Pemuda dalam Memaknai Kemerdekaan

Tanggal 17 Agustus menjadi tanggal yang paling bermakna bagi bangsa Indonesia. Di mana nama Indonesia diproklamirkan dengan gagah oleh presiden pertama kita, yaitu Ir.Soekarno. Memperingati hari kemerdekaan menjadi hal wajib bagi masyarakat Indonesia, tidak hanya mengikuti upacara kenaikan sang saka merah putih, namun juga berbagai lomba yang tidak luput untuk diikuti. Dari anak-anak hingga  mereka yang berusia lanjut ikut serta memeriahkan peringatan tersebut. Tentu saja sosial media akan dipenuhi ucapan-ucapan tentang kemerdekaan, dari facebook, twitter, path, instagam, youtube, dan media sosial lainnya. Namun, apakah makna kemerdekaan cukup dengan mengikuti upacara bendera, kegiatan perlombaan tujuh-belasan, atau mengucapkan kata “meredeka” di media sosial? dan Apakah arti kemerdekaan sebatas pada tanggal 17 Agustus saja? Bukankah sudah seharusnya kita merenung sejenak untuk memikirkan jawabannya.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kemerdekaan berati bebas. Lalu  makna apa yang bisa diambil dari kata kemerdekaan? Bisa saja kebebasan dalam hal berpendapat dan kebebasan dalam melakukan hal apa pun tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun. Kemerdekaan dihubungkan dengan penjajahan, jika masih ada penjajahan maka negara tersebut masih belum dikatakan merdeka. Lalu apakah negeri tercinta kita Indonesia dapat dikatan sebagai negeri yang bebas dari penjajahan? Sayangnya Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka. Secaa tertulis Indonesia memang sudah merdeka, namun secara tersirat kita masih dijajah oleh mereka yang mengeruk sumber daya negeri ini. Masih ingat berita penambangan emas di Papua, penambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit di kalimantan, penjualan pulau-pulau kecil untuk asing, dan baru-baru ini proyek reklamasi di Jakarta. Bukankah hal itu sudah menjadi bukti bahwa negeri ini masih terjajah oleh asing, hanya saja dengan metode yang berbeda. Imbas dari pengerukan sumber daya tersebut tentu rakyat Indonesia. Kerugian itu akan dinikmati oleh anak cucu kita, sehingga kemiskinan menjadi momok di masa depan nanti.

Sudah saatnya mengubah pola pikir dan kebiasaan, karena kemerdekaan bangsa inidonesia tidaklah diraih dengan mudah melainkan dengan perjuangan dan kerja keras. Apa jadinya jika tunas bangsa memiliki karakter pemalas, lebih memikirkan kesenangan dan gaya hidup yang serba instan. Umumnya pemuda saat ini lebih memilih duduk santai di depan laptop, ponsel,  play station demi kesenangan sesaat. Mereka lupa tentang arti kerja keras dan perjuangan yang sesungguhnya. Otak mereka seolah terbelenggu dengan kesenangan yang harus terpuaskan.  Berbeda dengan pemuda pada saat masa penjajahan.  Pemuda terdahulu membela tegaknya nama Indonesia dengan cara berkorban segenap jiwa raga mereka. Sayangnya pemuda saat ini belum mampu menjadikan sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pelopor untuk menjadi pemuda yang berkualitas. Kemerdekaan yang seharusnya dimaknai dengan semangat dan tekad yang kuat malah dinodai dengan tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Tampaknya saat ini kita membutuhan para pemuda yang berpikir ke depan demi kemjuan bangsa Indonesia. Para pelopor yang memiliki semangat juang dan tekad yang tinggi, terutama mereka yang kreatif dan inovatif.

Para pelopor tidak terlahir dari sosok yang pemalas. Mereka memiliki karakter dan kebiasaan yang patut kita contoh, salah satunya kebiasaan membaca. Membaca adalah kegiatan yang dapat menambah ilmu dan informasi tentang segala hal. Membaca memberikan manfaat yang luar biasa, dengan membaca seseorang akan terhindar dari kebodohan dan bahkan akan memiliki intelektualitas yang tinggi. Presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno memiliki hobi membaca, tidak hanya membaca buku dalam negeri saja melainkan buku-buku luar yang memengaruhi pemikiran  Bung Karno dalam membuat kebijakan di pemerintahannya. Bung Karno mengaku, bahwa ia gemar membaca karena sumber semangat adalah ilmu pengetahuan. Ternyata tidak hanya sosok Soekarno yang menjadikan membaca sebagi kegemarannya, yaitu di antaranya Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan Tjokroaminoto. Bukankah sudah seharusnya kita mencontoh hal positif tersebut.  Dengan mengutip pesan Bung Karno bahwa, “sumber semangat adalah ilmu pengetahuan” maka kegiatan membaca menjadi sangat penting bagi generasi  bangsa, terutama semangat juang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bagaimana bisa negeri ini menjadi negeri yang maju dan sejahtera jika para pemuda lebih memilih duduk santai menikmati permainan teknologi yang membelenggu mereka. Apakah bisa seorang anak menjadi seorang presiden jika setiap lima jam sehari bermain play station atau game online? Apakah banyak dari para pengusaha yang sukses saat ini terlahir dari pola hidup yang santai dan dipenuhi cerita romantika kaula muda? Tanyakanlah pada mereka yang saat ini telah menjadi orang yang sukses karena membaca. Tanpa uang mereka mampu belajar di luar negeri dan bahkan menjadi orang ternama. Sudah saatnya kita mengubah pola pikir yang sederhana menjadi lebih kreatif dan inovatif. Tidak hanya menjadi penikmat teknologi melainkan yang membuat teknologi tersebut, tidak hanya menjadi pemuda yang tahu nama-nama artis dalam negeri dan luar negeri melainkan mereka yang mengenal para pahlawan yang sudah berjasa demi berdirinya negeri ini. Mulailah berpikir demi tanah air tercinta kita, demi anak cucu kita juga. Menjadi pelopor seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan para pahlawan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s