Cermin: Mimpinya

Lelaki itu berlari, meninggalkan beribu kenangan. Hatinya terluka, hingga ia menangis dalam hujan yang tak begitu deras, tapi ia bersyukur ia masih hidup. Bayi itu ia tinggalkan, walau bukan anak kandungnya tapi ia sangat mencintainya, karena bayi itu, dia selamat dari maut dan bencana yang seharusnya mengambil segala kehidupannya.

Lutunya tampak tak kuat lagi untuk menjejakkan kaki, nafasnya tak bisa disebut seperti nafas orang normal, lengannya hanya bisa menekan dada sebelah kiri, dan matanya berkali-kali menoleh tak tahu arah, seolah ia takut ada orang yang mengikutinya. Dia terus dan terus berlari, hingga akhirnya ia menemukan sebuah jalan besar, ia berharap bisa menemukan kendaraan dan pergi ke kota. Pantai itu seolah akan menelannya, suara ombak tampak seperti ancaman, dan tentu saja sepi dan kelam adalah ketakutan yang ia rasakan.

Bunyi klakson tiba-tiba hadir bersama cahaya yang menyilaukan pandangnya, lelaki  itu pun mulai sadar jika ia hanya bermimpi, dilihatnya sebuah mobil berwarna putih, ia pun kini menangis dalam hening.

“Tolong-tolong,” ucapnya pada pengendara mobil pengangkut sayuran itu.

“Ada apa? Kenapa kau menghalangi jalanku? Bagaimana kalau terjadi kecelakaan, dasar kau ini!” ucap lelaki tua berkumis tebal itu, tampak kesal sepertinya.

“Tolong aku, aku kehabisan bensin.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

“Akhirnya aku bisa pulang! Kenapa bensinku  harus habis disaat aku tak punya uang, fuuuhh” ungkapnya dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s