Makna dan Definisi

PENDAHULUAN

 Sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu, perkembangan kosakata terus menunjukkan kemajuan. Kemajuan itu makin dipacu oleh perkembangan teknologi informasi yang mampu menerobos batas ruang dan waktu. Dalam perkembangan yang begitu cepat telah tersedia kamus yang memuat kosakata bahasa. Sebagaimana kita ketahui, kamus itu membantu pengguna bahasa dalam memahami makna kata. Kamus memuat khazanah kosakata bahasa yang dapat menjadi lambang atau indikator kemajuan peradaban masyarakat pendukungnya. Demikian pula, bahasa Indonesia memiliki kekayaan kosakata yang memadai sebagai sarana pikir, ekspresi, dan komunikasi di berbagai bidang kehidupan.

Kecermatan berbahasa mencerminkan kecendekiaan berpikir. Kecermatan itu tampak dalam ketaatan pada kaidah bahasa dan ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapkan konsep, ide, gagasan, dan pengalaman. Ungkapan cendekia akan meminimalkan kerancuan, baik akibat kesalahan tata bahasa maupun kesalahan pilihan kata. Kata juga memiliki hubungan makna dengan kata lain. Namun, makna sebagai objek kajian semantik sangat tidak jelas strukturnya.Berbeda dengan morfologi dan sintaksis yang strukturnya jelas sehingga mudah dianalisis.

Hakikatnya konsep semantik dalam pembelajaran bahasa merupakan suatu bagian penting dalam pemahaman makna bahasa. Tanpa membicarakan makna, pembahasan linguistik belum dianggap lengkap karena sesungguhnya tindakan berbahasa itu tidak lain daripada upaya untnuk menyampaikan makna-makna itu. Semantik sebagai cabang kajian linguistik mengacu pada serangkai kaedah dan bersifat sentral karena dapat menganalisis makna atau arti bahasa melalui kata, frase, klausa dan kalimat.  Pada makalah kali ini kami mencoba membicarakan tentang perbedaan konsep makna dan definisi.

PEMBAHASAN

  1. Makna dan Kamus

Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja  yang kita tuturkan. Menurut Aristoteles  terdapat kedekatan yang sangat erat antara makna dan definisi, karena definisi sangat berperan dalam memberikan konsep teori pembentukan makna. Contoh : Ketika kita mendengar konsep kata ”Kuda” maka akan muncul beberapa preposisi

  1. Jika X adalah kuda, maka X adalah binatang
  2. Jika X adalah kuda, maka ia akan punya surai
  3. X adalah ayam jago, sehingga X bukanlah kuda
  4. Jika X adalah kuda, maka ia adalah mamalia berkaki empat besar dan punya kuku serta surai.

Dari contoh di atas, pemahaman tentang definisi sangat diperlukan untuk mengembangkan konsep teori makna. Selama ini ketika orang berpikir tentang makna, maka akan cenderung menghubungkan dengan definisi yang terdapat pada kamus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi merupakan kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari seseorang, benda, proses, atau aktivitas.

Untuk dapat memahami apa yang disebut makna, kita perlu menoleh kembali kepada teori yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure, yaitu tanda linguistik (Prancis: sine’linuistique). Menurut de Saussure setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifiesignified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifian atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual). Bloomfied mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya.[1]

Contohnya tanda linguistik yang dieja <meja>. Tanda ini terdiri dari unsur makna yan diartikan ’meja’ (Inggris: table) dan unsur bunyi atau yang mngartikan dalam wujud runtutuan fonem [m, e, j, a]. Lalu tanda <meja> ini, yang dalam hal ini terdiri dari unsur makna dan unsur bunyinya mengacu kepada suatu referen yang berada di luar bahasa, yaitu sebuah meja, sebagai salah satu perabot rumah tangga. Kalau kata ,meja. Adalah sebagai hal yang menandai (tanda-linguistik), maka sebuah <meja> sebagai perabot ini adalah hal yang ditandai.

[1] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. (Jakarta, Rineka Cipta, 2009), h.29-30.

