Cermin: “Lutfi” Kutunggu Kabar Pusaramu

Bunga di sebelah rumahku telah membusuk. Kudengar masih banyak bunga-bunga yang lain. Anehnya, mengapa kumbang itu masih hidup. Apa karena setiap hari memakai pangkat dan berkuasa? atau ia begitu pintar hingga semua mampu ia rubah menjadi boneka. Kumbang itu tidak sadar, sama saja ia melukai ibu, adik, dan anaknya, aku rasa ia tak punya setetes hati. Aku mengutuk, hingga Sang Penguasa Jagat Raya ikut menunggu hari itu. Pembalasan nyata dan lebih nyata.

Otaknya di penuhi Id, tak ada Ego. “Lutfi” si penegak hukum yang mati.

Wahai kumbang yang kutunggu kabar pusaramu! aku memang tak tahu wujudmu, hanya mendengar kabar dari banyak burung yang tidak lagi menggosip di pagi hari. Berhentilah menyakiti, atau bumi ‘kan menelanmu tanpa hati nurani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s