Jejakku: PENGALAMAN YANG MENGUBAHKU

Pengalaman adalah hal yang luar biasa. Dulu aku adalah seorang yang introvert, tidak pintar berbicara, dan tidak berani tampil di depan banyak orang. Begitu pun ketika aku berada di rumah, keseharianku adalah berdiam diri di kamar, membaca, berimajinasi, dan menulis. Sahabat setiaku adalah jemariku sendiri. Bermain bersama tinta atau pensil merah yang sedang ngetren pada saat itu. Mungkin aku tak sepintar para penulis novel seperti Helvi Tiana Rosa, Asmanadia, dan Habiburrahman. Atau pun tak sejenius para sastrawan angkatan 20 hingga sastrawan zaman sekarang. Aku hanya penikmat imaji, sang pendiam yang menari bersama diksi.

Dulu apa yang aku lakukan adalah apa yang temanku lakukan. Maksudnya hanya ikut-ikutan saja. Jika temanku memilih A maka aku pun memilih A, begitu pun ketika temanku memilih B, aku pasti pilih B. Tapi itulah proses, namun kini aku bisa memilih mana saja yang aku mau.

Semua berawal dari yang namanya “sastra”. Tak sengaja aku masuk Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Awalnya aku lebih suka Biologi karena guru Biologiku ketika SMP amat sangat inspiratif dan memotivasiku untuk menyukai Biologi, sempat kecewa ketika pilihanku tak bisa aku raih, tapi aku tetap mengikuti arus yang sudah aku selami.

Di kampus baruku, kampus Islam yang berada di Ciputat aku bertemu sahabat-sahabat yang hebat, mereka teman sekelasku, mereka pintar, rajin, dan luar biasa. Ada yang ahli dalam berdebat, ahli dalam menulis, ahli dalam memotivasi, ahli dalam mengemukakan ide, ahli dalam berkomunikasi, dan banyak lagi. Aku sempat tak percaya diri pasti, mereka terlihat hebat di mataku, sedangkan aku apa?

Kegalauanku membuatku terus berpikir, apa yang harus aku lakukan? Hingga terbersit dalam otakku, bahwa aku harus mencari apa yang aku mau, dan akhirnya aku memilih hal yang aku suka yaitu tarian. Aku bergabung menjadi anggota tari Saman di Fakultasku, yaitu di Pojok Seni Tarbiyah. Di sana aku bahagia, walaupun tetap dengan gaya pendiamku. Namun rasanya masih belum puas, aku pun ikut UKM Teater Syahid. Di situlah aku mulai belajar yang namanya percaya diri. Teater adalah tempatku mengenal siapa aku, mengenal apa yang aku mau, mengenal kata kerja keras, megenal kata kesederhanaan, mengenal  kata kebersamaan, dan mengenal kata persaudaraan, di sana aku banyak belajar.

Pertunjukan teater bukanlah hal yang main-main. Panggung pertunjukan menjadi hal yang sakral bagi para aktor.  Aku tahu itu karena aku sempat melalui proses menuju panggung pertunjukan. Sebenarnya semua pertunjukan, apapun itu bentuknya, baik teater, tarian, atau musik, semuanya harus melalui proses latihan. Proses latihan menjadi sangat penting dan memengaruhi keberhasilan sebuah pertunjukan.

*Sedikit mengulas ingatanku ketika latihan teater, saat itu aku seperti para penari yang menari-nari di atas langit ketujuh, bebas dan tak ada yang melarangku, berteriak sesukaku, berlakon sesuai apa yang aku inginkan, mengenali siapa aku dan jemariku, mengenal malam, merasakan segala hal, dan melantunkan kata-kata yang aku suka. Dunia imaji, ya dunia yang ingin selalu aku geluti. Ya, aku menikmati saat-saat itu, amat sangat menikmati.

Kini aku membuka Seni Teater di sekolah baruku. Ilmuku memang amat sangat sedikit tentang seni pertunjukan, namun aku tidak akan berhenti belajar, karena aku suka.

Apa yang aku tuliskan adalah pengalaman. Pengalaman yang membuatku keluar dari sangkar, mengenal segala rasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s