Semantik dan Lexicography

Semantik adalah istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari hubungan antar tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu, semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.² Menurut Saussure, bahasa itu terdiri dari kumpulan kesan/makna seperti yang terdapat pada kamus, tersimpan di dalam otak dan dimiliki oleh setiap orang sehingga bisa digunakan kapan saja sesuai dengan keinginan masing-masing. Otak kita seperti gudang kata yang bisa menyimpan ingatan dalam jangka waktu yang lama akan bentuk-bentuk pola kalimat, frase dan kalimat.³ Leksikon mental diibaratkan sebagai gudang dimana kita menyimpan barang. Akan tetapi gudang ini bukan sembarang gudang karena tidak hanya barangnya yang disimpan itu unik, yakni kata tetapi cara pengaturannya juga sangat rumit. Kita bisa cari untuk permintaan barang yang masuk, permintaan itu bisa berupa bunyi, wujud fisik, wujud grafik atau hubungan antara satu ”barang” dengan barang yang lainnya. Leksikon mental sering juga dinamakan kamus mental, mempunyai sistem yang memungkinkan kita untuk meretrif kembali kata-kata secara cepat meskipun kata tersebut disimpan secara acak dengan ribuan kata yang lain. Berbeda dengan kamus biasa yang hanya menyimpan kata, leksikon mental menyimpan kata sekaligus menyediakan informasi berkaitan dengan kata yang akan diucapkan yaitu berupa informasi tentang fonologi, sintaksis, semantik, dan pengejaan kata. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tugas utama linguistik semantik yaitu memberikan dan mengumpulkan penjelasan dari arti masing-masing kata yang terdapat dalam leksikon mental.

Garman berpendapat bahwa bagi pembicara/penulis pencarian kata-kata merupakan bagaimana pemetaan ide atau arti kata dalam leksikon mental yang dituangkan dalam bentuk kata- kata yang sesuai untuk diimplementasikan dalam bahasa lisan/tulisan. Sedangkan bagi pendengar/pembaca proses tersebut lebih menekankan kepada pemetaan porsi sinyal yang akan diteruskan ke saraf sensorik untuk memberikan arti/makna kata.[1]

Adapun leksikografi merupakan ilmu tentang cara penyusunan kamus. Dalam menyusun kamus diperlukan ilmu-ilmu lainnya yang berhubungan seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik. Pembentukan kamus yang melibatkan leksikon mental lebih memberikan informasi secara rinci terhadap suatu kata baik secara gramatikal maupun phonologinya. Contohnya adalah kata ”Pour” yang terdapat pada Concise Oxford Dictionary. Kamus merupakan alat yang sangat popular, jika kita melihat sejarah munculnya kamus maka kamus bilingual lebih dahulu diciptakan dibandingkan dengan kamus monolingual. Kamus bilingual bahasa Latin-Vernacular sangat terkenal di Eropa ketika pertengahan dan akhir dari abad 14 dan akhir abad 15  (Auroux 1994-119). Setelah itu baru muncullah kamus monolingual yang bertujuan untuk jadi petunjuk bagi orang yang ingin mengkaji lebih dalam tentang kegunaan bahasa lisan.

Salah satu ilmu yang diperlukan dalam penyusunan kamus yaitu semantik. Makna yang terdapat dalam semantik yaitu leksikal, gramatikal, kontekstual, idiomatikal, dan sebagainya. Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Makna leksikal ini  merupakan kata yang masih berdiri sendiri baik berupa leksem . Contoh : kuda, meja, buku, dan lain-lain. Sejauh ini kata yang tertulis dalam kamus jarang disertai dengan pengertian (sense) yang jelas, misalnya dijelaskan dengan frase kata yang mengikutinya sehingga sering terjadi kesalahan penggunaan kata. Contohnya utuk kata ”Pour” yang memiliki banyak arti bila kata tersebut diikuti dengan frase kata lainnya:

  1. I was pouring the rainwater when the phone rang.
  2. I was pouring the mud when the phone rang.
  3. I was pouring the rainwater over the ground when the phone rang.
  4. I was pouring the mud down the hole when the phone rang.

Kalimat 1 dan 2 masih dipertanyakan kejelasannya karena tidak adanya frase yang mengikuti kata tersebut unuk lebih memperjelas makna kalimat, sedangkan kalimat 3 dan 4 lebih jelas dan maknanya pun dapat diterima secara jelas juga.

Perlu kita ketahui bahwa definisi yang terdapat dalam kamus merupakan definisi yang berdasarkan kata atau semasiological (studi tentang tanda) yang mengarah pada makna. Pendekatan ini biasanya dimulai dengan menentukan leksemnya terlebih dahulu, setelah itu baru mengartikan maknanya masing-masing. Berbeda dengan pendekatan onomasiological yang memulai dari makna tertentu kemudian mengurutkan beberapa bentuk variasi yang memungkinkan mempunyai kesamaan dari makna kata tersebut.  Semasiological menyebutkan beberapa kata : scare, terrify, frighten, startle, spook, panic. Onomasiological menyebutkan kata : Frighten

Ada pun yang dinamakan dengan Tesaurus yaitu memuat kosakata sebuah bahasa dalam relasi kedekatan makna. Tesaurus dapat mengarahkan pengguna bahasa ke dalam memilih kata yang tepat untuk satu konsep. Di dalam thesaurus disajikan kosakata dengan konstelasi relasi makna dengan kata-kata lain, bukan dengan definisi seperti kamus. Dengan demikian penggunaan bahasa dapat memperoleh ketepatan bentuk ungkapan dan kecermatan pemilihan kata dalam pengungkapan tentang konsep, ide, gagasan, dan pengalaman. Tesaurus ini menyediakan deret kata yang memiliki makna yang sama atau mendekati kesamaan.

