Cermin: Menunggu itu Mendebarkan

Kakinya amat kikuk, sulit berjalan dengan tenang. Wanita itu gelisah, amat gelisah. Terkadang ia menatap layar handphone yang digenggamnya, memastikan sang pangeran mengirimkan pesan singkat berupa sapaan atau jawaban. Roda-roda yang melintas tak hiraukannya, bahkan malam yang kian larut pun seolah berubah menjadi sahabat sekaligus saksi akan kisah yang berujung pada perbincangan yang istimewa. Jemari ikut menari dalam sunyi, debaran kian menggebu. Detik terus berlalu menandakan sang pangeran ‘kan segera tiba. Hingga akhirnya bibir itu mengukir seri, bak bianglala. Sang pangeran telah datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s