Cermin: Kursi dan Jam Dinding itu…

Kursi itu, aku melihatnya kembali, seolah membawaku pada secangkir kopi yang pernah aku hirup bersamanya. Aku masih ingat  senyumannya, entah mengapa saat itu membuat jantungku berdegup tidak normal. Aneh, tapi aku suka, sangat suka. Kata cinta sempat ingin aku bagi padanya, sayang aku tak seberani yang aku bayangkan. Tatapannya membuatku enggan melakukannya pertama kali, karena berharap dirinyalah yang pertama mengatakannya.

Tidak kusangka jam dinding dan detaknya terdengar sama. Saat itu dia menangkap basah, aku yang tak bisa berkata-kata dengan lancar,  aku gugup saat itu, sangat gugup bahkan aku sempat menjatuhkan sendok mungil itu di hadapannya, namun dia hanya tersenyum dan mengambilkannya untukku. Dengan suaranya yang lembut dia meminta pelayan menggantikan sendok itu.

 Dalam hati, berharap aku bisa bersamanya selamanya, walau kini aku tak bisa menyapanya kembali.

Selamat jalan kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s