²ibid., h.2.

³Nick Riemer, Introducing Semantics. (Cambridge Universty Press, 2010),  h.46.

4Ibid., h.47.

Tesaurus dibedakan dari kamus. Di dalam kamus dapat dicari informasi tentang makna kata, sedangkan di dalam tesaurus dapat dicari kata yang akan digunakan untuk mengungkapkan gagasan pengguna. Dengan demikian, tesaurus dapat membantu penggunanya dalam mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan sesuai dengan apa yang dimaksud. Misalnya, pencarian kata lain untuk kata hewan, pengguna tesaurus dapat mencarinya pada lema hewan.

hewan n binatang, dabat, fauna, sato, satwa

Sederet kata yang terdapat pada lema hewan tersebut menunjukkan bahwa kata tersebut bersinonim sehingga dapat saling menggantikan sesuai dengan konteksnya. Tesaurus ini berguna dalam pengajaran bahasa sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengajar dan pelajar.

Gambar 2 Kamus Bahasa Indonesia[1]

  1. Satuan Makna
  2. Kata dan Morfem

Kata Merupakan satuan terbesar dalam morfologi dan satuan terkecil dalam sintaksis. Menurut Bloomfield  ”Word is a minimum free form, i.e the minimal unit which may appear on its own without any additional grammatical material, is clearly insufficient : many canonical words like the, of, or my do not usually appear alone, but must presumably considered as fully fledged words.” (Maksudnya yaitu “kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form) tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah bersifat final).

Sedangkan,  definisi morfem menuruf Bloomfield (1933 : 161) adalah, “ a linguistic from wich bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple form or morpheme. (Maksudnya yaitu “satu bentuk lingual yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun secara bunyi maupun arti adalah bentuk tunggal atau morfem).[2]

Pada dasarnya, morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun ikat yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal. Sebagai contoh bentuk sakit adalah sebuah morfem karena tidak dapat dibagi menjadi bentuk-bentuk terkecil lainnya serta mengandung makna atau arti leksis. Bentuk meN- juga merupakan sebuah morfem, karena merupakan bentuk terkecil bahasa Indonesia, walau tidak mempunyai makna leksikal, tetapi mempunyai makna gramatikal. Jadi jelas, bahwa morfem itu bisa berbentuk bebas (seperti: ke-, ter-, peN-, di-, per-an, peN-an). Oleh karena itu, morfem dapat diklasifikasikan menjadi morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas mempunyai potensi untuk berdiri sendiri (jadi secara sintaksis bisa langsung menjadi kata), sedangkan morfem terikat tidak dapat. Dalam kata terangkat terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter.

Istilah kata didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem. Sebagai contohnya; Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandaibukan bentuk bebas. Tetapi perhatikan bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tanganmemiliki satu kesatuan yang utuh atau padu.

Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase. Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda  atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas di sebut kata. Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, mejamasing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis (polymorphemic word) (Verhaar, 1984 : 54).

  1. Simbol Suara

Onomatope adalah kata-kata yang yang menunjukkan bunyi atau suara dengan cara meniru bunyi yang dikeluarkan oleh suatu benda atau suara manusia atau binatang. Contoh dalam bahasa Jepang, suara kucing ”nyanya”, dalam bahasa Indonesia “miaow”, suara hujan ”zaa zaa”, ada pula kata tiruan bunyi, msl “kokok” merupakan tiruan bunyi ayam, “cicit” merupakan tiruan bunyi tikus

  1. Idiom

Makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frasa, atau kalimat) yang ”meyimpang” dari makna lesikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya.. Contohnya: membanting tulang, meja hijau dan lain sebagainya.[3]Dalambuku Introduction Semantics contoh idiom seperti “To scoop the pool” yang berarti “untuk meraih atau memenangkan sesuatu”.[4] Bila diartikan secara terpisah masing-masing kata tersebut maka, “scoop adalah memindahkan sesuatu dalam jumlah besar dengan cepat dalam sekali gerakan”. Sedangkan ”pool adalah pusat berkumpulnya barang”. Jelas sekali perrbedaan antara makna secara terpisah dari masing-masing kata tersebut dengan makna idiom setelah dua kata tersebut bergabung. Dimana ketika dua kata tersebut bergabung maka akan menimbulkan arti baru.

