan di warteg.

-Di Warteg

Kala itu, aku dan Ana mengalami peristiwa yang membuat kami malu pada diri kami sendiri. Aku malu dengan jilbab yang aku kenakkan, aku malu pada Allah Swt, aku malu pada orang yang kami temui saat itu, aku sangat malu, yang kulakukan saat itu hanya meminta ampun pada Allah Swt.

Kami merasa bersalah karena telah menuduh seorang wanita muda mencuri ponselku, saat itu aku dan Ana hilaf. Wanita itu memang berpakaian tak semestinya, tampak seram, dan entah mengapa dia harus mengemis. Ketika aku panic karena tidak tahu di mana ponselku, Ana lekas bertindak menghampiri wanita muda itu dan spontan menggeledah pakaian wanita itu. Aku pun ikut melakukannya (astagfirullah, kami terlalu gegabah dan panic, ampuni kami ya Allah). Namun ternyata, Ana lupa kalau ia meletakkan ponselku di tasnya. Aku pun lekas meminta maaf pada wanita itu, dan kembali ke warung makan. Kami terdiam dan saling menatap. Yang bisa kami lakukan saat itu adalah meminta ampun pada Allah Swt dan memberikan Al-fatihah pada wanita muda itu. Saat itu pun, aku tidak bergairah untuk makan, bahkan aku tak menghabiskan makananku (maafkan aku ya Allah), aku malu padaMu ya Allah, astagfirullah. Maafkan kami yang lemah ini ya Allah, karena telah berbuat kesalahan. Aku merasa puasaku nampak tak berarti, diberikan ujian seperti itu pun aku berpikir negatif terhadap orang lain dan berbuat kesalahan.

Aku berharap dipertemukan kembali dengan wanita itu dan bisa meminta maaf lagi, sungguh aku merasa sangat bersalah. Jika melihat paras wanita muda itu, aku benar-benar kasihan, astagfirullah. Aku pun hanya bisa memberikan doa dan surat Ar-rohman pada wanita itu.

Aku terlalu memikirkan harta yang sebenarnya itu adalah milik Allah Swt, aku tidak percaya akan perlindungan Allah Swt, aku terlalu cemas dan berpikir buruk terhadap keadaan yag belum terjadi, aku terlalu….., sudahlah, ini kesalahanku, maafkan hamba ya Allah. Hamba begitu lemah dan sombong, astagfirullah.

Seharusnya aku bisa memertanggungjawabkan kata-kataku ketika di mesjid. Ya, aku sempat berkata, “Apapun yang terjadi, semua adalah atas seizin Allah Swt dan kita harus yakin jika Allah melindungi kita.” Tapi nyatanya, aku terlalu penakut dan tidak percaya dengan apa yang aku katakana, astagfirullah. Semoga ini menjadi pembelajaran yang nantinya ‘kan menjadikanku lebih kuat dan bertaqwa kepada-Mu ya Allah, amin ya Allah.  InsyaAllah.

Dari kisahku ini ada hal yang bisa kita ambil:

  1. Jangan menilai orang dari penampilannya
  2. Jangan merasa bangga dengan apa yang kita punya, karena sesungguhnya itu adalah milik Allah Swt.
  3. Jangan panic dan takut, karena sesungguhnya Allah melindungi kita
  4. Yakin akan semua peristiwa adalah atas izin Allah Swt
  5. Yakin Allah akan memberikan yang terbaik, semua peristiwa adalah sebuah pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik, insyaAllah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s