Cermin: Berita “Lutfi”

 Aku mendengar sebuah kabar di desa yang amat aku cinta, di mana kabar itu menyebutkan banyak perempuan-perempuan yang tertipu atau aku menyebutnya terperdaya oleh seorang polisi yang seharusnya menegakkah hukum namun, ia malah merusak masa depan gadis-gadis belia itu.

Sebut saja dia Lutfi, ya namanya Lutfi, salah seorang polisi yang seharusnya sudah tidak dibertugaskan namun kini masih berlenggang kaki dan bernafas ria. Entah mengapa hukum di dunia seolah mati. Aku tak lagi percaya polisi. Mungkin hal ini pun yang dilakukan para teroris agar polisi sadar tugas dan kewajibannya. Tapi, jangan sampai aksi penembakan polisi di iya kan oleh banyak kalangan, hanya karena prilaku beberapa polisi yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

Aku pikir sangat berbahaya bagiku untuk mengomentari kasus yang berhubungan dengan salah satu lembaga pemerintahan tersebut. Tapi aku sudah gatal ingin mengatakannya. Lanjut pada topik mengenai Lutfi ->

Seorang lelaki yang kutunggu kabar pusaranya. Entah mengapa aku membenci dia, intinya dia sudah memperlakukan banyak perempuan dengan keji dan tak beradab.  Dan hal itulah yang membuat hatiku ikut terbakar, karena bukan satu, dua, tiga, orang, namun belasan, mungkin saja puluhan. Aku tidak tahu, tapi kabar yang mengatakan Lutfi seorang polisi bejad. Dia meniduri banyak gadis di bawah umur, ada yang dinikahinya, ada pula yang dibuangnya. Namun, pernikahan itu tidak lah menjadi peristiwa yang indah, beberapa perempuan yang dinikahinya malah mengalami perlakuan yang amat keji. Sulit membayangkan rasa sakit yang ia rasakan. Anehnya, mereka hanya diam, tidak melakukan pembalasan yang setimpal. Kini aku baru tahu, diam serasa seperti kotoran, tahi Anjing, dan bahkan seperti bangkai babi.

Dalam kisah itu, aku hanyalah tokoh tambahan yang bukan pendukung. Seandainya saja aku tahu lebih awal. Aku akan ikut menuntaskan. Aku tahu apa yang aku lakukan, karena aku belajar, aku mengenal, aku tahu tentang ilmu, dan aku memiliki keberanian. Aku mendapatkan banyak hal dari belajar dan pendidikan.

Kaum perempuan, janganlah berdiam diri dari ketidakadilan. Hidup  harus diperjuangkan, jangan takut dengan orang bodoh yang berpura-pura pintar. Percayalah akan janji Sang Maha yang Menciptakan. Allah, akan berada dekat dengan orang-orang yang percaya akan keadilan-Nya, insyaAllah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s