  1. Makna Kontekstual

Makna kontekstual adalah makna sebuah kata atau gabungan kata atau suatu ujaran di dalam konteks pemakaiannya. Makna ini muncul sebagai akibat antara ujaran dan konteks. Makna kontesktual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. Misalnya, makna kata kepala padakalimat-kalimatberikut[5].

Rambut di kepala nenekbelumada yang putih.

Sebagai kepala sekolahdiaharusmenegurmuriditu.

Nomorteleponnyaadapada kepala suratitu.

Beras kepala harganyalebihmahaldariberasbiasa.

Kepala pakudan kepala jarumtidaksamabentuknya.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu. Makna kontekstual ini berkaitan erat dengan kolokasi. Menurut Chaer, makna kolokatif berkenaan dengan makna kata dalam kaitannya dengan makna kata lain yang mempunyai ”tempat” yang sama dalam sebuah frase.[6] Kolokasi berbeda dengan idiom. Idiom adalah ungkapan yang kalau diterjemahkan secara harfiah tidak masuk akal atau ungkapan yang maknanya tidak dapat ditelusuri melalui kata per kata dan membentuk kata baru.Misalnya, idiom ‘cuci tangan’ dalam kalimat ‘Mereka cuci tangan atas masalah itu’. Idiom ‘cuci tangan’ tidak bisa dipahami melalui kata ‘cuci’ dan kata ‘tangan’, tetapi harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebaliknya, kolokasi adalah gabungan kata yang maknanya dapat ditelusuri melalui kata per kata, tetapi tidak membentuk kata baru. Misalnya, gabungan kata ‘memanjat pohon’ dapat dipahami maknanya melalui kata ‘memanjat’ dan kata ‘pohon’. Dengan demikian, kolokasi adalah kecenderungan sejumlah kata atau sekelompok kata untuk bergabung secara teratur guna menghasilkan bicara dan atau tulisan yang terdengar lazim dan berterima dalam suatu bahasa.

Contoh lain misalkan pada kata ”cut” yang memiliki banyak padanan kata yang mengikutinya, seperti :

cut a cake

cut someones’s hair

cut a wood

cut a diamond

cut  a deck of cards

cut a disc

cut  

compositional meaning  (arti kata = kata majemuk)

non compositional meaning (artibukan kata majemuk)

Cut has same vague /general meaning in every collocation (artitidakjelas/umum)

Cut has different meaning in every collocation (artinyaberbeda-beda)

Untuk contoh kata “cut” ini, secara umum mempunyai arti (general meaning) memotong dengan menggunakan benda tajam. Dalam kata majemuk kata ”cut” diikuti dengan kata benda lainnya. Namun pada kenyataannya tidak semua arti ”cut” memotong ini dilakukan dengan benda tajam, misalkan cut a deck of cards (membagikan kartu), cut in (menerobos antrian) atau cut butter(memotong mentega) karena bisa juga memotong mentega ini tidak menggunakan benda tajam. Dengan demikian maka arti ”cut” secara umum menjadi tidak sesuai dengan konteksnya, karena tidak jelas atau ambigu. Inilah yang menjadi masalah dalam Hipotesis arti kata ”cut” secara umum. Menyikapi hal tersebut, maka timbullah arti kata ”cut” dalam arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteks kalimatnya, namun masalahnya arti kata ”cut” ini menjadi banyak sehingga tidak efisien dan membingungkan makna leksikalnya.

Bila kita lihat arti ”cut” ini secara bukan kata majemuk maka artinya menjadi satu kesatuan, tanpa harus per kata dan memiliki arti yang jelas. Contohnya: Cutting the grass (memotongrumput),cutting a disc (mendengarkanmusik).

  1. Berbagai Cara Mendefinisikan Makna

Definisi adalah keterangan yang merupakan penjelasan atau uraian tentang arti suatu kata atau uangkapan yang membatasi makna kata ataupun ungkapan tersebut. Kata atau ungkapan yang hendak dijelaskan disebut definiendum sedangkan bagian yang dijelaskan definiendum itu disebutdefiniens.

  1. Definisi Real dan Nominal

Definisi Real yaitu mendefinisikan kata yang sudah umum digunakan. Definisi ini biasanya mengacu pada kata referennya. Contohnya menggunakan kata garam dibanding dengan NacL.

Definisi Nominal merupakan suatu jenis definisi yang baru sama sekali atau memberikan suatu arti baru pada kata yang sudah lama ada. Dan definisi ini merupakan suatu cara untuk menjelaskan sesuatu dengan menguraikan arti katanya. Dalam Definisi Nominal dapat dinyatakan dalam 3 cara, yaitu :

1)   Definisi dapat diuraikan dari asal-usulnya (etimologi), contoh : Filsafat, yaitu dari Philos yang berarti pencinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan jadi arti Filsafat adalah Pencinta Kebijaksanaan

2)   Namun tidak semua bisa dilakukan dengan cara etimologi, maka supaya jelas definisi nominal ini harus dilengkapi keterangan tentang bagaimana definisi ini telah digunakan dalam masyarakat.

3)   Dapat dinyatakan dengan menggunakan sinonim

  1. Definisi dengan menyebutkan salah satu katanya (Ostension)

Definisi dengan menyebutkan salah satu katanya atau definisi dengan Ostension merupakan cara mendefinisikan makna kata dengan lebih jelas dan sederhana, dengan menunjuk langsung kata benda yang mewakili makna kata yang dimaksud.

Adapun kesulitan mendefinisikan makna dengan ostention adalah penggunaan kata kerja “verb”, kata sifatadjectives” dan kata sambung”prepositions”tidak bisa di definisikan dengan cara ini, hanya kata yang termasuk ke dalam kategori leksikal dapat di definisikan dengan cara ini.

contoh: seorang wanita berada di toko kacamata di Prancis dan hanya berbicara sedikit bahasa Perancis, wanita tersebut ingin membeli kacamata, tetapi pelayan toko tidak mengerti yang wanita maksud, apakah hanya ingin membeli lensa kacamata atau membeli kacamata secara utuh.

Mendefinisikan makna dengan ostension memang terlihat mudah, hanya dengan menunjuk bendanya secara langsung, tetapi pada kenyataan cara ini juga menimbulkan makna ambigu. Cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi ketika mendefinisikan makna dengan ostension adalah menggunakan bahasa itu sendiri sebagai media untuk mendefinisikan makna sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Definisi dengan Sinonim

Mendefinisikan makna dengan cara memberikan sinonim dari kata yang dimaksud baik itu dengan bahasa yang sama atau dengan bahasa yang berbeda.

Contoh :  Bahasa Indonesia laki-laki < Pria

                Bahasa Inggris mad and furious < angry

 Definisi dengan sinonim memiliki kekurangan yaitu adanya kemungkinan menantang identitas antara definiens (hal/kata/ungkapan yang menjelaskan sesuatu) dan definiendum (hal/kata/ungkpan yang didefinisikan)

  1. Definisi dengan konteks atau contoh khas

Mendefinisikan makna kata dengan cara menghubungkan kata dengan peristiwa yang sesuai dengan konteks yang dimaksud.

Dalam buku Riemer dicontohkan  : scratch dan Itchy

Scratch diartikan dalam bahasa Indonesia menggaruk.

Itchy diartikan dalam bahasa Indonesia gatal

Kata scratch dihubungkan dengan suatu peristiwa yang sesuai konteks yaitu kapan kita akan melakukan kegiatan ini “scrach” menggaruk, yaitu dalam keadaan kita “itchy” gatal.

  1. Definisi oleh Genus (Jenis) dan Differentia (Pembeda)

Definisi yang memperhatikan genus atau jenis dan differentia atau pembeda.Aristotle dalam Riemer menjelaskan tentang definisi oleh jenis (genus) dan pembeda (differentia).

 “ definition involves specifying the broader class to which the definiendum belongs (often called the definiendum’s genus), and then showing the distinguishing feature of the definiendum (the differentia) which distinguishes it from the other members of this broder class.

Definisi termasuk menentukan kelas yang lebih luas lagi yang dimiliki oleh suatu kata atau ungkapan yang akan didefinisikan (definiendum) (disebut jenis definiendum) serta menunjukan ciri-ciri, perbedaan dari definiendum (pembeda) yang membedakan dari kelas yang luas.  Contoh :  a man as rational animal

                                 Man adalah manusia/mahluk hidup

                                Man termasuk ke dalam animal

                                Yang membedakan man dengan animal adalah rationality

Ada banyak permasalahan apabila mendefinisikan melalui jenis dan pembeda, bisa jadi menggunakan cara ini pemaknaan menjadi tidak efektif atau tidak mungkin. Apalagi definisi melalui jenis (genus) dan  pembeda (differentia) diharapkan sebagai definisi kognitif. Hal ini dikarenakan definisi melalui jenis dan sifat pembeda mensyaratkan dengan sistem kategori (genera) dari hal yang akan di definisikan (definienda). Sebagai contoh yang telah disebutkan sebelumnya yaitu mendefinisikan “man as rational animal” , makna dari keduanya harus sudah di ketahui sebelumnya. Tetapi tidak banyak jenis (genus) dan pembeda (differentia) yang dapat digunakan, untuk beberapa kata banyak jenis yang kurang relevan serta menghasilkan makna yang tidak dapat dimengerti.Oleh sebab itu definisi melalui jenis dan pembeda bukan strategi efektif untuk menghasilkan definisi kognitif.

 

  1. Definisi dan Subtitusionalitas

Subtitusi definiens bagi definiendum harus tepat dan sesuai dalam segala konteks.  Sebagai contoh dalam bahasa Inggris “keep in equilibrum” dapat diterima sebagai definisi dari kata “balance“ , apabila hal ini memungkinkan untuk mensubtitusi kata “balance” dalam berbagai macam konteks dan tidak ada kesalahan ketika menterjemahkannya. Contoh :

 

I balanced the plank on my head.

She balanced the ball on the end of the bat

Now, children, you have to balance the egg on the spoon.

I’ve never managed to balance the demands of work and play.

Kebenaran dari definisi bukan satu-satunya kriteria dalam mendefinisikan, makna juga mempunyai peran dalam mendefinisikan suatu kata atau ungkapan. Suatu definisi dapat diterima apabila dapat di subtitusi untuk hal yang akan dijelaskan. Selama tidak menjadi makna baru atau menghilangkan makna yang sebenarnya dari hal yang akan di jelaskan.

  1. Primitif Semantik[7]

Sangat memungkinkan memberi definisi untuk setiap kata dalam setiap bahasa dengan menggunakan kata yang lain dari bahasa yang sama, seperti halnya sebuah rangkaian definisi dari awal hingga akhir. Dikarenakan kosakata dari bahasa sangat terbatas, maka dengan metalanguage dapat digunakan untuk menjelaskan objek yang akan dijelaskan, dengan cara ini sehingga tidak akan meninggalkan definisi yang sebenarnya.

Kata yang tidak bisa di definisikan atau dipecah-pecah menjadi sesuatu yang lebih sederhana, ini dinamakan primitif semantik. Fodor dalam Riemer berpendapat bahwa setiap leksikon mempunyai butir leksikal, ini di sebut primitif semantik atau bagian kecil yang tidak dapat di definisikan.

 I take semantic facts with full ontological seriousness, and i can’t think of a better way to say what ‘keep’ means than to say that it means keep.

If, i suppose, the concept KEEP is an atom, it’s hardly surprising that there’s no better way to say what ‘keep’ means than to say it means keep.

 I know of no reason, empirical or a priori, tu suppose that the expressive power English can be captured in a language whose stock of morphologically primitive expressions is interestingly smaller than the lexicon of english.(Fodor 1998: 55)

Konsep teori makna dalam bidang linguistik didukung oleh kepercayaan bahwa makna setiap kata tidak selalu tidak dapat di jelaskan atau primitif, tetapi merupakan gabungan dari konsep primitif semantik. Primitif semantik merupakan landasan dasar dalam pembentukan makna. Teori linguistik modern yang sedang berkembang saat ini adalah Natural Semantik Metalanguage (NSM) yang diungkapkan oleh Wierzbicka dan Goddard. Berikut adalah daftar primitif semantik yang digunakan dalam pendekatan NSM untuk mendefinisikan makna :

I, you, someone, people, something/thing, body; this, the same, other, one, two, some, all, much/many; good, bad, big, small, think, know, want, feel, see, hear, say, words, true, do happen, move, there is, have, live, die, when/time, now, before, after a long time, a short time, for some time, where/place, here, above, below, far, near, side, inside, not, maybe, can, because, if, very, more, kind of, part of, like. (Goddard 2002;14).

 

(Saya, Anda, seseoran , oran , sesuatu / hal , tubu, ini, sama , lain, satu, dua, beberapa, semua, banyak/banyak, baik, buruk, besar, kecil, berpikir, tahu, ingin, merasa, melihat , mendengar , mengatakan , kata-kata , benar , jangan , terjadi , bergerak , ada , memiliki , hidup , mati , ketika / waktu , sekarang, sebelum , setelah waktu yang lama , waktu yang singkat , selama beberapa waktu , di mana / tempat , di sini , atas , bawah , jauh , dekat , samping, dalam , tidak, mungkin , bisa, karena , jika , sangat, lebih , jenis , bagian dari ; seperti.)

 

Lima puluh delapan contoh tersebut mewakili atom makna yang telah dipastikan tidak bisa didefinisikan dan dapat digunakan untuk mendefinisikan makna kata yang lebih luas.

Definisi dalam NSM adalah parafrase reduktif (reductive paraphrase) dari makna hal/kata atau ungkapan yang akan dijelaskan (definiendum). Reduktif maksudnya memasukan makna komponen primitif sedangkan parafrase berisi tentang penjelasan tekstual makna yang tidak semudah hanya dengan mendefinisikan melalui sinonim atau mendefinisikan melalui jenis dan pembeda, meskipun di dalamnya nanti terdapat dua struktur ini tetapi berisi kalimat yang akan menjelaskan makna. Contoh :

Sun

Something

People can often see this something in the sky

When this something is in the sky

People can see other things because of this

When this something is in the sky

People often feel something because of this (Wierzbicka 1996: 220)

X was watching Y =

For some time X was doing something

Because X thought:

When something happens in this place

I want to see it

Because X was doing this, X could see Y during this time.

(Goddard 2002: 7; cf Wierzbicka 1996: 251)

Walaupun primitif semantik dapat digunakan untuk mendefinisikan kosakata dalam bahasa tetapi dia sendiri tidak mungkin didefinisikan menjadi lebih sederhana lagi. Op. Cit., Nick Riner, Introducing Semantics, h

Dalam analisis semantik menurut NSM yang berisi penjelasan hal/kata atau ungkapan yang akan dijelaskan supaya lebih sederhana serta dapat dipahami dari hal yang akan didefinisikan. Lima puluh delapan primitif semantik yang telah disebutkan seharusnya bisa menjadi perwakilan untuk mendefinisikan hal yang akan didefinisikan, sementara primitif semantik sudah tidak bisa didefinisikan lagi. Berbeda dengan NSM yang masih memberikan kemungkinan semantik primitif untuk didefinisikan melalui metalinguistik menjadi lebih sederhana. Teori NSM mengklaim sesuatu yang tidak bisa didefinisikan karena status mereka sebagai primitif konseptual, dimana primitif sebagai sebuah hipotesis untuk mengekspresikan hal-hal yang lebih mendasar yang bersifat umum. Setiap natural language mempunyai konsep primitif semantik yang identik dengan konsep leksikal bahasa itu tumbuh dan berkembang.

Natural Semantic Matalanguage sangat universal dan bisa diterapkan dalam bahasa apapun, teori ini mencoba mencari tahu apakah setiap bahasa memiliki unsur primitif. Sifat universal dari teori NSM, sehingga teori ini dapat dipakai dalam penelitian lintas linguistik, ketelitian merupakan keuntungan teori ini sebagai teori yang digunakan dalam mendefinisikan makna. Teori NSM memiliki seperangkat alat untuk menjelaskan makna baik itu makna kata sulit, lintas linguistik ataupun kata yang berisi informasi budaya.

Pada kenyataannya beberapa ahli linguistik menemukan teori NSM sangat bermanfaat sebagai alat untuk menganalisis serta menginterpretasikan aspek makna, metode ini pun sangat tepat guna atau praktis.

  1. Masalah Definisi

Sejauh ini kita semua dapat mengasumsikan bahawa sangat memungkinkan memberi definisi pada kata dalam segala kasus. Tetapi pemberian definisi bukan berarti tidak menemui kendala ataupun pertentangan di kalangan masyarakat linguistik.

Kritik yang sering muncul terhadap teori definisi dalam semantik yaitu kurang memuaskan definisi kata yang dihasilkan atau di formulasikan. Sikap skeptis tentang eksistensi definisi yang muncul sangat luas, pada kenyataan para peneliti dari berbagai disiplin yang masih ada hubungannya dengan bidang linguistik mengabaikan teori definisi. Sikap skeptis ini muncul, karena mereka beranggapan teori definisi yang dikembangkan dalam bidang linguistik lalu diterapkan dalam bidang lain akan memunculkan makna yang menyesatkan. Penolakan terhadap teori definisi yang dilakukan oleh ahli dari bidang non linguistik ini dilatarbelakangi oleh berbagai motivasi, ini adalah sikap pertahanan untuk menolak teori definisi. Permasalahan yang muncul karena mereka menganggap definisi juga harus memperhatikan dari segi psikologistik yang mencerminkan  struktur dari konsep definisi.

Sebagai contoh kata Bachelor  dalam bahasa Inggris merupakan gabungan dari konsep tidak menikah”unmarried” dan laki-laki “man”, secara bersamaan kata “Bachelor” dapat di definisikan laki-laki yang tidak menikah “unmarried man” 

Kasus klasik dalam memberikan definisi seperti yang telah dicontohkan dengan kata “bachelor yang di definisikan sebagai laki-laki yang tidak menikah, ini merupakan definisi yang terdapat di dalam kamus. Permasalahannya adalah banyak tipe laki-laki yang tidak menikah. Alhasil kata”unmarried man” tidak bisa disubtitusi dengan kata “bachelor”, dalam hal ini pemberian definisi pun telah gagal. Wierzbicka dalam Riemer manyebutkan bahwa definisi yang tepat adalah dengan menggunakan kata-kata yang biasa dan umum dipakai tidak seperti sebuah pernyataan yang kita baca di kamus. Salah satu respon terhadap kritik konsep definisi adalah definisi hanya menangkap bagian dari inti “core”, pusat “central”, dan bentuk asli “prototypical” dari makna hal yang akan dijelaskan dan apabila pemberian definisi mengalami kegagalan, maka akan melibatkan semua aspek yang terkait dengan definisi.

  1. Definisi, Pemahaman, dan Penggunaan[8]

Dalam kehidupan dan aktifitas manusia, fungsi definisi adalah sebagai penjamin bahwa bahasa itu digunakan secara konsisten. Di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, definisi merupakan hal yang sangat penting dan utama. Misalkan jika tidak ada pemahaman definisi mengenai tembaga atau besi maka akan mustahil jika seorang ilmuan atau ahli membicarakan kedua objek tersebut.

Contoh kasus yang sering ditemui ketika menggunakan bahasa, bisa sama ataupun berbeda. Biasanya beberapa contoh percakapan dalam bahasa memerlukan definisi eksplisit, hal ini diperlukan ketika mengalami kebingungan. Ketika bertanya untuk mengklarifikasi bagaimana penggunaan kata yang tepat, definisi nominal makna kata tidak selalu tersedia. Misalnya ketika akan mendefinisikan arti air sebagai H2O namun penerima tidak memiliki pengetahuan tentang istilah-istilah Kimia maka tidak akan efektif dalam mewujudkan pemahaman tentang makna kata itu.

Definisi menempati posisi utama dalam berbahasa, apabila kita menganggap bahwa konsep sangat penting dalam memberi definisi dan mengasumsikan bahwa konsep ada di dalam makna kata. Jika konsep berhubungan dengan makna kata dan makna kata dapat di tangkap oleh definisi, lalu definisi inilah yang akan mengaktifkan sense selama bahasa dipakai. Untuk menanyakan apakah definisi selalu terlibat dalam penggunaan bahasa maka jawabannya adalah sangat terlibat. Mungkin banyak dari kita yang sering menggunakan kata kurang tepat, serta tidak bisa mendefinisikan dengan tepat, secara tidak sadar pengetahuan membuat kita menggunakan kata dengan benar tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mendefinisikan secara eksplisit. Oleh karena itu, pemahaman tentang definisi itu sangat penting begitu pula penggunaannya. Karena pada dasarnya definisi membantu pengguna bahasa dalam memahami makna.

PENUTUP

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa konsep makna dan definisi berbeda namun sangat erat hubungannya. Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja  yang dituturkan, dalam hal ini definisi sangat berperan dalam memberikan konsep teori pembentukan makna.

Pembentukan kamus memberikan informasi secara rinci terhadap suatu kata baik secara gramatikal maupun phonologinya. Adapun kamus yang dibedakan dengan tesaurus. Di dalam kamus dapat dicari informasi tentang makna kata, sedangkan di dalam tesaurus dapat dicari kata yang akan digunakan untuk mengungkapkan gagasan pengguna.

Dalam berbagai cara mendefinisikan makna dapat dnyatakan oleh beberapa definisi, yaitu Definisi Real dan Nominal, definisi dengan menyebutkan salah satu katanya (ostension), definisi dengan sinonim, definisi dengan konteks atau contoh khas, definisi oleh genus (jenis) dan differentia (pembeda). Pemahaman tentang definisi itu sangat penting begitupula penggunaannya. Karena pada dasarnya definisi membantu pengguna bahasa dalam memahami makna.

DAFTAR PUSTAKA

 Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta, Rineka Cipta.

___________. 2007. Linguistik Umum. Rineka Cipta.

Riemer, Nick. 2010. Introducing Semantics. Cambridge Universty Press.

Pusat Bahasa. 2008. Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

___________. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

[1]Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Pusat Bahasa,  (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008)

[2]Abdul Chaer, Linguistik Umum.  (Rineka Cipta, 2007),  h.163.

[3]Op. Cit., Chaer, PengantarSemantik Bahasa Indonesia, h 75.

[4]Op. Cit., Nick Riner, Introducing Semantics, h.56.

[5] Op. Cit., Chaer, Linguistik Umum,  h. 290.

[6]Op. Cit.,Chaer,  PengantarSemantik Bahasa Indonesia, h.73.

[7] Op. Cit., Nick Riner, Introducing Semantics, h. 70-76.

[8] Ibid., h. 79

Selengkapnya bisa di lihat di bawah ini

Makalah Makna dan Definisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s